Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 15


__ADS_3

selesai aku bersiap,aku langsung pamit pada mbak ayu dan mengatakan kalau aku akan pergi apartemen bang angkasa, dan Mbak ayu mengiyakan saja, mungkin dia berfikir kalau kami memang sudah menikah.


aku langsung bergegas ke ruang tamu, terlihat bang angkasa sedang duduk di sofa sambil bersandar, dia meletakkan tangannya di atas kening nya, mungkin dia lelah pikirku, sepertinya dia memang ketiduran, aku mendekatinya dan mengguncang bahunya pelan.


" Abang bangun..." panggilku pelan.


" hm..., sudah siap untuk berangkat? tanyanya sambil meregangkan otot tubuhnya


" kalau capek harusnya gak usah ke sini bang" ucapku padanya sambil mengusap pelan wajahnya.


" gak apa apa, Ayo kita berangkat" balasnya sambil meraih tanganku dan menggenggamnya


kami berdua berjalan menuju gerbang, setelah berada di luar gerbang aku langsung menguncinya. ternyata mobilnya di parkir di depan gerbang. kami pun masuk ke mobil, saat akan memakai sabuk pengaman, sepertinya agak macet, dia membantuku memasang sabuk pengaman tersebut. jarak antara aku dan dia sangat dekat. jantung ku rasanya berdetak dengan sangat cepat, posisi ini sangat canggung. tiba tiba dia mengecup bibirku cepat , aku membelalakkan mataku tak menyangka.


" agar tambah semangat" ucapnya sambil tersenyum menggoda .


" Abang ih... mengambil kesempatan dalam kesempitan." dengus ku kesal padanya.


" ha...ha...., tidak mungkin bukan aku membiarkan berlalu begitu saja" jawabnya sambil tertawa.


dia segera melajukan kendaraannya, butuh waktu empat puluh lima menit ternyata untuk tiba di sebuah gedung yang ku tahu merupakan apartemen elit di kota ini, aku hanya terbengong di buatnya


" bang kita gak salah alamat kan? tanya ku padanya


" memang kenapa sayang" malah di balas dengan tanya


" ini kan apartemen elit bang, yang bukan kaleng kaleng, di sini pasti sekelas sultan" jelas ku padanya.


" susah ayo masuk, sebelum itu kita mampir ke supermarket yang di lantai satu, di apartemen tak ada bahan makanan apa pun, kami bisa masak kan sayang? tanya padaku


" masakan kampung bisa bang " jawabku sambil tertawa canggung.


" itu juga sudah cukup" ucapnya lagi.

__ADS_1


kami berdua menuju supermarket yang tadi dia jelaskan. dia mengambil troli dan mengarahkannya menuju stand buah dan sayur,


" kamu mau makan apa hari ini sayang" tanya nya sambil memilih bahan masakan di depannya,


" selagi bisa dan layak di makan aku bisa makan apa saja bang, yang penting sudah matang" jawabku padanya.


mendengar jawaban ku dia pun langsung memilih apa saja yang di perlukan mulai dari bumbu dapur, sayur, ikan segar, daging, dan juga buah. setelah itu dia membawaku melangkah menuju stand makanan ringan.


" pilihlah mana yang kamu suka, sekalian untuk stok di kosan sama adik mu Indira" ucapnya padaku


" kamu kenal sama adik aku bang? tanya ku bingung sambil menatapnya


" aku sudah mengetahui semua tentang mu sayang, semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun" jelaslah lagi.


" oh yaa...?? tanya ku tak percaya


" kamu adalah anak pertama dari tujuh bersaudara, ketiga adikmu menikah dalam tiga tahun berturut turut, bapak dan ibumu bekerja sebagai petani ada beberapa ternak yang di tempatkan di belakang rumah, dua adik lelakimu yang telah berkeluarga tinggal di kota m sedangkan adik perempuanmu tinggal di kota p. masih banyak lagi yang ku tahu tentang mu sayang. apa perlu aku jelaskan satu persatu " ucapnya enteng sambil mengambil beberapa kotak susu cair dengan varian rasa cokelat dan putih.


