Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 20


__ADS_3

tak terasa usia pernikahan kami sudah memasuki satu tahun, tapi sampai saat ini kami belum di berikan oleh sang pencipta seorang anak, siapa yang tak menginginkan seorang anak dalam pernikahan? semua orang juga menginginkannya, begitupun aku dan juga suamiku.


karena hal itu kembali aku di gunjingkan. aku sangat heran dengan semua orang, mengapa mereka selalu saja hanya dapat mengkritik kehidupan orang lain, seperti sekarang, setiap kali aku dan bang angkasa berkunjung ke kampung halaman mertuaku, para saudara dan juga tetangga mertuaku dengan terang terangan menggunjing ku,


" sayang, jangan terlalu di pikirkan ucapan mereka yah, bagi Abang yang terpenting sekarang dan selamanya kamu selalu ada di samping Abang hmm...." dengan lembut bang angkasa mengucapkan kata kata tersebut,


" aku merasa tak sempurna bang, aku...aku...aku.. takut hiks..hiks..hiks.." aku menangis tak sanggup melanjutkan kata kataku.


POV Angkasa


wanita ku menangis mendengar semua omongan saudaraku, mereka menyalahkannya, padahal kami sudah memeriksakan diri dan semuanya baik baik saja.


" dengar sayang Abang lebih membutuhkanmu dari pada seorang anak, jika dengan memiliki anak Abang akan kehilanganmu, lebih baik kita tak memilikinya sayang." aku memeluknya berusaha untuk menenangkan hatinya.


" jika...jika suatu saat Abang sudah lelah menungguku memberikan anak, jangan menghianati aku bang, jujurlah maka aku akan melepas mu dengan ikhlas.


tak tahan mendengar ucapannya aku langsung menciumnya lembut tanpa ada na**u, meluapkan segala rasa yang aku punya, memberitahunya bahwa aku tak akan pernah meninggalkannya.


aku menyudahinya, menatap dalam matanya yang menatapku sendu ada air mata yang mengalir di pipinya, pipinya yang dulu terlihat berisi kini sudah terlihat sedikit tirus, rasanya aku ingin menghajar mereka semua yang membuat wanitaku menangis seperti ini. aku memeluknya sampai dia tertidur, setelah memastikan istriku sudah terlelap aku menyelimutinya dan pergi ke luar kamar, saat aku tiba di ruang tamu semua mata memandang ke arahku


" mana istrimu nak" wanita yang berstatus istri ayah ku bertanya padaku


" tidur " dengan singkat aku menjawabnya


" istrimu itu memang tidak sopan, saat yang lain berkumpul bersama dia dengan tidak tau diri nya pergi tidur." suara nenek yang kesal terdengar di telingaku


" untuk apa dia berkumpul jika kalian hanya tau memojokkannya" jawabku dengan ketus serta dengan wajah datar dan dingin.


" berani kamu berkata begitu pada nenek, wanita itu memang membawa hal buruk untukmu" bentak nenek padaku


" Bu sudahlah" ucap Ayah berusaha menengahi.


" angkasa duduk lah dulu nak, kita berkumpul di sini untuk memperkuat persaudaraan bukan untuk berselisih" dengan suara pelan ayahku berusaha meredamkan gejolak amarah yang bersemayam di dada ku.


terdengar sebuah suara yang mengucapkan salam, kemudian di susul oleh sebuah keluarga yang masuk menuju ruang tamu, dengan semangat nenek langsung beranjak dari duduknya menghampiri keluarga Arum yang datang berkunjung. aku tidak tahu dengan tujuan apa keluarga Arum sampai berkunjung ke sini setelah mereka tadi menghakimi istriku.


" silahkan duduk pak" nenek mempersilahkan kakek dari Arum untuk duduk.


setelah semua tamu duduk mereka mulai berbincang entah membicarakan apa, aku tak terlalu pusing memikirkannya.


