Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 18


__ADS_3

setelah seminggu kami berdua habiskan di kampung halamanku, aku dan bang angkasa harus pulang ke ibu kota, banyak pekerjaan yang membutuhkan kami, di tambah bang angkasa pasti sudah sangat banyak pekerjaannya yang menunggu untuk di tangani. suamiku itu ternyata memiliki beberapa usaha yang saat ini di tangani oleh asistennya Andre, setelah resmi menikahi ku di depan orang tuaku besok malamnya dia menceritakan semua pekerjaannya, dia memang orang yang sangat sibuk, bahkan semua usahanya itu tak di ketahui oleh orang tuanya, dia juga mengatakan bahwa ibu mertuaku bukanlah ibu kandungnya, ada kebencian, kekecewaan dan kesedihan yang terpancar di matanya ketika menceritakan itu, aku bertekad untuk menghapus itu semua, yang ku lihat ibu mertuaku memandangnya dengan sayang. aku tak tau ada cerita apa di masa lalu. dia belum siap untuk menceritakannya.


kami langsung pamit untuk pulang pada sanak saudaraku sementara bapak dan adikku rapi turut serta mengantarkan kami, kali ini aku kembali naik pesawat bukan seperti baru berangkat merantau kembali, kali ini yang sudah tak jadi kendala. perjalanan menuju bandara butuh waktu kurang lebih tiga jam, kami menyewa mobil tetangga, suamiku menawarkan pada bapak untuk di belikan mobil, tentu saja bapak menolak. bapak kan tidak bisa bawa mobil. tapi bapak tak bisa menolak sepeda motor yang di beli suamiku, suamiku beralasan bahwa motor tersebut pasti berguna jika akan ke kota. dan lagi pula sepeda motornya juga sudah sampai rumah tak mungkin di bawa juga, untuk lahan yang di beli kemaren sebagai tempat resepsi kami di serahkan pengelolaannya pada bapak, terserah mau di tanami apa, lagi pula itu juga termasuk mahar untukku. itu adalah surat tanah pertama menggunakan namaku.


sepanjang perjalanan kami saling bercerita ibu dan bapak banyak memberikan nasehat padaku, senyum tak pernah luntur dari wajah mereka. mungkin inilah yang mereka tunggu saat ini. saat di mana aku melepas masa lajang ku. bang angkasa duduk di samping pengemudi sambil menanyakan tentang daerah yang kami lalui, sementara rapi duduk sendiri di belakang, setelah tiga jam dalam perjalanan kami pun sudah tiba di bandara, hanya kami berdua yang berangkat untuk Rena dan Dira berangkat bersamaan dengan para kru WO.


waktu keberangkatan kami sudah hampir tiba, kami harus bergegas untuk melakukan check in tak lupa berpamitan pada bapak dan ibu, aku memeluk adikku dan memberi selembar uang merah begitu juga dengan bang angkasa, sementara bapak dan ibu aku tak memberikan apapun aku memilih mentransfer langsung,sementara bang angkasa memberikan amplop yang lumayan tebal untuk bapak dan juga ibu. kami kemudian langsung masuk dan segera check in, setelah itu langsung berjalan ke ruang tunggu, tak berapa lama akhirnya kami di arahkan masuk pesawat, bandara di desa masih bandara kecil hanya mampu menampung satu pesawat terbang, saat memasuki pesawat aku mengarahkan pandangan ku pada ibu bapak dan juga rapi, mereka terlihat bersama dengan orang orang lain menyaksikan momen pesawat untuk terbang, aku tersenyum dan melambaikan tangan dan di balas oleh ibuku.


tak menunggu waktu lama pesawat lepas landas meninggalkan orang orang yang ku sayangi


" nanti kalau ada kesempatan kita bisa berkunjung kembali" ucap suamiku sambil mengusap air mataku yang tanpa terasa menetes.


" hm.." gumam ku sebagai balasan.


dia membawaku ke dalam pelukannya dan mencium pucuk kepalaku.


selama diperjalanan aku mengantuk dan ku putuskan untuk tidur. waktu terbang dua jam aku rasa cukup untuk mengistirahatkan tubuhku.


dua jam telah berlalu, pesawat kami sudah mendarat, kami masih duduk menunggu antrian. kami hanya membawa tas ransel saja, untuk barang yang lain suamiku lebih memilih untuk mengirim via ekspedisi. tak butuh waktu lama kami sudah berada di parkiran, di sana Andre sudah berdiri dengan tegap menunggu kami, kemudian kami memasuki mobil dan mobil pun langsung melaju.


