
aku membuka mataku, mengalihkan pandangan ke sekeliling kamar, ternyata hari sudah pagi mataku beralih melihat jam dinding sudah pukul delapan pagi, aku bangkit dari ranjang dan mencoba berjalan ke kamar mandi, rasa nyeri itu masih ada, tapi masih dalam tahap toleransi ku, pinggang ku juga sedikit terasa kram. aku berjalan tertatih menuju ke kamar mandi, syukurlah aku tidak merasakan mual, pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin karena semalam aku sempat Anfal. jadi ku putuskan untuk tidak mandi. setelah cuci muka dan gosok gigi aku bercermin sebentar, memandang wajahku yang sedikit pucat. sepertinya aku butuh make up saat ini. aku membuka pintu kamar mandi, berjalan dengan pelan. sambil memegang perutku, aku tahu terjadi hal buruk dengan bayiku.
aku mengangkat kepalaku, di sana di tengah pintu kamar berdiri terpaku sosok yang ku rindukan, rasanya aku ingin sekali berlari dan masuk dalam dekapannya, tapi sepertinya aku terpaksa mengurungkan niatku, pandangan matanya itu tak ku kenali. ingin rasanya aku menangis meluapkan kekecewaan ku, kenapa tak sedikitpun dia menanyakan tentang yang terjadi.
" Abang baru sampai atau sudah lama" ucapku dengan senyuman.
suamiku hanya diam, kemudian di menutup pintu kamar dan masuk ke kamar mandi. aku menghela nafas berat, ku siapkan pakaiannya meski dengan tubuh yang lemah, dan ku letakkan di atas kasur. aku sudah tidak kuat berdiri lagi, kemudian aku langsung mendudukkan tubuhku di kursi meja rias.
dengan tubuh yang berbalut handuk dia keluar dari kamar mandi. tanpa menghiraukan ku dan mengabaikan pakaian yang sudah ku siapkan dia berjalan menuju lemari mengambil pakaiannya dan masuk kembali ke kamar mandi. melihat sikapnya aku hanya mampu diam membisu.
tak lama dia keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang sudah rapih.
" Abang mau sarapan di kamar atau di meja makan?" aku mencoba membuka pembicaraan.
"diam dan keluarlah, aku mau istirahat" ucapnya kemudian langsung berbaring di tempat tidur
aku tak mengucapkan apapun, aku berjalan ke arah nakas mengambil ponsel dan juga bungkusan plastik yang berisi obat. dalam diam aku melangkah keluar kamar. aku berhenti sejenak menghapus air mata yang dengan lancangnya keluar membasahi pipiku. jangan tanyakan seperti apa rasanya, ini sangat sakit sekali, luka ini tak berdarah tapi mampu membuatku merasakan sakit yang tak terkira.
" loh non kok sudah turun, non masih sakit loh, itu wajahnya pucat sekali. bibi juga sudah bawa sarapan. masuk ke kamar saja non" bi Minah mengagetkanku.
__ADS_1
" aku bosan di kamar bi, aku pengen ke sarapan di taman belakang saja" ucapku pelan.
" kalau begitu non tunggu sebentar yah, bibi bawa turun dulu nampannya, jangan turun sendiri" pesannya padaku
aku hanya menganggukkan kepalaku pertanda setuju dengan ucapannya, rasanya di rumah ini hanya dia yang perduli padaku. tak lama dia sudah kembali menaiki tangga, bi Minah memapah ku untuk turun dari tangga. pelan pelan kami melangkah turun. berjalan ke taman belakang. aku kemudian duduk di sebuah kursi yang mengarah ke kebun bunga.
" ini non sarapannya, di habiskan ya dan itu obatnya nanti di minum Jangan cuma di pegang aja ha..ha. " dengan tawanya dia berusaha menyemangati ku.
aku mulai memakan sarapan yang di buatkan bi Minah untukku, sambil sesekali aku mengusap perutku, dalam hati aku membujuk mereka agar tak membuatku memuntahkan makanan ku pagi ini.
selesai makan aku hanya diam menatap hamparan bunga, aku teringat dengan mimpiku, membayangkan taman bunga yang ku mimpikan semalam. taman ini jauh ribuan kali di bandingkan taman bunga di mimpiku,
" non gak istirahat di kamar saja" tanya bi Minah yang tiba tiba muncul.
" bi.. dara istirahat di kamar tamu saja yah, dara capek naik lagi. kamar tamu masih ada yang kosong kan Bi?" tanyaku sambil menatapnya.
" ada sih non tapi kamar di paviliun belakang, memang non dara gak masalah tidur di sana?"
" gak apa apa bi, itu lebih baik dari pada naik turun tangga" ucapku lagi.
__ADS_1
bi minah kemudian mengantarku ke paviliun belakang. mungkin aku akan tinggal di sini saja sampai keadaanku pulih. lagi pula bang angkasa juga pasti lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit pikirku.
ternyata kamar ini sangat bersih dan nyaman, udara juga terasa sangat segar meski terasa dingin. aku langsung membungkus tubuhku dengan selimut.
" non kedinginan ya, mau bibi ambilkan jaket" tawarnya pada ku.
" gak usah bi, ini saja sudah cukup hangat"
" kalau gitu bibi tinggal dulu ya non. non pasti ngantuk habis minum obat" ucapnya sambil merapihkan selimut yang membungkus tubuhku.
bi Minah kemudian meninggalkanku sendirian di paviliun ini. mungkin karena efek obat, tak lama aku langsung tertidur.
POV Angkasa
aku melihatnya keluar dari kamar mandi, raut wajahnya sangat pucat dia juga melangkah sangat pelan, tapi hal iba yang ada pada hatiku dengan cepat tergantikan oleh rasa kesal padanya, aku bahkan tak memperdulikan nya, agar dia tahu kesalahannya. sampai saat ini dia bahkan tak berusaha untuk menjelaskan padaku, saat aku menyuruhnya diam dan keluar, aku pikir dia akan membujuk ku, tapi ternyata dugaan ku salah dia malah dengan cepat keluar dari kamar tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. setelah mengambil ponsel dan bungkusan plastik dia langsung meninggalkanku begitu saja.
aku mengepalkan tanganku rasanya aku ingin melampiaskan semua kekesalanku padanya. jika saja dia bukan istriku, aku pasti sudah menghajarnya hingga babak belur. Karen terlalu larut dalam pikiranku tanpa sadar aku terlelap, mungkin karena tubuhku terlalu lelah.
POV end
__ADS_1