" mana istrimu bang, mengapa dia tidak ikut berkumpul, apa kamu tidak membawanya?" tanya Arum dengan suara sedikit keras yang membuat suasana seketika menjadi hening


" istirahat di kamar" jawabku dengan dingin.

__ADS_1


" bukankah lebih baik berkumpul bersama dulu bang" tanyanya berusaha bersikap lembut padaku.


" bukan urusanmu Arum, berhenti menanyakan tentang ISTRIKU" ucapku dengan menegaskan kata istriku padanya


" dimana sopan santun mu angkasa, bukankah aku mengajarkan mu untuk bersikap sopan pada tamu" ucap ayah dengan tegas.


" aku pergi" pamit ku dengan beranjak meninggalkan mereka di ruang tamu menuju kamar.


ku lihat istriku masih nyaman mengarungi mimpi, dengan perlahan aku menaiki ranjang dan memeluknya, tak lama aku terlelap karena rasa lelah yang menderaku.


POV Angkasa berakhir


author POV


" ini sebabnya dulu aku tak merestui pernikahan mereka Hartono, perempuan itu membawa hal buruk untuk anak mu, dia juga tidak bisa memberikan anak dalam setahun pernikahan mereka" dengan kesal Bu Ratmi nenek dari angkasa menyuarakan isi hatinya


" sudah lah Bu, ini juga kan akibat dari peraturan desa, lagi pula mereka sudah saling mencintai" ucap Hartono pada ibunya


" hah... coba saja Arum yang menjadi menantu di keluarga ini" ucap Ratmi sambil mengelus lembut punggung tangan Arum dan memandangnya dengan raut wajah menyesal.


" maafkan saya Bu, ini semua terjadi akibat keputusan saya " ucap Handoko kakek Arum dengan nada menyesal. dia menyesal karena melepaskan angkasa pria mapan dan tampan pada perempuan lain.


" kalau saja waktu bisa di putar, mungkin Arum dan bang angkasa sudah memiliki seorang anak" ucap Arum dengan nada sendu.


" jangan berandai andai Arum, ini sudah takdir dari sang pencipta" ucap Ningsih ibu sambung angkasa menimpali ucapan Arum.


" aku tak setuju Bu, pernikahan bukanlah suatu permainan dan aku tak merestui sebuah perceraian ucap Hartono tegas


" aku menginginkan seorang cicit hartono" Sembur ratmi dengan kesal


" ibu sudah mendapatkan seorang cicit dari Anisa Bu" terang Hartono


" Anisa itu perempuan, anaknya bukanlah seorang yang akan meneruskan garis keturunan keluarga kita Hartono, anak Anisa akan mengikuti garis keturunan suaminya dan itu berarti dia akan menjadi orang asing


" apa nenek akan kembali merusak kebahagiaan adikku?" tanya Anisa kesal.


" apa maksudmu berucap demikian Anisa, nenek hanya berusaha membahagiakan adik mu angkasa, dengan memiliki anak tentu dia akan bahagia" sangkal Ratmi pada cucunya Anisa


" berhentilah untuk mencampuri kehidupan keluarga keturunan mu, selama dua puluh lima tahun aku tak pernah melihat senyum adikku, setelah menikah dengan Adara dia sudah banyak tersenyum bahkan tertawa lepas, jangan lupakan apa yang menjadi penyebab adikku berubah dingin untuk waktu yang lama nenek, masa Bram ayo kita ke kamar, percuma kita bicara pada orang orang egois ini" Anisa mengajak suaminya Bramantyo untuk meninggalkan semua orang


sepeninggal Anisa dan Bramantyo tinggal lah Hartono, Ningsih ,Ratmi, Handoko, Samsul ayah Arum dan juga Arum di ruang tamu


" kamu lihat anak anak mu Hartono, mereka semakin berani pada ibu" bentak Ratmi kesal

__ADS_1


" Bu sudahlah, jangan merusak pernikahan anakku" ucap Hartono berusaha untuk membujuk ibunya


" ini tak bisa di biarkan Hartono, ibu tidak mau mati sebelum ibu melihat cicit ibu dari cucu lelaki ku." sela Ratmi


" masih ada Aditya Bu, puteraku dengan Ningsih dia juga cucu ibu.


