
sakit itu yang ku rasakan, aku pergi sebelum mereka membuang ku, kini yang ku takutkan terjadi, perpisahan ini memang harus terjadi, kalau saja dari awal aku tau keluarganya tak merestui pernikahan ini, pasti aku tak akan melanjutkannya, saat itu hanya ada orang tua bang angkasa dan juga kakaknya, tak ada keluarga lain saat pembahasan tentang pernikahan kami di lakukan.
sebelum aku keluar dari rumah sakit, terlebih dahulu aku ke ruangan visum, aku melakukan berbagai prosedur. semua berkas itu sudah aku dapat kan. aku berlalu pergi tanpa niat untuk menoleh ke belakang, aku sudah tak perduli apapun yang keluarga angkasa lakukan, yang ku butuhkan saat ini hanyalah kekuatan untuk bertahan bersama buah hatiku.
dalam perjalanan menuju bandara suara ponsel ku terdengar, aku maraih nya dan melihat siapa yang menghubungiku, ternyata di sana tertera tulisan suamiku yang menandakan angkasa lah yang menghubungiku. aku langsung memutus sambungannya. dan memblokir semua nomor yang berhubungan dengannya.
setelah berfikir beberapa saat aku beranikan diri menghubungi Bu rianti.
ternyata panggilan yang ku lakukan langsung di angkat pada dering pertama.
" hallo dara, ada apa? tanya Bu rianti di seberang telepon
" tolong saya Bu hiks...hiks ." pintaku dengan Isak tangis
" kamu di mana dan minta tolong apa?
beginilah Bu rianti langsung to the poin
" bang hiks bang angkasa menikahi mantan tunangannya Bu, dan mengalirlah cerita dari awal hingga akhir yang terjadi di kampung halaman angkasa.
" tenanglah saya akan mengurus semuanya, bukankah saya sudah berjanji padamu. saya akan meminta ayu untuk memesan tiket pesawat, apa kamu tertarik untuk bekerja di luar negeri?
" saya tertarik Bu" ucap dara cepat.
" baiklah persiapkan dirimu lusa kamu,ayu intan dan Dira akan saya pindahkan ke negara i,
__ADS_1
" iya Bu, terimakasih banyak",
" berangkatlah dengan tenang, serahkan semuanya pada saya"
setelah mengatakan itu, Bu rianti langsung memutus sambungan telepon nya, dan dara kembali melamun dalam perjalanan menuju bandara.
POV Angkasa
angkasa masih bersimpuh meratapi kesalahannya, dia menyesal menyakiti orang yang dia cintai, tak hanya mengacuhkannya dia juga menghianati ya dan menyakitinya secara fisik dan batin.
" tuan muda sebenarnya ini ada apa tuan, mengapa non dara seperti itu", tanya bi Minah hati hati
" saya menyakitinya Bi, saya menghianati ya"
"kenapa, non dara itu orang baik, selalu ramah sama semua keluarga, meskipun selama ini keramahan yang di berikan non dara tak ada artinya bagi mereka, hanya tuan muda yang menerimanya, awal dia datang sebulan setelah kalian menikah tuan, non dara menceritakan kebahagiaanya akan sikap keluarga besar tuan, bibi juga tidak tau kenapa keluarga besar berubah sikap pada non dara sejak enam bulan yang lalu." jelas bi Minah sambil berfikir.
" bibi tak habis pikir tuan, tuan dan nona dara baru menikah setahun, sementara non Anisa setelah tiga tahun berumah tangga baru den Randy hadir, lantas mengapa mereka seakan menuntut non dara tapi tidak menuntut non Anisa, tidak bisakah mereka bersikap seperti mertua non Anisa tuan"
mendengar penjelasan bi Minah yang kulakukan hanya lah diam, meresapi kata yang setiap kali terucap olehnya, ada kesedihan yang aku rasakan dari setiap kata yang dia ucapkan Hingga hal yang baru ku ketahui membuat jantungku seakan berhenti.
