
POV Angkasa
aku melihatnya, istriku wanita yang ku cintai berdiri dengan posisi seperti mendorong nenek, tanpa memperdulikannya yang berdiri terpaku di tengah anak tangga aku berlari melewatinya, aku memeriksa nenek dan melihat dari kepalanya keluar banyak darah, dengan keras aku memanggil sopir keluargaku agar menyiapkan mobil, ku dengar keluargaku keluar, ayah bertanya tapi tak ku hiraukan, ku lihat istriku masih terpaku di tempatnya berdiri tanpa beranjak, aku kesal ingin rasanya aku memakinya tapi masih ku tahan, aku masih ingat dia adalah istriku aku meminta kak Anisa untuk mengambil peralatan ku ke kamar, dengan cepat dia berlalu dan tak lama sudah sampai di sampingku, dia menyiapkan semua yang ku perlukan, dia bukan tenaga medis, tapi karena sering mengamati ku memberikan pertolongan darurat jadi dia sudah sangat mengerti, aku berusaha untuk menghentikan pendarahan yang ada di kepala nenek, kemudian aku memeriksa seluruh tubuhnya, setelah memastikan bahwa hanya kepalanya yang perlu penanganan khusus. di tengah pekerjaan yang ku lakukan, ku dengar suara dara memanggilku, aku membentaknya sebagai luapan rasa kecewaku, tanpa memperdulikannya aku menggendong nenek membawanya ke mobil dan meminta pak Indra sopir ku untuk membawa ke rumah sakit. jarak ke rumah sakit besar memang memakan waktu yang tidak sedikit. tapi pendarahan nenek sudah berhasil ku hentikan, jadi pikiranku sedikit tenang. sesampainya di rumah sakit nenek langsung di tangani, aku tak bisa berbuat banyak karena ini bukan wewenang ku, aku percaya pada dokter yang ada di sini, sebagian dari mereka adalah orang yang ku kenal. tak lama dokter yang menangani nenek keluar, dokter ahli bedah saraf.
" bagaimana keadaan nenek ku dokter" tanyaku padanya
" keadaanya masih kritis, untunglah pertolongan pertama yang dilakukan sangat baik, jadi kita bisa melewati hal yang tak di inginkan. dari ronsen yang di lakukan ada gumpalan darah dalam kepalanya, saya harus mengoperasinya, tapi mengingat usia dan juga kondisi beliau saya tidak bisa langsung mengambil tindakan, tunggu beliau sadar untuk memastikan kondisinya" jelasnya panjang lebar.
" terimakasih dokter" ucapku
" sudah kewajiban kami, saat ini beliau belum bisa di jenguk, tunggu sampai kondisinya stabil dulu. kalau begitu saya pamit dulu. jika ada sesuatu anda bisa menghubungi saya" ucapnya dan langsung berlalu pergi ketika aku sudah memberikan ijin.
aku memandang nenek dari luar ruangan ICU, nenek yang memang selalu menyayangiku. meski sering aku abaikan karena kecewa mengenai ibuku, dia tetap memperhatikanku, sungguh aku sangat menyayanginya
" nak pulanglah sebentar untuk mengambil semua kebutuhan kita di sini, ayah memutuskan kita akan menginap di hotel dekat rumah sakit ini. ajaklah istrimu ayah yakin dia cemas memikirkan nenek. jangan berfikir buruk padanya nak, nanti kamu menyesal jika menyakitinya, tanya dan dengarkan penjelasannya dan jangan menghakiminya. ayah percaya dia tak akan sanggup melakukan seperti apa yang ada di pikiranmu." ucap ayah lembut, meski dia terpukul tapi dia masih berfikir tenang.
__ADS_1
sekarang aku ingat, bahwa aku melakukan kesalahan, aku meninggalkannya tanpa menoleh padanya, mungkinkah dia berfikir bahwa aku menolaknya, ku harap dia tak memikirkan hal itu, rasa takut kembali menghantuiku, takut dia meninggalkanku, disini sudah ada ayah, ibu sambung ku, kak Anisa dan bang Bram juga Arum. melihat Arum aku menjadi kesal, sebenarnya apa tujuannya selalu menempel di keluarga ku.
