Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 23


__ADS_3

aku berusaha untuk membuka mataku, pandanganku sangat silau, aku mengangkat tanganku untuk menghalau sinar yang membuat pandanganku terganggu


" Anda sudah bangun nona" suara seorang wanita terdengar lembut di telingaku.


" aku di mana?" tanyaku berusaha mengumpulkan kesadaran ku dan ku lihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri di sampingku


" Anda ada di rumah saya nona, apa yang anda rasakan saat ini" tanyanya


" kepala ku sedikit pusing dan perut bagian bawahku juga sedikit nyeri" jawabku


" syukurlah anda sudah lebih baik dan mereka masih bertahan" ucapnya dengan senyuman.


" a..apa maksudnya Bu?" tanyaku bingung


" jadi nona belum mengetahuinya?"


aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.


" apa anda ingin melihat mereka?"


" hah... melihat siapa?"


" yang sedang berusaha berkembang dalam rahim mu"


" apa a..aku?" ingin aku mengutarakan tapi aku takut,


" Anda sedang mengandung nyonya"


ucapan itu, adalah ucapan yang ku nantikan, apa semua orang akan bahagia mendengarnya, aku meragukan itu, tanpa terasa air mataku mengalir, antara senang dan sedih semua bercampur menjadi satu.


" ja..jadi hiks.. dia hiks.. sudah ada di sini Bu? tanyaku di sertai tangisan pilu.


" bukan hanya satu nyonya, kita bisa melakukan USG untuk melihatnya" tanyanya yang ku balas dengan anggukan saja,

__ADS_1


dia yang ku ketahui ternyata dokter spesialis kandungan, memperlihatkan padaku, bagaimana buah hatiku yang sedang bersemayam di dalam rahimku buah cintaku dengan suami yang sangat aku cintai.


" coba lihat mereka, ternyata mereka ada satu..dua..tiga..dan ahh ternyata anda mengandung empat bayi kembar nona muda keluarga Hartono" ucapnya tersenyum bahagia


degh... dia mengenalku, aku hanya menatapnya terpaku.


" siapa yang tidak mengenal anda nona, di desa ini anda dan juga tuan muda angkasa sangat di kenal di sini, anda dan suami anda berhasil membuka mata dan pikiran rakyat desa walau belum seluruhnya tapi mayoritas dari kami sudah mulai mengerti dan tak lagi menghakimi orang lain." jelasnya seperti mengetahui pikiranku


" di mana bi Minah Bu?" tanyaku setelah mendengar penjelasan beliau


" beliau langsung pulang dan memercayakan keselamatan anda pada saya nona, dia bilang ingin membereskan sedikit kekacauan yang ada di rumah. dia berat meninggalkan anda tapi dia memang harus pergi, keluarga Hartono dan disiplinnya tidak bisa di ganggu gugat nona" ucapnya sambil tertawa.


" tolong rahasiakan kehamilan saya dari siapapun Bu dokter, saya ingin memberikan kejutan untuk suami saya saat ulang tahunnya bulan depan" ucapku dengan tersenyum paksa, sebenarnya aku ragu untuk memberitahukannya. aku menjadi pesimis atau mungkin ini bawaan bayi pikirku.


" baiklah nona" ucapnya


"apa saya sudah bisa pulang Bu? tanyaku padanya,


" terimakasih Bu dokter" ucapku sambil tersenyum tulus,


" istirahatlah, saya tinggal dulu nona" pamitnya


aku melihat jam yang tertempel di dinding, ternyata sudah pukul sepuluh pagi, ternyata cukup lama aku tak sadarkan diri, pikiranku berkelana memikirkan nasib ku, keluarga Hartono adalah keluarga terhormat dan sangat menghormati nenek, apa pandangan mereka padaku nanti saat mengetahui akulah penyebab kecelakaan itu terjadi meski bukan aku yang mendorong nenek, tali jika aku tak meladeni ucapannya itu tak akan terjadi. bagaimana dengan bang angkasa, apa dia akan meninggalkanku. pikiran buruk mulai merasuki ku, tak terasa waktu berlalu tepat jam dua belas siang bi minah datang menjemput ku.


" bagaimana keadaan non dara, sudah lebih baik ?apa kata dokter Mira non? tidak ada yang serius kan non?" bi Minah memberondong ku dengan banyak pertanyaan.


