Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 26


__ADS_3

aku terbangun dari tidur panjang ku, perlahan aku menggerakkan kelopak mataku, berusaha menyesuaikan cahaya yang memasuki retina mataku. aku haus tapi aku merasa ada sesuatu di tenggorokanku rasanya janggal ingin berbicara tapi tak bisa. tenggorokanku sangat perih, dengan menggerakkan tanganku aku berusaha menggapai seorang wanita muda yang sedang duduk menunduk di sampingku sambil menekan dan melepas sesuatu yang ada tepat di atas mulutku.


" nona sudah sadar? dokter...dokter Mira" ucapnya dengan sedikit berteriak.


dokter Mira yang baru ku kenal siang tadi kembali terlihat oleh ku, jam berapa ini pikirku


" apa kamu sudah merasa lebih baik, jika iya beri kedipan mata sekali jika tidak beri kedipan mata dua kali" tanya dokter Mira padaku, aku mengedipkan mata sekali sesuai dengan instruksinya.


" tarik nafas.... keluarkan dengan pelan" ucapnya kembali dan hanya bisa ku ikuti.


" terimakasih sudah bertahan nona dara" ucapnya sambil tersenyum lembut. hanya ku balas dengan kedipan mata.


" aku akan membuka alat bantu pernapasan, ini akan sedikit nyeri jadi bertahanlah" jelasnya lagi.


dia mengeluarkan alat bantu pernapasan itu dan rasanya bukan sedikit nyeri tapi sangat nyeri. sambil menikmati rasa nyeri yang mendera ku aku mengingat bayiku, apa yang terjadi dengan ku, mengapa alat itu sampai terpasang di tubuhku. aku meneteskan air mata, aku takut kehilangan bayiku. saat ini hanya merekalah harapanku.


" bayiku dokter, ucapku sangat pelan


" mereka baik-baik saja dara, jaga kondisi fisik dan juga mental mu, hal itu berpengaruh pada janin yang sedang berlindung di tubuhmu " tegas dokter dara


aku mengangguk menjawabnya, ucapan syukur dan terimakasih aku panjatkan pada Tuhan dan juga ke empat calon bayiku. mereka mampu bertahan.


" maafkan bunda sayang, terimakasih masih bertahan untuk bunda" gumam ku pelan sambil mengusap perutku lembut.


" apa ada yang kamu butuhkan" ucap dokter Mira yang tak lagi berkata formal padaku.


" maaf Bu dokter aku haus dan juga lapar, bisakah Bu dokter membangunkan ni Minah,", pintaku dengan wajah memelas.


dokter Mira membangunkan Minah yang tertidur di bawah ranjang, aku merasa bersalah melihatnya, seharusnya mereka sudah tidur di tempat yang hangat dan juga di kasur yang empuk. tapi karena memikirkan ku mereka bahkan rela tidur di lantai.

__ADS_1


" nona sudah sadar, syukurlah nona baik baik saja, bibi benar benar takut nona" ucapnya dengan air mata yang membasahi pipinya


" maafin dara ya Bi, sudah merepotkan kalian bertiga dan terimakasih sudah bersedia membantu dan merawat dara" ucapku tulus.


" dara saya pulang dulu ya, kondisimu juga sudah membaik, ingat pesan saya" tegas dokter Mira dan juga sekalian pamit.


" iya dokter terimakasih, terimakasih juga ya mbak, dan hati hati di jalan" ucapku mengalihkan perhatian kepada kedua wanita beda generasi tersebut.


mereka bertiga berlalu dan meninggalkanku sendirian di dalam kamar, aku menata tanganku lagi lagi cairan infus terpasang di sana, ku raih ponsel yang ada di atas nakas di samping tempat tidur. tak ada satupun pesan atau telepon. apa bang angkasa sama sekali tak memikirkan ku. rasa sedih kembali merasuki relung hatiku.


" tak apa dan aku tak perduli apapun yang terjadi, bagiku prioritas ku saat ini adalah ke empat anakku"


POV Angkasa


" hah..hah..hah..." dengan nafas memburu aku bangun, mimpi itu sangat menakutkan, di dalam mimpi aku melihat dara istriku bersimbah darah, meski kecewa aku sangat mencintai istriku.


POV berakhir


ponsel bi Minah berdering, ponselnya di letakkan di atas kasur ku, sekilas aku melihat dan membaca nama yang tertera di layar, itu nama suamiku. setidak penting itukah aku, sampai dia sama sekali tak menghubungiku.


denyut sakit di hatiku kembali terasa, nafasku kembali sesak


" tenang dara hanya kamu yang memiliki dirimu untuk bertahan, lupakan dan fokuslah pada bayimu" kata itu berulang kali ku ucapkan untuk menguatkan diriku sendiri. saat ini aku hanya bergantung pada diriku sendiri"


" ini makanannya non" suara bi Minah berhasil menghentikan gumaman ku


" terimakasih Bi" ucapku padanya


aku makan meski tak berselera, aku makan hanya karena kebutuhan dan juga nutrisi untuk bayiku. rasa mual yang kurasakan sekuat tenaga aku tahan. dengan waktu yang cukup lama menurutku akhirnya makanan itu sudah berpindah ke perutku,

__ADS_1


" bibi tidur saja di kamar bibi, dara sudah tak apa apa kok"ucapku pada Bi Minah


" bibi tetap di sini non sampai besok bibi akan di sini. non istirahat saja ya, pasti badan non dara masih lemah tapi non minum obat dulu ya non ucap Bi Mina,


" jangan beritahu apapun tentang keadaanku ya Bi, dara gak mau jadi beban sekarang semua orang sedang fokus dengan nenek" ucapku


" tapi non, kondisi non bahkan mungkin lebih parah dari nyonya besar non, non sempat mengalami henti jantung"protes bi Minah


" dara mohon bi, lagi pula dara sudah tidak apa apa kok". ucapku dengan senyum meyakinkan


" hah baiklah non bibi akan diam saja" ucapnya pasrah


" dara tidur ya Bi sudah mulai ngantuk, tolong simpan obat dara dengan baik ya Bi, jangan sampai bang angkasa tau" ucapku pelan dengan wajah mulai mengantuk.


aku terlelap memasuki alam mimpi. rasa lelah dan juga tubuh yang lemah tak dapat membuatku bergerak bebas,


" POV author


pagi menjelang, tetapi dara masih tertidur dengan nyenyak di atas ranjang, Minah setiap jam selalu terbangun untuk mengecek keadaanya. tepat jam delapan pagi dokter Mira tiba di kediaman Hartono, beliau datang untuk mengecek kondisi dara, Minah membawanya ke kamar dara, di sana tampak dara masih tertidur, cairan infusnya juga hanya tinggal sedikit lagi. dokter Minah membuka jarum infus terlihat dara mengerutkan keningnya tapi masih tertidur


" syukurlah semuanya baik baik saja, usahakan agar dara tidak naik turun tangga dan juga jangan terlalu banyak bergerak, kondisi fisiknya sangat lemah" pesan Mira


" baik Bu dokter "


setelah memastikan semuanya baik, dokter Mira pamit pergi, tak berselang lama setelah mobil dokter Mira meninggalkan kediaman keluarga Hartono, mobil yang di kendarai oleh pak Indra memasuki halaman.


angkasa keluar dari mobil dengan wajah lelah dan sayu, dia sangat mengantuk. setelah bermimpi tentang dara dia bahkan tak dapat memejamkan mata"


POV berakhir

__ADS_1


__ADS_2