" bibi yakin tuan, non dara tak akan mencelakai orang lain, non dara juga tak akan memulai pertengkaran. karena setiap nenek, paman, bibi dan sepupu tuan mencelanya beliau hanya diam tak membalas apapun tuan. jika memang beliau membalas itu artinya sudah di luar batas kesabarannya. kalau saja tuan tahu, bahwa ketika musibah itu terjadi disaat kalian semua sibuk mengurus nenek, nona dara mengalami pendarahan hebat sampai harus transfusi darah, bibi sudah terpikir bahwa non dara keguguran dari banyaknya darah yang terbuang saat itu. tapi beliau dan dokter tak mengatakan apapun pada bibi, waktu bibi tanyakan non dara hanya jawab bahwa ini hal biasa, bibi pikir itu siklus bulanan tapi jika memikirkan kembali darah yang terbuang itu tidak mungkin. apa tuan muda tahu ketika kedatangan tuan muda pertama kalinya saat malam hari non dara Anfal lagi tuan, bahkan jantungnya sempat berhenti. dan kedatangan yang ke dua kembali non dara pingsan. bibi ingin menanyakan tapi bibi takut menyinggung non dara tuan, apa saat itu non dara telah keguguran tanpa ada yang tahu?, tanya bi Minah.
mendengar penjelasan Minah rasanya aku ingin mati saja, suami macam apa aku ini, kondisi istriku yang sedang di ambang maut pun aku tak tahu, apa gunanya gelar dokter yang aku miliki. apa yang telah aku lakukan.
aku langsung meraih ponsel dan menghubungi dara istriku, tapi bahkan telepon sudah di putuskan sebelum di jawab, ku coba lagi ternyata sambungan operator yang ku terima.
__ADS_1
ketika aku ingin melangkah menyusul istriku ke rumah, ayah datang menghampiriku.
" di mana dara nak" tanya ayah pelan.
" untuk apa ayah menanyakannya, ini bukan yang kalian inginkan" jawabnya sarkas
" apa maksudmu" tanya ayah bingung
" kalian semua egois, selalu merenggut kebahagiaanku" jawabku sinis
" nenek ingin melihatmu nak" ucap ayah
" untuk apa? untuk memastikan dara telah membuang ku bukan. ha..ha.. aku tak menyangka memiliki keluarga seperti ini" jawabku tertawa miris.
" nanti kita urus masalah dara nak, yang penting kita fokus dulu pada nenekmu" bujuk ayah
" yahh,,, karena terlalu fokus pada nenek, istriku yang hampir di jemput malaikat maut pun aku abaikan, istriku wanita yang aku cintai hampir meninggal ayah. tapi apa yang kulakukan hanya bisa menuntut dan memarahinya ha..ha..ha" tawaku di sertai air mata, ini tangisan yang kesekian kalinya terjadi karena istriku. wanita satu satunya setelah ibu yang berhasil membuatku terpuruk.
" bang nenek tak mau di operasi jika belum melihat Abang" ucap Arum dengan nafas memburu.
" katakan padanya bahwa ANGKASA KURNIAWAN HARTONO telah mati setelah kepergian CAREEN ADARA istrinya" ucapku berlalu pergi.
tanpa memperdulikan apapun lagi, aku pergi dengan menyetir mobil seperti orang gila, banyak pengendara yang mengumpat padaku karena berkali kali hampir menabrak mobil lain tapi itu semua tak ku hiraukan.
hanya Adara yang saat ini memenuhi hati dan pikiranku, sesampainya di rumah aku berteriak memanggil istriku, tapi tak ada sahutan yang ku dapat. aku sudah menelusuri hampir seluruh ruangan yang ada, ketika tiba di kamar segera ku bongkar lemari, ternyata semua perlengkapan dan pakaiannya masih tertata rapi di tempat masing masing.
__ADS_1
karena terlalu lelah dengan semua yang ku jalani tanpa sadar aku tertidur.