" Aditya belum menikah Hartono, tak bisakah kamu mengerti permintaan ibumu nak" ucap Ratmi sedih.


" biar bagaimanapun Randi adalah cicit ibu meski dia terlahir dari putriku Anisa Bu, tak cukupkah dengan Randi ibu merasakan mempunyai cicit" bujuk Hartono


" tidak bisa Hartono,pokoknya Arum harus menikah dengan angkasa titik." tegas Ratmi.


" Arum akan mematuhi permintaan nenek, nenek tak perlu bersedih" ucap Arum lembut sambil mengusap bahu Ratmi dengan senyum cerianya.


" katakan saja padaku Bu Ratmi kapan kalian menginginkan pernikahan angkasa dan Arum di laksanakan, aku dengan senang hati memberikan cucuku Arum untuk menjadi cucu menantu mu meskipun menjadi yang ke dua" ucap Handoko dengan senyum lebar.


sementara Samsul dan juga Hartono serta Ningsih hanya bisa menghembus nafas dengan kasar, mereka bertiga tak habis pikir dengan pikiran Arum,Ratmi dan Handoko.


" ayah tolong jangan melibatkan Arum dalam pernikahan angkasa, aku tak ingin nanti anakku akan tersakiti, banyak pria yang menginginkan Arum untuk menjadi istri mereka ayah" bujuk Samsul pada mertuanya


" kamu tidak berhak untuk menyela Samsul, aku sudah kehilangan puteri ku karena menikah dengan mu, pria yang hanya bisa memberikan penderitaan untuknya, kalau saja kamu mampu untuk mencukupi semua kebutuhannya puteri ku tak akan meninggalkan ku dan cucuku akan memiliki seorang ibu.


" cukup ayah, jangan hanya menyalahkan ku, bukan kah ayah yang tak mengijinkan Desi untuk melakukan operasi ketika melahirkan Arum, hanya karena omongan orang yang mengatakan operasi itu berbahaya ayah tak mau melakukannya padahal Desi hanya bisa selamat dengan operasi." tegas samsul dengan kesal


" kalau kamu bisa memberikan gizi seimbang ketika Desi mengandung dia pasti punya cukup tenaga untuk melahirkan Arum" sangkal Handoko.


" terserah ayah mau beralasan apa, Arum ayah benar benar tak merestui mu menikah jika hanya menjadi perusak" ucap Samsul


" tapi Arum mencintai bang angkasa ayah" ucap Arum pelan


" itu obsesi bukan cinta Arum" tegas Samsul


" jangan meracuni pikiran cucuku Samsul" bentak Handoko


" terserah, jangan menyesal, kamu sudah dewasa Arum ayah sudah mengingatkanmu, ayah pergi" pamit Samsul sambil melangkah keluar.


" apa ayah akan pergi bersama wanita itu?" tanya Arum


" dia istriku ibu sambung mu Arum, bersikaplah hormat" tegas Samsul


" dia bukan ibuku, aku tak pernah merestuinya ayah sudah menghianati ibuku" ucap Arum.


sementara Samsul hanya melangkah meneruskan langkahnya ketika berhenti sejenak mendengar Arum.

__ADS_1


" semoga kamu tak menyesali keputusanmu nak, Desi tolong bujuklah Puteri kita, jangan membiarkan dia salah langkah sayang, aku mencintaimu kamu memiliki tempat tersendiri di hatiku, meski aku sudah menikah kembali tapi bagiku kalian berdua adalah istri yang sangat aku cintai sayang, maafkan mas jika menyakitimu, mas hanya ingin memulai hidup yang baru istriku" ucap Samsul dalam hatinya, sebuah harapan dan permohonan agar mendiang istrinya membantu anak semata wayang mereka walau hanya dalam mimpi.


POV author berakhir


__ADS_2