
Perempuan itu tidak percaya, dia langsung terkejut dengan ajakan pertemananku.
Hehehe... aku pikir dia sebaya denganku, jadi aku tidak segan berteman dengannya. Aku juga tidak pernah memiliki teman perempuan sebelumnya, jadi aku kira jika kami berteman, pasti akan menyenangkan.
Ini adalah pertama kalinya aku berkenalan dengan perempuan.
"Jangan bengong, nanti kesambet loh!" Sewotku pada perempuan itu, dan mata kami terus beradu.
Aku merasa berbeda ketika berada dekat dengannya, seolah sifat kesendirianku menghilang, dan berubah menjadi sikap yang mungkin cukup friendly.
"O-oh iya maaf," dia langsung tertawa setelah aku ingatkan, dia nampak gugup setelah terkejut. "Namaku Lisa, kalau namamu siapa?"
"Namaku Firza, kata guruku, nama Firza itu adalah nama perempuan. Tapi aku nggak peduli, kamu tetep bisa panggil aku 'Firza'!" Jawabku sambil mengutarakan kekesalanku ketika mengingat guruku pernah berkomentar tentang namaku.
Perempuan yang baru aku kenal itu, dia bernama Lisa, dia hanya tertawa di sampingku setelah mendengar kekesalanku.
Apanya yang lucu? Aku cukup penasaran. Tapi dia terlihat asyik juga. Orang asyik seperti dia, apa benar sama sekali tidak memiliki teman sepertiku?
"Kenapa tertawa? Nama ini pemberian orang tuaku tau!" Aku berpura-pura kesal padanya, hingga tawanya mulai reda. "Kamu orangnya lucu, kamu pasti bisa dapet temen, tapi kenapa kamu milih menyendiri di sini?"
"Aku orangnya lucu ya? Hehehe, aku jadi besar kepala. Tapi nggak kok, dulu aku memang punya banyak temen di desa, tapi... sekarang sudah nggak ada." Balas Lisa dengan wajah ceria.
Sepertinya obrolan ini akan menjurus ke hal yang menyedihkan, lebih baik aku tidak usah bertanya padanya lagi daripada ekpresi wajahnya berubah dari yang awalnya ceria menjadi sedih.
Walau aku benar-benar penasaran, karena dia adalah perempuan yang ceria, bagaimana bisa teman-temannya sudah tidak ada lagi sekarang? Apa teman-temannya pada pindah rumah?
"Karena temen-temenku udah pada nggak ada, temenan sama kamu mungkin pilihan yang bagus juga. Katanya kamu juga nggak punya teman, 'kan? Aku juga sama, mungkin kita bisa jadi sahabat!" Ucap cepat Lisa, wajahnya mendekat ke arahku dengan tatapan senang dan tersenyum.
Aku langsung memalingkan wajah karena malu sambil berkata, "M-maaf, aku malu, aku nggak pernah punya temen perempuan."
"Yah, jadi nggak nih? Ayo salaman!" Ajak Lisa terdengar bahagia.
__ADS_1
Dia akan menjadi teman perempuan pertamaku, masa aku tidak menginginkannya? Pastinya aku ingin itu, aku ingin kita berteman. Walau orang pendiam sepertiku gampang malu, tapi apa boleh buat? Daripada aku tidak memiliki teman perempuan sama sekali.
Perlahan aku menoleh ke arah Lisa, seakan aku tidak ingin terlihat murah. Mungkin jika aku menoleh ke arahnya secepat kilat, dia akan terkejut dan akan berpikir bahwa aku adalah anak yang aneh, aku tidak ingin kejadian seperti itu.
Jadi, aku pun mulai tersenyum lalu meraih tangannya untuk berjabat tangan. Tangan kami saling berdansa, mata kami saling beradu, dan senyuman kami juga mengembang.
"Sebenarnya aku orang yang pendiam, tapi..." Ucapku tidak melanjutkannya.
"Tapi kok kamu nggak kelihatan seperti anak pendiam?" tanya cepat Lisa sambil menertawaiku, aku pun jadi ikutan tertawa. Terdengar nada ledekan di kalimatnya.
Aku merasa seperti... aku sedang menertawai diriku sendiri karena pertanyaan Lisa.
Apa dari sudut pandangnya memang begitu? Apa aku tidak terlihat seperti anak pendiam di matanya?
"Auramu kelihatan bercahaya, terang banget! Maka dari itu aku ingin kenalan sama kamu, karena kayaknya juga kamu orang yang baik. Aku juga sekalian pengen tanya, kok auramu bisa seperti itu?" Lisa kembali bertanya, tapi pertanyaan ini lebih serius dari sebelumnya.
