
Tampak seorang perempuan membawa pedang pendek berwarna merah berukuran 80 cm berlumuran darah, dengan pakaiannya yang berwarna putih dengan bawahan rok selutut berwarna abu-abu. Terlihat seperti seragam sekolah SMA.
Dia jauh di depanku, berdiri membelakangiku di ruang hampa, dan aku tidak bisa melihat wajahnya. Siapakah perempuan itu?
Namun pandanganku tersita oleh sesosok perempuan tua yang wajahnya tidak asing lagi bagiku, bukankah dia... Bu Dewi?! Kenapa perempuan berambut pendek dengan seragam SMA itu sedang berhadapan dengan Bu Dewi?! Ada apa dengan mereka?! Apa mereka ingin bertarung di sini?!
Menggelengkan kepala dan mencoba sadar. Aku harus melerai mereka berdua, karena sepertinya mereka akan saling membunuh.
Tapi saat aku benar-benar sadar, ternyata ada sebuah akar hitam yang mengikat tanganku.
Tunggu-tunggu, ini tempat apa? Kenapa semua terlihat seperti ruang hampa?! Apa sedang mati lampu di sini? Dan kenapa akar hitam ini mengikat tanganku seolah ingin menghalangiku?
Apa aku sedang bermimpi? Tidak, 'kan?
Tanpa berpikir yang aneh-aneh lagi, langsung saja aku memutus akar yang mengikat tanganku dengan kekuatanku sendiri. Terasa seperti sedang memutus sebuah tali tambang yang susah terputus, tapi entah kenapa tenagaku lebih kuat daripada yang kubayangkan.
Setelah akar yang mengikat tanganku terputus, aku langsung berdiri dan mencoba berlari. Sudah jelas, 'kan tujuanku apa? Aku hanya seseorang dengan kecintaannya terhadap ketenangan.
Namun di tengah perjalanan ketika aku berlari dan ingin melerai kedua orang di depanku, tiba-tiba tanah di bawahku longsor seolah terbuat dari tanah basah. Kupikir tempat tadi adalah ruang hampa, tapi entah kenapa tiba-tiba menjadi tanah basah, dan aku pun mau tidak mau ikut terperosok jatuh bersamaan dengan tanah longsor.
Semakin janggal lagi ketika aku terperosok tanpa merasakan sakit sekaligus tidak ada luka sedikit pun, dan berakhir pada sebuah lorong di sebuah rumah sakit.
Bagaimana bisa tiba-tiba aku terteleportasi masuk ke lorong rumah sakit yang sepi dan sunyi ini?
__ADS_1
Tidak ada satu pun suster di sekitar sini, sementara ada jam dinding besar di belakangku menunjuk pukul 1 malam. Apa karena tengah malam, jadi suasana di sini sangat sepi? Ah tata letak jam di sana membuatku takut, apalagi kalau tau sekarang sudah tengah malam.
Semuanya sangat janggal terasa, dan bagaimana aku bisa berakhir di lorong rumah sakit jam 1 malam? Bahkan kalau aku sadar, aku tidak akan mampir ke rumah sakit jam satu malam seperti ini. Sudah gila kalau itu terjadi.
Dan dari apa hal yang aku rasakan di sekitar sini, tidak ada yang menarik selain suasana mencekam dan suara jam dinding besar itu yang bergema tiap detik menambah kesan menakutkan.
Di depanku, hanyalah tembusan lorong gelap yang tidak terlihat ujungnya. Aku tidak akan ke sana.
Tapi, saat aku berdiri diam di sini sambil memandang sekitar, tiba-tiba seorang perempuan berjalan keluar dari kegelapan lorong di depanku.
Lagi?! Mendadak aku seperti terserang deja vu. Aku seperti pernah mengalami ini sebelumnya, bersama dengan seorang perempuan yang bersamaku di lift. Namun bedanya, kali ini aku sedang sendirian dan sedang berada di lorong rumah sakit yang kosong nan sepi.
Kembali aku memfokuskan pandangan ke seorang perempuan itu. Dia perlahan mulai berlari mendekatiku, namun seiring bertambahnya waktu, lariannya terlihat semakin kencang.
