
"Cuma tau aja," jawab Lisa santai.
Maksudnya? Aku penasaran apa yang dia maksudkan dari jawabannya itu, terasa tidak sinkron dengan pertanyaannya. Atau mungkin... itu adalah jawaban yang tepat?
Apa maksudnya dia tau karena dia juga ada di lokasi kejadian ketika Atma sedang kesurupan tadi?
"Memangnya tadi kamu ada di lokasi kejadian pas peristiwa itu terjadi ya, Lis?" Aku bertanya lagi untuk memastikan.
"Enggak, waktu kejadian itu, aku lagi ada di dekat kantin. Karena penasaran banyak orang yang berkerumun, aku coba bertanya sama orang-orang yang baru saja ada di lokasi kejadian," Lisa menjelaskan dengan panjang lebar.
"Terus jawabannya?" tanyaku lagi pada Lisa.
"Katanya ada yang kesurupan, sudah gitu aja!" Jawab lagi Lisa dengan entengnya.
Tapi kenapa Lisa tau kalau Atma kerasukan... bukan anjing, tapi macan. Apa Lisa mendengar raungan Atma waktu itu ya?
Lupakan saja soal ini sebentar, tapi aku ingin tetap pada topik horornya.
Aku kembali menoleh ke depan, lalu manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Lisa. Aku yakin Lisa juga melihat gerakan kepalaku yang terlihat seperti gerakan memperlancar peredaran darah di leher. Sepertinya aku terlalu banyak mengangguk hari ini.
"Lisa, kamu suka sama hal-hal horor kayak gini, nggak?" tanyaku lagi, lagi, dan lagi.
"Sebenarnya... aku nggak suka, sama sekali nggak suka. Tapi apa boleh buat kalau... ups," jawab Lisa, tapi nampaknya dia keceplosan dengan matanya yang terbelalak.
"Kalau apa, Lis?" tanyaku untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Kalau..." Lisa seolah ingin mencari alasan, tapi positif thinking dulu saja, karena mungkin dia takut mengatakan kalimatnya. "Kalau banyak sekolah yang angker,"
Jawabannya tampak ragu, apa mungkin keraguannya disebabkan karena dia sering melihat hal horor di sekolah?
SD? SMP? SMA-nya yang lama? Apa di semua jenjang itu dia selalu melihat peristiwa kesurupan di sekolahnya? Ah sudahlah, lupakan saja. Jawabanku benar-benar tidak mendasar sama sekali.
Lupakan tentang kejadian kecil horor di sekolah, ataupun jawaban Lisa bahwa banyak sekolahan yang angker. Sesekali aku menoleh ke arah Lisa secara diam-diam untuk memastikan jawaban anehnya, dia selalu tampak sedang melihat ke arah lantai di sebelah kanannya.
Apa ada yang salah? Dia seolah sedang menyesali sesuatu, terlihat dari pandangannya yang tampak kosong.
"Fir, tadi Atma kenapa?" tanya Anie menggugahku dari pandangan ke arah Lisa.
Saat ini, ternyata guru sudah tidak menjelaskan apa yang ada di papan tulis, Bu Guru mungkin memberi jeda murid-muridnya untuk menulis. Sembari menunggu, Bu Guru mencoba beristirahat dengan duduk di meja gurunya. Alias, keadaan ini cukup aman bagiku untuk lanjut mengobrol santai.
"Tadi dia kesurupan. Oiya btw, tadi katanya sebelum dia kesurupan, dia ngeliat orang yang mirip banget sama kamu, Nie. Terus Atma coba ngejar kamu, eh malah akhirnya dia sampai di lorong belakang lalu kesurupan," jelasku menjawab Anie.
"Udah siuman sih, tapi katanya dia masih takut kalau ditinggal sendiri, takut kesurupan lagi, makanya dia minta Dexter buat menemaninya. Tapi sebenarnya... Dexter juga sama-sama penakut!" Jawabku sambil tertawa.
