Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 9


__ADS_3

setelah beberapa jam kami sudah tiba di kota, Bu rianti sudah memesan hotel untuk kami menginap, jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, setelah bersih bersih badan kami langsung merebahkan badan di kasur dan tak lama kami pun langsung tertidur.


bunyi alarm yang saling bersautan membangunkan ku dari tidur lelap ku, ku raih ponsel yang ada di nakas, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 wib. kulihat intan dan Mbak ayu masih tidur, mungkin terlalu lelah pikirku, meski tak tega aku membangunkan mereka. karena pagi ini kami akan berangkat ke desaku.


" mbak ayu, intan ayo bangun, nanti kita kesiangan" ucapku sambil mengguncang tangan mereka pelan.


" hoaaaammm.... sudah jam berapa mbak dara" tanya intan sambil meregangkan tubuhnya


" sudah jam enam pagi intan, aku mandi lebih dulu ya, kalian beberes dulu" ucapku sambil meraih baju dari dalam koper kecilku. kemudian melangkah ke kamar mandi.


" jangan lama lama ya Ra, takut telat ke bandara nya" teriak mbak ayu sedikit kencang dari dalam kamar, karena posisiku sudah ada di kamar mandi


" siap mbak, ini juga mau mandi kilat.


gila dingin banget" balasku dari kamar mandi.


selesai aku mandi, sekarang giliran mbak ayu dan intan yang mandi secara bergantian. setelah aku rapi dengan mengenakan cardigan, tangtop dan jeans, aku merapihkan kembali semua barang barang ku, memastikan kembali bahwa tidak ada yang tercecer sedikitpun, ku periksa dompet untuk memastikan KTP ku masih setia di dompet atau belum,


" hahh... syukurlah ternyata masih ada" gumamku pelan


" apanya yang masih ada mbak" tanya dara mengejutkan ku


" astaga, kamu membuat ku kaget saja Tan, ini ternyata KTP ku masih di tempatnya" jawabku sambil mengelus dada.


" kamu kebiasaan deh, dasar intan..intan... kalau dara kena sakit jantung batal nikah dong" ledek mbak ayu yang sudah terlihat rapi


" sudah nikah mbak, bukan batal. tapi ngomong ngomong tampan juga tuh suami mbak dara, aku kalau kejebak Sama modelan begitu langsung sikat mbak ha..ha..ha.." balas intan dengan tertawa kencang.


" yeee.... itu sih mau nya kamu intan" seru aku dan Mbak ayu serentak sambil menjitak kepala intan.


" aduh ...aduh...ampun... ampun... ini namanya penganiayaan" intan mengadu sambil menjauh dari kami.


" kamu sana anak Bu bos aja Tan, udah ganteng mapan lagi" usul ku sambil menaik turunkan alis


" ihhh....ogah mbak, dia itu ibarat seorang iblis yang terbungkus rapi dalam wajah seorang malaikat." ucapnya sambil bergidik.


" dia itu cuma tegas aja Tan, kalau kamu nurut dan gak grasak grusuk mahh pasti lah dia bak malaikat" jelas mbak ayu sambil menganggukkan kepalanya pasti


" kalau gitu mbak aja deh sama dia" semprot intan kesal


" saya tau diri kali, umur saya sudah tua, status janda anak tiga, ya gak mungkin mau lahh" tepis mbak ayu.

__ADS_1


" sudah..sudah.. jangan berdebat lagi, mending kita keluar, sudah jam delapan ini. mau jam berapa kita sampai bandara." ajak ku pada mereka.


tanpa menjawab ku mereka mengikuti ku yang melangkah keluar, ternyata di lobi hotel semua kru sudah siap.


" tadi saya sudah menghubungi pak Hartono, beliau berpesan lusa mereka baru bisa berangkat ke desa kamu dara, karena ada urusan keluarga, saudara jauh mereka ada yang berpulang. untuk acara lamaran dan segalanya biar beliau yang urus, hanya saja pastikan kamu mengangkat telepon mu ketika orang tua kamu menelepon, jangan beritahukan dulu kepada orang tua mu, serahkan saja semuanya pada suamimu dan keluarganya" terang Bu rianti padaku.


" jadi kita langsung ke ibukota Bu? " tanya mbak ayu.


" iya, kita akan langsung ke sana, ya sudah ayo kita berangkat, mobil jemputan sudah tiba" ajak Bu rianti.


kami bergegas masuk ke dalam mobil, tak lama mobil kami sudah tiba di bandara, segera mbak ayu mengurus semuanya, di bantu oleh beberapa kru pria untuk membawa barang barang kami. selsai semuanya kami langsung masuk ke dalam pesawat dan pesawat pun segera lepas landas.


selama penerbangan aku lebih memilih mengistirahatkan tubuhku, entah mengapa aku merasa sangat lelah meski sudah tidur semalaman.


tak terasa kami sudah tiba di kediaman kami masing masing.


