Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
10-3. Dunia Lain


__ADS_3

Kalian tau apa yang aku lihat saat ini? Toko-toko berjejeran, warung makan dengan tenda, rumah dan perumahan, serta gedung-gedung yang tidak terlalu tinggi, semua itu sangat sepi dan kosong.


Juga jalanan tanpa kendaraan, sangat kosong tanpa suara bising knalpot, hanya terlihat motor yang tergeletak di tengah jalan, maupun mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Dan yang paling aku rasakan saat ini selain kekosongan itu semua adalah kehampaan, sunyi, dan sepi, sangat-sangat sepi. Padahal saat ini aku dan Lisa berada di ruang terbuka, tapi aku tidak pernah merasakan sesepi ini selama hidupku. Benar-benar mencekam.


Bahkan hutan pun masih terdengar suara-suara hewan, masih kalah dengan kota mati ini yang sama sekali tidak terdengar suara apapun selain suara angin yang berhembus di telinga.


Benar-benar mencekam, tidak ada yang bisa aku pikirkan selain ketakutan. Otakku benar-benar mampet, terus berpikiran buruk bahwa aku dan Lisa tidak bisa keluar dari sini, kota mati ini.


Berpikir bahwa aku sedang bermimpi juga tidak ada gunanya, karena berkali-kali aku menampar pipiku, aku masih bisa merasakan sakit, sementara Lisa menatapku bingung dan menyuruhku diam.


"Ini bukan mimpi, Fir! Karena kita berdua masih ada di sini jadi... ah aku tidak tau lagi apa yang terjadi, kenapa bisa-bisanya Bu Dewi membawa kita menuju ke tempat seperti ini?!" Lisa terlihat kesal sambil mengepal tangannya.


"Kamu... kamu tau caranya keluar dari sini?" tanyaku sambil memberikan semua harapanku pada Lisa, karena kutau dia punya indra keenam.


"Satu-satunya cara... kita harus meminta ijin dari si pemilik kota ini," jawab Lisa terdengar memelankan suaranya.

__ADS_1


"Apa maksudmu... bukannya Bu Dewi ya yang menyesatkan kita ke sini? Jadi kita harus meminta ijin Bu Dewi untuk keluar? Itu nggak mungkin!" Sewotku kesal dengan harapan yang hilang. "Lis! Jawab aku! Kita ada di kota mati yang gedhe banget! Ngga ada orang di sini! Kita ngga bakalan bisa kel-"


"Kita bisa keluar! Aku yakin kita bisa." Jawab Lisa setengah berteriak, terlihat harapannya juga mulai memudar dan ia hampir menangis. "Kita bisa Firza... kita pasti bisa! Aku yakin."


"T-tapi bagaimana?!" tanyaku mulai meredakan emosiku.


"Bukan Bu Dewi pemilik kota mati ini, karena Bu Dewi hanya menyesatkan kita saja. Tapi aku tidak tau pemilik kota ini," jawab Lisa mencoba tegar.


Berkali-kali aku menoleh Lisa, lalu ke arah sekitarku. Entah kenapa ketika aku melihat ke arah sekitarku, harapanku untuk keluar dari kota mati ini benar-benar pupus tanpa jejak, seolah harapan telah hangus dengan mataku yang ketakutan sebagai pemantik apinya.


Sementara ketika aku melihat Lisa... sedikit harapan muncul, dan dia membuatku berpikir bahwa aku tidak sendirian di kota yang besar ini. Walaupun kami hanya berdua, dan di sekitarku benar-benar tidak ada orang, aku terus mencoba untuk berharap pada Lisa bahwa kami berdua bisa keluar dari tempat mengerikan ini.


Semoga aku baik-baik saja dan bisa keluar dari tempat menakutkan ini untuk menyapa orang-orangku.


"Kita... kita coba jalan dulu yuk," Lisa terdengar mencoba untuk menenangkanku dengan bersikap seru.


"O-oke." Jawabku ragu, sepenuhnya ragu.

__ADS_1


Kami mulai jalan, mengambil jalan lurus ke depan daripada berputar balik. Aku bertanya kenapa dia mengambil jalan ke depan dan bukannya ke belakang, arah bus sebelum menurunkan kami. Tapi Lisa menjawab bahwa, mencari jalan keluar lewat jalan yang kami lewati saat memasuki tempat ini, itu tidak ada gunanya. Seolah jalan keluar tertutup, dan satu-satunya cara adalah menantang si pemilik kota mati ini, atau meminta ijin padanya untuk keluar.


Kukira itu masuk akal jika di dunia gaib, tapi agak janggal ketika penjelasan Lisa di dengarkan di dunia manusia.


Perjalanan baru terasa beberapa menit. Aku dan Lisa jalan berdua, tidak ada unsur romantis sama sekali di sini, selain rasa takut. Walaupun aku menoleh ke arah Lisa yang saat ini terlihat cantik, tapi aku merasa tidak berguna jika dalam ketakutan nuansa horor.


Selalu memperhatikan sekitar, rumah dan setiap rumah telah kupantau. Biasanya rumah yang aku pantau memiliki jendela yang tabirnya akan bergerak sendiri dengan gerakan berlawanan dari arah angin, seolah ada makhluk halus yang menggerakkan.


Oh iya aku lupa mengatakan kalau angin yang berhembus di kota mati ini lumayan kencang juga, bahkan rambut Lisa terlihat berkibaran seperti bendera terkena angin. Dia memang benar-benar terlihat cantik hari ini, tapi sudah kubilang dari awal kalau itu tidak ada gunanya, karena saat ini aku sedang dalam ketakutan bersama Lisa. Mungkin jika kami berada di dunia nyata, ku akan bangga mengajak jalan perempuan secantik dirinya.


Kembali lagi ke realita yang menakutkan.


Sepanjang jalan, aku juga mengamati toko-toko, dan terus berharap tanpa henti bahwa seseorang akan muncul dari salah satu tempat sambil menjelaskan tempat macam apakah ini dan bagaimana cara keluar dari sini dengan aman.


Hari juga terlihat mulai gelap, warna merah di langit hampir memudar, dan akan berubah menjadi warna biru keunguan. Sementara jalan yang aku dan Lisa masih tetap lurus ke depan, tidak ada hal aneh yang aku temui lagi, karena seluruh tempat ini memang aneh.


"Kita akan bermalam di mana? Dan kita akan makan apa nanti?" tanyaku pada Lisa untuk berjaga-jaga. Sebenarnya aku tidak ingin menanyakan ini, tapi mau tidak mau harus kutanyakan.

__ADS_1


"A-aku... aku juga tidak tau." Jawab Lisa sambil menunduk dan menggeleng.


__ADS_2