Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 1


__ADS_3

Pagi telah tiba tepatnya pukul 05:30 wib aku telah bangun dan melakukan aktivitas ku kembali. Pagi ini aku memasak gulai ikan, petang kemaren ibuku membeli ikan untuk dimasak di pagi hari. Menu sederhana yang penting bisa makan dan tak kelaparan. Sepanjang yang kuingat selama tiga puluh dua tahun hidupku belum pernah sekalipun kami terlantar makan. Dengan lauk seadanya orang tuaku dapat mencukupi kebutuhan kami. Si bungsu sudah bangun dan langsung mandi. Seperti biasa pagi ini adik lelakiku yang bernama Rafi yang telah duduk di kelas satu sekolah menengah pertama langsung merapihkan tempat tidur kami dan juga menyapu rumah, adik bungsuku ini benar benar malas jika disuruh mencuci piring,ada saja alasannya untuk mengelak.


Selesai dia berkemas dia langsung ikut kami untuk sarapan bersama, sedari kecil kami selalu dibiasakan untuk makan nasi dari rumah, seperti biasa sarapan kami bukan seperti orang kota yang setiap pagi makan roti dan susu, kami selalu makan makanan berat untuk memulai pagi, kata ibuku agar tidak pingsan begitu katanya. Prinsip orang jaman dulu masih diterapkan. Kebetulan tetangga samping rumah sedang mengadakan syukuran untuk menyambut pernikahan putrinya yang akan di langsungkan satu Minggu lagi di daerah mempelai pria, sudah menjadi tradisi saat menikahkan putrinya yang jika resepsinya di wilayah si mempelai pria maka di rumah mempelai wanita hanya diadakan acara syukuran untuk memberitahukan kapan waktu keberangkatan kerumah mempelai pria, dan di sana lagi lagi aku ditanyakan " kapan nikah".Dan ya ampun tak tahukan mereka bahwa itu benar benar menyinggungku, memangnya menikah itu semudah membalikkan telapak tangan.


Inilah sebabnya aku tidak betah untuk tetap tinggal di desaku. Suasana ramai hari ini tak juga mengusikku. Karena kata yang sering kudengar itu aku bahkan enggan untuk bergabung dengan kumpulan muda mudi di sana, tak perduli jika aku dikatakan sombong. Asal aku tak menyakiti orang lain saja, susah bagiku untuk bergaul mereka bukanlah temanku tumbuh bersama, terkadang aku bingung dengan diriku sendiri,ketika aku tiba di desaku lima tahun yang lalu setelah merantau dari ibukota aku seperti orang yang susah bersosialisasi. Apakah mungkin karena kata keramat itu?. Aku seperti merasa hidupku benar benar terkekang. Banyak keinginanku yang belum tercapai membuatku enggan untuk berbaur dengan orang luar, saat aku ingin berbaur rasanya seperti ada yang mengatakan bahwa mereka bukanlah orang yang seumuran denganku.


Malam telah tiba keramaian yang ada di rumah tetanggaku pun kini tak terlihat lagi,bapak dan ibuku pun sudah kembali kerumah. Aku sebenarnya ingin menyampaikan kembali keinginanku,tapi melihat mereka yang lelah niatku ku urungkan. Mungkin besok aku dapat mencobanya lagi. Semoga saja keinginanku mendapatkan ijin dan restu.


Pagi ini setelah melakukan aktivitasku aku duduk lesehan di teras rumah memandangi anak anak kecil yang bermain dengan riang,yah hari ini bertepatan hari Minggu harinya libur, banyak anak anak yang bermain di rumah. Melihat mereka rasanya seperti ingin kembali ke waktu itu dimana ketika aku masih kecil yang kutahu hanyalah bermain. Tak memikirkan apapun, tak perlu mendengar kata yang seperti menuntut itu. " Dara jangan kebanyakan melamun kamu,bagaimana para pria dapat mengenalmu kalau kamu hanya diam diri di rumah, pergi main sana ajak temanmu" kata ibuku padaku." Aku gak punya teman di sini Bu, makanya ijinkan aku merantau agar aku dapat mencari teman dan jodoh" jawabku pada ibuku.


Ibuku hanya mengelus dada mendengar jawabanku. " Lagi lagi kamu ingin merantau memang sudah pasti kalau merantau dapat jodoh" sembur ibuku agak kesal padaku. Haha... Rasanya lucu ketika ibuku kesal...Upas dasar aku ini anak kurang ajar menertawakan ibuku rutuk ku dalam hati.


" Lah kan Bu di sini juga sudah lima tahun tak ketemu juga jodoh ku" jawabku pada ibuku." Makanya jangan bisanya cuma di rumah aja mainan hp, gak tau ibu kamu ngapain ja itu sama hp nanti kamu jadi gila gara gara itu hp" balas ibu ku kemudian. Wah si ibu bener bener deh menyumpahi anaknya gila, gak tau apa dengan berselancar di sosmed bisa sedikit mengurangi rasa stress dan jenuhku. Rutuk ku dalam hati.

__ADS_1


" Dara tolong benerin resleting celana dan sakunya juga" seru pamanku tiba tiba datang membawa beberapa pakaiannya untuk di permak. Ya sekarang aku masih belajar menjahit. Tapi job lagi sepi, jadi cuma bisa dapat permakan dari tetangga. " Ok paman taruh saja di sini nanti aku antar kan kerumah yaa" sahutku pada pamanku itu.