" sayang Abang sudah cukup menahannya selama dua Minggu lebih, nanti malam Abang akan balas dendam" bisik bang angkasa padaku,


" Abang ih malu kalau sampai kedengaran tau" balasku dengan wajah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Abang bahagia memiliki mu sayang" ucapnya sambil membawaku dalam rengkuhannya.


sesampainya di apartemen kami langsung masuk sementara Andre memilih kembali ke kantor, di kamar aku langsung menuju ke kamar mandi, benar benar gerah rasanya. cuacanya cukup panas hari ini. saat sedang berendam tiba tiba bang angkasa masuk


" ma..mas mau ngapain" ucap ku gelagapan posisiku saat ini sedang tak mengenakan sehelai benangpun.


" mau mandi lah bareng kamu" ucapnya sambil melepas semua yang melekat padanya


aku malu dan menutup wajahku melihat tampilannya yang seperti itu. tanpa perlu di komando dia langsung masuk dan membawaku duduk di atas pangkuannya. aku benar benar canggung. di tambah aku merasa ada yang menggeliat di bawah sana.


" bang... i..itu" ucapku terbata


" sudah kamu diam saja, Abang akan menggosok punggungmu.


" Abang menginginkannya sekarang sayang apa kamu mengijinkanya?" tanya nya lembut yang ku jawab dengan anggukan kemudian dia langsung menggendongku ke kasur dan terjadilah apa yang di inginkannya selama ini, dia sudah berhasil mengambil hak yang seharusnya sedari dulu dia dapatkan tapi dengan sabar dia menungguku.


" sayang ayo bangun, kita makan dulu ini sudah jam tiga sore" dengan nada lembut suamiku membangunkan ku.


" Hoooaaaammm..." aku menguap lebar dan langsung terduduk tak lupa aku meregangkan badan.


" jangan menggodaku sayang, kita butuh asupan makanan saat ini" ucapnya menggeram sambil memandangiku.


" ahh...jangan di lihat" pekik ku heboh sambil menaikkan selimut.

__ADS_1


" Abang sudah lihat semuanya" ucapnya enteng


" awas ih mau mandi dulu. auwh...ssst..." aku mengeluh ketika tiba tiba aku turun dengan terburu buru, setitik air mata mengalir dari mataku, ini perih sekali pikirku.


" tunggu di sini Abang siapin air hangatnya dulu" ucapnya panik dan berjalan ke arah kamar mandi.


dia keluar kamar mandi dan menuju ke arahku, bang angkasa langsung menggendongku dan membawaku ke kamar mandi langsung memasukkan ku ke dalan bathup untuk berendam air hangat.


" a..aku bi..bisa sendiri bang" ucap ku malu yang membuatku tersendat dalam berucap.


" Abang janji hanya memandikan mu sayang" tegas nya lagi,


dengan telaten dia membersihkan seluruh tubuhku bahkan area sensitif ku. aku tahu dia berusaha mengendalikan dirinya agar tetap waras dan tak menerkam ku, aku salut dengan pengendalian dirinya itu, sesaat aku merasa lega, suamiku tak mungkin mudah untuk di jebak.


" terimakasih sudah mencoba bertahan untukku bang, ku harap Abang tetap dapat mengendalikannya jika suatu saat ada yang berusaha menjebak kamu bang" ucapku sambil membelai wajahnya dan memberikan kecupan di pipinya.


"sayang jangan menyentuhku seperti itu" ucapnya sambil menggeram


" ha..ha..ha..." aku tertawa membalas ucapannya.


tiba tiba dia mencium ku, tapi segera di lepaskan ya.


"kamu butuh makan sayang, nanti malam Abang akan membalasnya, makan yang banyak karena Abang berencana tak berhenti sampai pagi" ancamnya padaku.

__ADS_1


aku langsung terdiam mendengar ancamannya, jika itu terlaksana aku mungkin tak bisa untuk berjalan besok seharian. aku menggali kuburan ku sendiri gumam ku kesal dalam hati.


__ADS_2