" aku gak apa apa bi" ucapku


" tapi tadi ada darah" ucapnya bingung


" biasa bi" jawabku berusaha santai


" ohh...bibi ngerti kok, memang sakit kalau itu datang ha..ha.. bibi panik" dia tertawa lucu menertawakan pemikirannya sendiri

__ADS_1


aku hanya diam membiarkan pikirannya berkelana, biarlah ini menjadi rahasiaku, banyak hal yang harus aku perhitungkan, niat nenek yang berusaha menjatuhkan ku, cicit hanyalah sebuah alasan, dia hanya berusaha mencari jalan agar aku berpisah dengan cucunya karena dia menganggap aku hanya orang miskin yang berusaha memanfaatkan kekayaan keluarganya.


(sayang bunda kalian yang kuat ya nak, jika ayah melepaskan kita, bunda akan berjuang untuk kalian semua, kalianlah belahan jiwa bunda yang sesungguhnya) aku hanya bisa bergumam dalam benakku. biarlah waktu yang akan menentukan kemana takdirku akan melangkah.


" ayo kita pulang non, jangan pikirkan apapun, bibi yakin tuan muda tidak akan berfikir yang macam macam, lagi pula bibi percaya bukan non yang menyebabkan hal itu terjadi" ucap Bi Minah berusaha membuatku tegar dan hanya dapat ku balas dengan senyuman.


kami langsung pulang setelah aku mengganti pakaianku yang tadi sempat di bawakan oleh BI Minah, kami di antar oleh supir keluarga dokter Mira menggunakan mobil miliknya. sesampainya di kediaman keluarga Hartono ku lihat mereka masih belum pulang, hanya ada beberapa pekerja.


dengan lesu dan hati hati aku melangkah memasuki kamar, aku duduk di ranjang dan terdiam mengingat semua perjalanan hidupku, ku dengar pintu kamar yang terbuka ternyata di sana bang angkasa berdiri di depan pintu menatapku dengan dingin dan wajah datar, aku berdiri menghampirinya


" bagaimana keadaan nenek bang" tanyaku pelan.


" bukan urusanmu" jawabnya datar.


degh...


aku hanya diam, berdiri mematung melihatnya berjalan ke arah kamar mandi, kembali denyutan itu aku rasakan dari perut ku,


" tidak apa apa sayang, jangan sedih kalian kuat nak, ayah hanya sedang sedih" ucapku lirih sambil mengusap perutku dan menghapus air mataku, aku duduk di ranjang menatap pintu kamar mandi, ingin rasanya aku melangkah tapi rasa nyeri di perutku tak bisa ku abaikan, aku meminum obat yang tadi di berikan oleh dokter Mira, kemudian merebahkan tubuhku ke ranjang meresapi nikmatnya rasa sakit dan perjuangan seorang ibu.


aku mendengar pintu kamar mandi terbuka, aku tak bisa beranjak, meski sudah meminum obat, tapi rasa nyeri itu masih ada, aku tak boleh egois, aku memilih memejamkan mata, biarlah suamiku mengambil pakaiannya sendiri, dia pasti mengerti kondisiku, dengan percaya diri hati ku menyakinkan bahwa suamiku sangat mengenalku ketika aku sakit.


aku mendengar langkah kaki mendekat ke arahku, aku tersenyum dalam hati, bang angkasa masih memperhatikanku.


" aku tak menyangka dara, di saat nenek dalam keadaan kritis kamu dengan tanpa rasa simpati memilih tidur dari pada menyusulnya. kau benar benar mengecewakanku dara,kebiasaan ku yang menjadikan mu ratu di hidupku membuat mu melewati batas mu" dengan lirih bang angkasa mengucapkannya dan langsung berlalu tanpa menoleh lagi, pintu kamar di tutup dengan keras, tak lama ku dengar suara mobil melaju meninggalkan kediaman.


" sungguh tega kamu bang, tanpa bertanya kamu menghakimi ku, hiks...hiks... bukan aku yang melakukannya bang, aku hanya membela diri" gumam ku di sertai isakan, ini sangat sakit aku merasa seperti di buang.


rasa sakit itu kembali terasa meski aku sudah meminum obat,


"anak bunda jangan sedih nak, kalian harus kuat di dalam sana, bunda tak mau kalian pergi, jadi bertahanlah untuk bunda nak" gumam ku sambil mengusap perutku, pandanganku mulai kabur dan juga tambah menggelap, aku tak sadar dalam baringan tubuhku di atas ranjang.


flashback off

__ADS_1


__ADS_2