Sebenarnya keinginanku terbesar untuk merantau, aku sekalian ingin mengikuti kursus menjahit. Aku belajar menjahit dari tanteku. Hanya belajar otodidak saja sedikit sedikit di arahkan. Tapi rasanya aku tak puas dengan hanya itu saja. Aku ingin dapat sertifikat kalau rejeki kan bisa buka usaha kursus juga. Tapi rencana ku ini gak tau kapan terealisasi. Ijin dan restu belum juga ku peroleh. Dengan penghasilan yang tak seberapa gimana bisa maju? Bukannya tak bersyukur hanya saja kalau merantau ke ibukota setidaknya banyak konveksi yang menjamur. Kerja sambil belajar pasti lebih efisien.


Meski hanya dapat permakan beberapa celana dan baju tetap aku kerjakan dengan sepenuh hati. Lumayan nanti dapat beberapa ribu, paling tidak bisa beli bakso tusuk kalau pengen jajan agar tidak meminta lagi dari ibuku. Setelah selesai mempermak aku segera mengantarkannya ke rumah pamanku,"ini paman sudah selesai semuanya" ucapku sambil menyerahkan bungkusan plastik hitam itu. Kemudian pamanku memberi uang yang si gulung gulung. Memang jika pamanku ini yang datang mempermak baju aku tak pernah mematok harga." Terimakasih ya" ucapnya sambil menyerahkan uang yang di gulung tersebut." Kalau gitu aku langsung pulang saja ya paman terimakasih" ucapku pada pamanku.


Aku kembali berjalan pulang lewat belakang rumahnya yang ditumbuhi beberapa kelapa dan kelapa sawit. Desaku memang cukup asri masih banyak pepohonan yang tumbuh. Tapi juga cukup padat penduduknya. Sembari berjalan aku membuka dan menghitung gulungan uang tersebut,ternyata lumayan dapat limapuluh ribu rupiah dengan pecahan dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan. Selalu seperti itu, pamanku itu pasti selalu memberi lebih banyak daripada tetangga yang lain.


Malam pun tiba kami mulai beranjak untuk tidur setelah seharian ini menghabiskan waktu dengan bercengkrama bersama. Semoga hari esok lebih baik lagi.


Pagi ini aku bangun lebih cepat di karenakan musim panen padi yang kami nantikan telah tiba, aku mulai memasak makanan yang akan kami makan ketika sarapan bersama. setelah beberapa saat berkutat dengan bahan makanan masakan ku pun jadi.


Seperti biasa setiap musim panen tiba, aku dan ibuku berbagi tugas untuk menyiapkan makanan, aku memasak sarapan dan bekal sementara ibuku memasak mie kuah yang akan disantap oleh para tetangga kami yang ikut serta dalam panen kali ini. seperti biasa di desa kami setiap musim panen dan tanam padi para warga desa akan bergulir untuk saling bantu dalam melakukan pekerjaan di sawah.

__ADS_1


Sarapan sudah tertata rapi di atas tikar, bekal dan juga mie kuah yang akan di bawa ke sawah juga sudah di letakkan dalam beberapa wadah dan telah di bungkus rapi. Kami pun duduk bersama untuk menghabiskan sarapan bersama sebelum melalui aktifitas kami hari ini.


Selesai sarapan aku,ibu dan bapak bergegas ke sawah sedang kan adikku berangkat ke sekolah. cuaca pagi ini sangat cerah, mampu mengobarkan semangat kami untuk bekerja. Dengan berjalan kaki yang lumayan jauh melintasi perkebunan kelapa sawit dan ada sedikit bukit. Akhirnya kelompok kami tiba di sawah.


Setelah istirahat sebentar akhirnya kami kemudian memulai bekerja memanen padi.


tak terasa waktu sudah senja tepat pukul enam sore pekerjaan kami sudah selesai. panen kali ini lumayan memuaskan. Beberapa diantaranya kami setor ke tengkulak dan sisanya kami masukkan ke rumah.


setelah membersihkan diri kami berkumpul kembali di saat malam telah tiba, menyantap makan malam yang tadi sempat aku masak sesaat setelah tiba di rumah. selesai makan malam kembali aku mengutarakan niatku kepada ayah dan ibuku.


"ibu tak bisakah aku kembali merantau? aku sungguh sudah bisa. berada di desa" dengan pelan aku berkata pada ibuku. " baiklah jika memang benar kamu ingin merantau kembali. hanya saja ibu meminta kepadamu jagalah pola makan dan hidupmu, capai lah apa yang ingin kamu capai nak" ucap ibuku dengan penuh kasih. " sebenarnya ibu tidak mengijinkan mu pergi bukan karena ibu ingin memanfaatkan tenaga mu tapi karena rasa kekhawatiran ibu padamu nak, baik baiklah jaga diri jika kamu sudah di perantauan nanti." nasehat ibuku padaku.


Dengan rasa bahagia yang membuncah aku memeluk dan mencium ibuku. berharap semoga restu ini tidak di tarik lagi dan dapat memudahkan semua langkah yang kelak akan aku ambil. " terimakasih Bu" ucapku pada wanita yang telah melahirkan dan membesarkan ku.

__ADS_1


__ADS_2