" selamat beristirahat." ucap kami bertiga berbarengan, kemudian kami tertawa dengan ke konyolan kami.


masuk kamar aku merapihkan semua barang barang ku, setelah meletakkan baju kotor, aku langsung membersihkan tubuhku, besok lah aku mencuci pikirku, besok kebetulan hari Minggu. jadi bisa bermalas malas ria.


sejak tadi aku merebahkan tubuhku, tapi tak kunjung terpejam. hampir satu jam aku melamun, memikirkan semua yang terjadi di hidupku sejak aku berada di kota z, apa benar angkasa adalah jodohku, hingga usia ku yang ketiga puluh tiga tahun baru menemukan jodohku, dengan peristiwa yang tidak masuk akal pula. mau kemana pernikahan ini di bawa, bagaimana jika suatu saat hal seperti ini terjadi dalam rumah tangga kami kedepannya?


memikirkannya aku pusing sendiri, aku berjalan keluar kamar sambil membawa bantal boneka. kulihat di ruang tamu ada mbak ayu dan intan sedang menonton.


" eh... mbak dara... he...he... ya maaf mbak, kirain mbak dara masih tidur tadi" jelas intan.


" sudah sini mbak tadi pesan online, mau pizza kan? ajak dan tawar mbak ayu


" wahh... tau aja mbak kalau aku lagi pengen makan. mbak memang yang terbaik dehh" pujiku sambil mengambil sepotong pizza tadi,


" kamu ambil minum di dapur Ra soalnya ini minimnya soda, kamu pasti gak bisa kan minum soda" perintah mbak ayu.


" ohh... iya mbak" aku langsung bergegas ke dapur mengambil minumanku.


sekembalinya aku dari dapur, aku langsung duduk sambil menikmati pizza. kami bertiga menghabiskan waktu dengan menonton tayangan drama yang ada di tv, bercanda ria sambil membahas adegan demi adegan yang sedang di tayangkan. di sela obrolan kami, ponsel ku tiba tiba berdering. tumben pikirku, karena biasanya keluarga tidak akan menghubungi ku di jam ini. karena yang mereka tau di jam segini aku pasti sedang bekerja. ku raih ponsel ku dan Ku lihat ternyata nomor baru, aku mengabaikannya saja. kalau penting pasti telepon lagi pikirku.


" kebiasaan deh si mbak dara, nomor baru gak pernah langsung di angkat" cibir intan.


" kan aku bukan reseller atau dropshiper Tan, jadi nomor baru adalah hal yang tak terlalu penting." balasku cuek.


tak lama kemudian ada sebuah SMS yang masuk ke ponselku.

__ADS_1


" angkat, suamimu" baca ku pada SMS yang masuk.


tak lama ponselku mulai berdering kembali.


" keluar, aku sudah di depan" ucap sebuah suara dari seberang ponsel,


"sialan..." ucapku geram sambil meletakkan ponsel dengan kasar


" kenapa mbak, marah marah sama ponsel, kalau gak mau sini buat aku, model terbaru ini kan lumayan dapat gratis" ucap intan spontan


" ada orang stress di depan" ucapku sambil beranjak dari posisi ternyaman ku dan melangkah menuju gerbang.


dengan menggunakan baju tidur tanpa lengan dengan leher rendah dan celana pendek sejengkal di atas lutut yang berwarna biru bergambar beruang aku membuka gerbang, ku lihat dia berdiri depan pagar, kali ini dia tampil dengan sebuah kemeja polos berwarna marun, lengannya di gulung sebatas siku, dasi bergaris hitam dan putih dengan celana bahan hitam. sangat tampan pikirku, di tangannya tersampir sebuah kain yang ku kira jas mungkin. dia melihatku sambil menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menyampirkan jas nya di bagian tubuh depan ku.


" sekali lagi kalau keluar buka gerbang perhatikan pakaian mu" geramnya pelan.


"kok kamu bisa ada di sini?" tanyaku padanya


" sana bersiap, aku tunggu di mobil" ucapnya sambil balik badan menuju mobil sport yang tak ku tahu merk nya apa. aku buta soal itu, dan tak mau tau juga sih...


"memang mau kemana?" tanyaku padanya, dia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mobil.


" beli cincin pernikahan, dan jangan membantah pada suami" tegasnya dengan datar.


" iya masuklah dulu" tawarku padanya


" itu kos untuk perempuan, kamu cepat lah bersiap" tolaknya halus.


" baiklah... " jawabku sambil melangkah masuk. sambil menutup gerbang,


saat melewati ruang tamu, intan menghentikanku


" mbak dara... tadi itu siapa?" tanya intan penasaran


" suami dadakan ku," jawabku sambil menuju kamar


" di suruh masuk dong mbak" teriak intan dari ruang tamu.


" gak mau dia" teriakku dari depan kamar


tak ada sahutan yang ku dengar. aku bergegas masuk ternyata jas tadi masih tetap menutupi tubuh bagian depanku. aku langsung bersiap untuk mandi.

__ADS_1


"


__ADS_2