"Maksudmu?! Aura apa?!" tanyaku kebingungan.
Dari kartun yang aku tonton sih... tunggu-tunggu, aku masih tidak paham. Dia ingin mengatakan kalau aku itu baik atau bagaimana? Kalimat Lisa sulit dipahami, seolah pelajaran Bahasa Indonesia-nya selangkah di depanku. Apa aku harus yakin kalau dia memang sebaya denganku?
"Oh, nggak paham ya? Lebih mudahnya sih kamu kelihatan kayak orang yang baik di mataku," lanjut Lisa lebih mudah dipahami.
"Ooohh... gitu dong, aku sedikit lebih paham, Lisa!" Tanggapku sambil tertawa malu.
Kami berdua tertawa bersama di tengah-tengah sore menuju malam hari.
Di pinggir sungai sambil menikmati suasana, kami sama-sama melihat ke depan. Di seberang sungai ini terdapat hutan yang cukup lebat, kuharap tidak ada hewan buas di sana yang akan keluar.
Suasananya begitu menenangkan ketika aku berada di dekat Lisa, jadi begini ya rasanya memiliki seorang teman perempuan? Sangat bahagia. Aku jadi tidak sabar untuk dewasa, lalu melihat apa yang akan terjadi pada hubunganku dan Lisa selanjutnya, karena aku harap hubungan kami tidak akan pernah terputus.
Aku tidak ingin kami berpisah, aku ingin melihat bagaimana hubungan kami berlanjut sampai dewasa.
__ADS_1
"Sudah sore, kamu kenapa nggak pulang?" tanya Lisa secara tiba-tiba mengejutkanku dari hayalan bahagiaku.
"Eh? Kamu ngusir ya?" tanyaku balik sambil tertawa.
"E-enggak, bukan bermaksud ngusir kok!" Jawab Lisa ikutan tertawa, matanya terlihat seperti merasa bersalah. "Apa kamu nggak dicariin orang tuamu?"
Aku diam sebentar karena aku baru ingat sesuatu. Lisa mengingatkanku pada Ayah dan Ibu, mungkin mereka mencariku dan mengkhawatirkanku, dan mungkin juga aku dan Lisa akan berpisah sekarang.
Perpisahan? Tapi aku tidak menginginkannya, aku ingin lebih lama di dekat Lisa karena dia bisa membuatku tenang dan bahagia.
"Memang Lisa juga nggak dicariin orang tuanya?" tanyaku pada Lisa untuk mengembalikan posisiku, juga agar aku bisa lebih lama berada di dekatnya.
"Aku udah nggak punya orang tua," Lisa menjawab sambil tersenyum.
Mungkin aku salah bicara, tidak, bukan mungkin lagi, tapi memang aku salah bicara.
Seharusnya aku tidak menanyakan itu, walau aku sebenarnya memang tidak sengaja karena tidak tau. Semoga Lisa tidak tersinggung atas pertanyaanku.
"Aku minta maaf ya, aku nggak tau kalau kamu-" Ucapku tapi langsung dipotong.
"Nggak papa, kamu memang belum tau dan nggak patut disalahin. Lagipula, sekarang kamu sudah tau, 'kan kalau aku nggak punya orang tua?" potong Lisa, dia tersenyum polos seolah tidak terjadi apa-apa padanya.
Mengangguk dengan senyuman tipis mungkin satu-satunya cara untuk menanggapinya, karena aku tidak paham lagi dengan apa yang harus aku buat setelahnya. Sementara Lisa juga tersenyum lalu menghadap ke depan setelah aku mengangguk tadi.
Aku merasa keadaan sedikit berbalik, aku merasa agak canggung sekarang.
Sembari menonton matahari terbenam di sore hari ini, aku mencoba merilekskan diri. Selain karena peristiwa barusan, aku juga mudah gugup karena mungkin aku jarang mendapatkan seorang teman, apalagi teman perempuan.
Matahari sudah hampir terbenam di depan kami, warna kemerahannya yang menghiasi langit membuat suasana di sini lebih tenang, sekaligus menandakan bahwa pertemuanku dengan Lisa akan berakhir sebentar lagi.
Dipikir-pikir lagi, aku harus mengatakan padanya bahwa aku ingin kami bertemu di sini lagi besok.
__ADS_1
"Lis, besok kamu-" Ucapku dipotong secara tidak sengaja.