" sudah tak usah terlalu di pikirkan lagi" ucapnya sambil mengusap kepala ku.


aku langsung memilih beberapa makanan ringan dan juga roti tak lupa beberapa botol minuman dalam porsi besar, mumpung di traktir pikirku, setelah selesai kami menuju kasir, dia mengeluarkan semua belanjaan dari dalam troli ke meja kasir. total belanjaan kami ternyata lebih dari dua juta, fantastis pikirku, belanja di pasar bisa dapat harga lebih murah berkali lipat meski harus kotor.


selesaikan belanja dia mengajakku menaiki lift kemudian menempelkan id card dan aku melihat tombol dengan angka 61 langsung menyala. wahh apakah apartemen yang kami tinggali berada di lantai itu, seberapa kaya suamiku ini. pikirku.


tak membutuhkan waktu lama akhirnya aku dan bang angkasa sudah tiba, ternyata lift ini merupakan pintu masuk, menakjubkan pikirku, tapi ku rasa aku pasti akan takut jika tinggal sendiri di sini, aku bergidik ngeri memikirkannya.


" selamat datang tuan" ucap seorang wanita paruh baya


" Bi ini istriku namanya Careen Adara, perlakukan dia sama seperti kalian memperlakukanku. wewenang akan di pegang sepenuhnya oleh istriku" jelasnya yang mengenalkan ku.


"salam kenal bi" ucapku ramah sambil mengulurkan tangan


" salam kenal nyonya muda saya Bi Ratih yang biasanya bersih bersih di sini nyonya" terangnya sambil menjabat tanganku dan tersenyum ramah.

__ADS_1


" tolong susun belanjaannya ya Bi kami mau ke kamar dulu" perintahnya pada Bu Ratih.


kemudian bang angkasa mengajakku ke kamar, kamarnya bernuansa putih dan abu muda, aku menyukainya, meski aku perempuan aku tak terlalu menyukai warna pink, aku lebih suka dengan warna warna gelap. lebih enak di pandang pikirku. saat aku sedang asik menatap sekeliling kamar, aku merasakan sebuah tangan melingkar di perut ku, ternyata bang angkasa memelukku dari belakang sambil mengendus leherku.


" aku suka wangi tubuhmu sayang" ucapnya sambil mencium tengkukku


" Abang mandi dulu sana" ucapku sambil berusaha menguraikan pelukannya.


" ayo mandi bersama" ucapnya sambil membalikkan badanku,


aku mendongak melihatnya, dia itu tinggi sekali ternyata. tiba tiba dia mencium ku lagi, kali ini cukup lama, aku sempat terbuai dibuatnya, tiba tiba dia menghentikan perbuatannya.


" maaf aku harus menghentikannya, aku ingin kita memulainya ketika kita mengulang kembali janji suci kita di depan orang tuamu" jelasnya padaku.


aku hanya tersenyum dan menyembunyikan wajah ku di dadanya, malu sekali rasanya meski hal yang kami lakukan ada sesuatu yang wajar di lakukan oleh sepasang suami istri.


" aku mandi dulu ya sayang, rasanya badanku tambah terasa gerah" ucapnya sambil mengurai pelukannya.


dia langsung menuju kamar mandi, saat aku mendengan shower yang menyala, aku membuka lemarinya ternyata tak di kunci, aku menyiapkan baju santai yang akan di pakainya tak lupa juga mengambil pakaian dalamnya, saat memegang pakaian dalam tersebut wajahku tiba tiba memanas membayangkannya, aku memukul kepala ku pelan merutuki pikiran kotor ku. aku meletakkan pakaian itu di atas kasur. aku langsung meninggalkan kamar turun ke lantai hendak menuju dapur, setelah berkeliling sebentar aku akhirnya menemukan letak dapur, apartemen ini sangat luas menurutku.


di sana ku lihat bi Ratih sedang menyiapkan makan malam, jam memang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


" Bi ada yang bisa saya bantu" tanya ku pada Bu asih.


" tidak usah sayang kita menonton saja di sana" tunjuk suamiku yang tiba tiba sudah ada di belakangku. sementara Bi Ratih menanggapi dengan senyum ramah.


" sepertinya aku terlalu lama mencari dapur, sampai sampai kamu sudah selesai mandi" ucapku pelan.


" kenapa tak menungguku selesai hmm...?" tanyanya padaku


" takut lupa diri bang" jawabku spontan,


menyadari jawaban spontan yang ku berikan, wajahku langsung memerah, aku berlari meninggalkannya ke tempat yang tadi di tunjuk olehnya. aku malu sangat malu sekali, bisa bisanya mulut ku tak dapat ku rem. aku ingin menenggelamkan tubuhku saja.

__ADS_1


__ADS_2