Semakin dekat ia ke sini, semakin terlihat wajahnya yang sudah terlihat tidak muda lagi. Dan saking gugupnya aku, membuat kakiku tidak bisa bergerak dan harus pasrah meyakinkan diri untuk berpikir bahwa aku bisa menghadapi ini.
Walaupun kaki sudah gemetaran, memutar balikkan mata untuk mencari keberadaan perempuan tadi sudah tidak ada gunanya lagi.
Tapi beberapa saat kemudian ketika lampu-lampu di lorong ini kembali menyala, perempuan yang sedang berlari ke arahku sudah tidak nampak lagi. Seribu pertanyaan langsung terlintas di pikiranku mengenai kepergian perempuan tadi, namun penasaranku langsung hilang ketika 2 buah tangan tiba-tiba menyentuh kedua pundakku dari belakang.
"Firza... jangan ganggu urusanku, jika kamu ingin tetap hidup tenang. Atau aku akan membawamu..., KE DALAM NERAKA!!" Teriak perempuan tadi, kusadari dialah Bu Dewi.
"Hah?!" Aku seketika terkejut takut, dan langsung melepas dari depan kedua tangan yang menggenggam erat kedua pundakku. Aku melepaskannya sambil menoleh, berinisiatif untuk mundur setelah ini. Namun, saat aku melakukannya, Bu Dewi sudah tidak ada di belakangku.
__ADS_1
Aku menarik napas lega walau mungkin Bu Dewi bisa saja muncul kembali.
Sembari mengawasi sekitar, aku mencoba bernafas dengan tenang. Namun lagi-lagi aku ditarik paksa masuk ke sebuah dimensi yang aneh dan gelap. Tidak ada yang menarikku, tapi tanah di bawahku tiba-tiba bergerak sendiri, membuatku tersasar ke sebuah tempat yang isinya hitam semua seperti sebuah pikiran yang kosong.
"Benar, ini adalah pikiran kosongmu, jauh dari kekuatan negatif maupun positif. Aku menarikmu ke sini untuk-" Seorang ibu-ibu berkebaya tiba-tiba muncul di hadapanku.
Ibu-ibu muda yang cantik, tingginya sama sepertiku, dan wajahnya mirip sekali dengan Lisa. Dengan pakaian kebayanya, atasan putih dan bawahan coklat, seperti orang dari masa lalu.
Perempuan yang cantik ini mengingatkanku, sebenernya tempat apakah ini?! Kenapa aku selalu ditarik oleh plot yang kesana dan kemari?
"Kamu-, eh maksudku... Ibu, siapa?" tanyaku padanya dengan gelagapan.
"Namaku Anik Artidewi, panggil saja Arti, dan aku adalah Ibu dari Lisa, teman perempuan yang kamu kenal." Jawab Ibu itu dengan nada lambat, seolah memiliki kekuatan super yang membuatnya jadi terlihat tenang dan berwibawa.
"Oh, terus gimana aku-" Aku ingin berbicara, namun ucapanku langsung dipotong.
"Dengar, Nak. Ibu ingin memintamu untuk menjaga Lisa, apalagi dari gangguan Bu Dewi yang ingin merampas semua kekuatan jahat yang tersembunyi di balik dunia ini. Sebentar lagi, peristiwa besar akan menghampirimu dan Lisa." Ucap Ibunya Lisa, alias Bu Arti, ia berjalan mendekat ke arahku dan mengambil tanganku lalu menggenggamnya. "Mungkin ini akan berat untukmu, tapi Ibu juga akan selalu menolongmu. Ibu percaya padamu, Ibu akan menjagakan Lisa padamu..."
Tangan penuh harapan itu... membuatku berkedip tidak percaya hingga perlahan seluruh pandanganku berubah jadi putih, dan...
◐Siuman◐
"HUAAHH...!!!" Aku langsung terbangun dari mimpi panjangku.
__ADS_1
"Firza! Kamu kenapa?!" tanya Ibu yang langsung terkejut melihatku seperti ini.
Kenapa ada Ibu dan Lisa di sini? Dan tempat biru muda macam apa ini? Kenapa aku juga bisa ada di sini? Aku berakhir di... sebuah ruangan yang banyak birunya, dan aku duduk di atas ranjang empuk dengan warna dominan juga biru. Aku tau aku suka warna biru, tapi aku tidak mungkin berakhir di tempat warna biru semua seperti ini.