Entah kenapa Febi malah ikut tertawa saat mendengar Dexter adalah seorang penakut. Aku tidak ingin berpikiran aneh pada mereka karena mungkin Febi menertawainya karena mereka adalah musuh bebuyutan. Mereka berdualah yang selalu membuat suasana kelas menjadi suasana medan perang.
Hahaha... medan perang, itu lucu.
Aku, Anie, dan Febi lanjut mengobrol setelah kami puas menertawai Dexter yang penakut. Obrolan kami terus berlanjut hingga akhirnya harus berhenti ketika Bu Guru mulai berdiri dari tempat duduknya, kemudian kembali menulis pelajaran di papan tulis, lalu menerangkannya.
Suasana kelas cukup hening, tumben, mungkin karena Dexter dan Atma yang sebagai penggerak kebisingan sedang tidak ada di kelas saat ini. Suasana yang membosankan, tapi waktu yang pas untuk meletakkan kepalaku di atas meja lalu mencoba pingsan. Aahh... aku merasa waktu tiba-tiba berhenti berputar di sekitarku, hanya ada kedamaian di sini.
__ADS_1
Kalau menoleh ke belakang, aku bisa melihat Lisa yang sepertinya super bosan di sana, pandangannya kosong melihat ke atas meja.
Kring ting ting ting kring ting ting ting ting kring ting krrrrrrriiiiiiinnggg...
Tiba-tiba suara dering terdengar di kelas yang hening ini. Nada dering yang panjang dengan alunan musik aneh nan sedikit misterius berasal dari belakangku, dan hanya ada Lisa di belakang.
Aku melihat Lisa yang mencoba untuk meraih ponselnya di sorok mejanya, setelah mendapatkannya, dia terlihat kebingungan.
"Lisa, cepetan matiin ponselmu! Nanti disita guru loh!" Peringatku membangunkan Lisa yang terlihat bingung memandang ponselnya dengan tatapan kosong.
"E-eh?! Ini..." Lisa melihatku sebentar dengan wajah takut, namun kembali menatap ke arah ponselnya lagi.
Apa dia takut ponselnya disita? ponselnya terus berdering dengan suara kencang, rasanya satu kelas bisa hanya berisikan gema nada dering ini saja.
Tapi saat aku mencoba memastikan keadaan kelas, alias memastikan Bu Guru tidak mendengarkan nada dering ini agar dia tidak menyita ponsel Lisa. Aku menoleh ke arah guru, tapi seketika aku terkejut!
Tidak ada yang mempedulikan nada dering ponsel Lisa yang gemanya memenuhi kelas ini, atau mungkin... tidak ada yang mendengarnya?
Nada dering Lisa yang terdengar kencang, entah kenapa tidak ada yang menyadarinya, seolah suara itu berasal dari dunia lain.
"Lis..., Lisa..., Lisa!!" Aku membangunkan Lisa lagi, kini dia sedang bengong menatap ke ponselnya. "Itu kenapa?"
Lisa hanya menggeleng tidak tau, lalu memilih mengangkat panggilan teleponnya daripada mematikan teleponnya. Aku baru sadar kalau nada dering ponselnya bukanlah sebuah alarm, melainkan sebuah panggilan telepon. Aku juga tidak habis pikir dengan Lisa saat ini. Aku tau di kelas ini tidak ada yang mendengarkan dering ponselnya Lisa, tapi jangan mencoba untuk mengangkat teleponnya juga! Ini, 'kan lagi di kelas!
"Aku coba angkat!" Jawab Lisa ekspresif, kemudian meletakkan teleponnya di atas mejanya, agar aku juga bisa lebih mudah mendengarkannya.
__ADS_1
Tubuhku menghadap ke belakang ke arah Lisa, alias hanya untuk menjadi obat penawar untuk penasaranku pada telepon Lisa.
Seolah satu telepon untuk didengarkan 2 orang. Sebuah tulisan, "Sedang menghubungkan" membuat aku dan Lisa harus menunggu sebentar, sesekali bertatap-tatapan karena sama-sama bingung, dan tidak ada unsur romantis sama sekali di sini yang kurasakan.