" bawa Randy ya dek, kakak tadi meninggalkannya bersama pengasuhnya" ucap kak Anisa
" berpikirlah jernih dek, dengarkan penjelasan istrimu" pesan bang Bram padaku
tanpa berfikir lagi aku melangkah ke luar setelah menyerahkan kunci mobil kepada bang Bram kemudian aku berjalan menuju parkiran, di sana ku lihat pak Indra masih berdiri di samping mobil,
" gimana keadaan nyonya besar tuan" tanya pak Indra dengan cemas
" amin," ucapnya
" bapak ikut pulang dengan saya saja ya pak, saya harus mengambil kebutuhan semua orang nantinya" ucapku dengan masuk ke mobil
pak Indra langsung masuk dan melajukan kendaraan kami, ternyata sudah lewat jam sepuluh tak satupun dari kami membawa ponsel, mobil melaju membelah jalanan kota. tepat pukul dua siang aku tiba di kediaman, berjalan masuk mataku melihat ke arah ruang tamu, tak ada dara di sana, mungkin dia menyusul kami pikirku, aku tersenyum membayangkan kepedulian istriku, kulihat Bi Minah lewat dan aku memintanya untuk menyiapkan pakaian anggota keluarga yang lain. dengan wajah lelah aku berjalan menuju tangga, bekas darah yang tadi pagi berceceran sudah tak ada di sana, dengan menaiki tangga aku berjalan menuju kamar. aku membuka kamar dan hanya mampu berdiri di tengah pintu, bagaimana mungkin dara istriku, sedang asik berbaring tanpa memikirkan keadaan nenek, melihatku dia menghampiriku dan bertanya, aku tak perduli dengan kesal aku menjawab pertanyaannya. untuk apa dia bertanya jika menyusul pun tak ada dalam benaknya, angan ku tentang kepeduliannya sirna begitu saja.
__ADS_1
tanpa menoleh lagi aku bergegas ke kamar mandi, aku membersihkan diriku yang tadi penuh dengan darah nenek. selesai mandi aku keluar dengan menggunakan handuk, kembali aku mematung di buat tingkah istriku, di sana, di ranjang kami, tanpa merasa bersalah dia terbaring dengan mata terpejam. bagaimana mungkin aku berharap dia menyiapkan perlengkapan ku sedangkan dia bahkan tertidur di atas ranjang. dengan perasaan marah dan kecewa aku memakai baju dan menyiapkan keperluanku.
aku menghampirinya mengucapkan kekecewaan ku meski mungkin dia tak mendengar, aku menunggu reaksinya tapi dia bahkan tak mendengar ku, dengan kesal aku keluar dan membanting pintu kamar sangat keras. aku berlari menuruni tangga, dengan nafas memburu aku berhenti di lantai bawah menatap pintu kamarku berharap istriku keluar menghampiriku. tak terasa setetes air mata mengalir di pipiku. menyedihkan pikirku, apa keluargaku tak berarti lagi untuknya, aku bisa terima jika dia kecewa tapi bagaimana denganku, tidak kah dia memikirkan ku. dengan perasaan kecewa dan sedih aku meninggalkan kediaman kulihat pak Indra sudah berdiri di samping mobil beserta keponakanku dan pengasuhnya.
"ayo berangkat pak" ajak ku pada pak Indra
" loh nona muda tidak ikut pak" tanya bi Minah padaku
" tidak" jawabku singkat
" mungkin nona muda masih pusing" gumamnya pelan yang masih terdengar olehku
sejenak aku termangu mengingat wajah istriku yang pucat dan mata yang bengkak. perasaan sedih kembali datang dalam hatiku tetapi segera ku tepis, memikirkan sikapnya kembali rasa kecewa menjalar di hatiku. tanpa berkata apapun aku masuk ke mobil duduk di samping kursi pengemudi, di belakang keponakanku duduk bersama pengasuhnya.
mobil melaju meninggalkan kediaman keluarga ku, memikirkan kembali penyebab aku menikahinya, mungkinkah yang ku lakukan adalah sebuah kesalahan. apakah pengorbanan dan perlakuanku tak bisa membuatnya mencintaiku, apakah kata cintanya hanya bualan semata, kembali air mata kelemahan itu mengalir dari mataku, sudah lama aku tak menangis, terakhir aku menangis ketika kepergian ibuku yang tanpa meninggalkan pesan dalam sebuah kecelakaan mobil yang di sebabkan oleh pernikahan ayah dan wanita yang sekarang menjadi istrinya karena peraturan konyol itu.
__ADS_1
POV berakhir