Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
7-3. Ini Lisa : Fakta


__ADS_3

"Nakk... terima kasih yaa!!" Ucap Ibu itu langsung memelukku sambil menangis. "Terus bagaimana dengan keadaan Firza?? Dia baik-baik saja, 'kan??"


Aku harus menjawab apa? Aku bingung seperti seseorang yang maju kena mundur kena, serba salah. Apa harus aku jawab jujur saja ya sambil mengelus punggung Ibunya Firza agar dia sedikit lebih rileks?


"Firza... masih koma daritadi siang. Kata suster, jika dia bisa melewati masa kritisnya, dia pasti bisa selamat," jawabku semampuku.


"Memangnya berapa persen kemungkinan selamatnya??" Ibunya Firza bertanya lagi, tapi kali ini membuatku langsung terkena migren.


"K-kalau itu... saya tidak tau, maaf ya, Bu!" Ujarku dengan nada kecil.


Seperti tersambar petir di siang bolong, Ibunya Firza langsung lemas dan terduduk di kursi tunggu di depan ruangan Firza. Aku langsung ikut duduk di sebelahnya sambil mengelus punggungnya agar ia sedikit lebih rileks.


Tapi yang namanya seorang Ibu mendengar kabar miris dari anaknya, pasti apa yang aku lakukan tidak bisa terlalu membuatnya tenang.


Tapi di sini, di tengah isak tangisnya yang membekas, ia malah berterima kasih padaku karena katanya, aku membuatnya sedikit lebih tenang. Dan ia bersyukur bahwa Firza memiliki teman yang baik hati sepertiku.


Aku dan kedua orang tuanya Firza harus menunggu lagi di sini berjam-jam. Namun kabar bahwa Firza siuman belum pernah terdengar sampai akhirnya dokter menyuruhku dan kedua orang tuanya Firza untuk masuk ke dalam dan melihat keadaan Firza saat ini.


◐◐◐


Keesokan harinya di sekolah, semua orang sudah tau kabar mengenai Firza masuk rumah sakit kemarin. Tidak tau bagaimana kabar itu bisa beredar lebih cepat, sementara yang aku tau tentang kabar selanjutnya hanyalah Firza belum siuman sampai saat ini.


Alias dia masih dalam koma di rumah sakit, dan tidak boleh dijenguk oleh banyak orang.


Aku sudah menyampaikan ini barusan kepada Febi, dan Febi langsung mengumumkannya kepada seluruh siswa di kelas ini. Kalau begitu, sekarang urusanku sudah beres.


Hanya Firza yang tidak berangkat hari ini, aku jadi kangen dengan drama kelucuannya di sekolah, dan selalu mengajak aku mengobrol dengan modal memutarkan tubuh ke arah belakang karena memang dia duduk di depanku.


"Eh Lis, kamu kok tau banyak kalau Firza masuk rumah sakit?" tanya Anie setelah menghampiriku.


Tunggu, aku jadi bingung, kenapa dia tau kalau aku tau banyak kalau Firza sedang di rumah sakit? Tunggu lagi, apa kalimatku dalam benak ini terlalu berbelit dan susah untuk dicerna?

__ADS_1


"Aku kemarin melihat kejadiannya, aku juga ikut mengantarkan Firza ke rumah sakit." Jawabku datar dan memalingkan wajah.


Anie yang mangut-mangut, menarik perhatian Atma untuk datang. Atma benar-benar seperti lebah yang mengikuti ratunya. Tapi lebih menyebalkannya lagi adalah ketika Atma baru saja datang, dan memintaku untuk menjelaskan kejadian kemarin dengan lebih detail, juga dengan keadaan Firza yang luka parah dan dia belum siuman sampai saat ini.


Seperti seorang pendiam lainnya, aku bercerita tidak begitu lancar dengan wajah yang lebih sering terlihat datar. Tapi entah kenapa cerita yang aku sajikan dengan ekspresi seperti ini, malah membuat suasana di antara mereka berdua menjadi lebih tegang dan seru.


Suasana kelas macam apa ini? Orang-orang di kursi belakang sepertiku, Anie, dan Atma sedang bersitegang dengan ceritaku.


Sementara Dexter dan Febi juga bersitegang, bedanya mereka sedang berdebat seperti biasanya, tidak pernah akur. Sedangkan teman-teman lainnya, mereka ada yang bernyanyi bersama, bermain game online bersama, dan ada yang sedang tidur.


"Ouhh... gitu ya, serem juga ya? Menurutmu... ada kejadian mistis nggak yang menimpa Firza? Yang buat Firza kecelakaan?' tanya Atma tiba-tiba mengganti suasana.


""Maksudnya??"" Anie dan aku terkejut bersamaan.


"Kalian nggak tau? Firza, 'kan orangnya nyeleneh, nggak punya tata krama, dan suka nantang sesuatu yang mistis, 'kan di rumah kosong. Bisa aja... setan yang diganggu Firza, kali ini lagi balas dendam." jelas Atma sekaligus bertanya hal yang konyol.


Aku tau pertanyaan itu konyol, tapi tidak ada yang salah dari penasarannya. Kalau bisa saja bagaimana? Karena sejauh ini, yang aku tau... hal seperti yang dikatakan Atma itu bisa saja terjadi, bahkan sangat bisa. Tergantung kuatnya iman.


Ah tidak-tidak, tidak mungkin.


Tidak mungkin sampai sejauh dia mengganggu seekor iblis atau makhluk halus kuat lainnya. Aku akan mengurungkan pikiran buruk ini sedalam-dalamnya.


"Hush! Ga boleh gitu tauu!!" Saut Anie dengan ekspresi serius. "Ini bukan buat bercandaan, Atmaa!!"


"Tapi yang aku bilang bener, 'kan? Dia orang paling berani di kelas. Kamu inget waktu kemah dulu, Nie? Waktu Pak Slamet nyamar jadi pocong di pinggir kelas? Itu, 'kan Firza yang nendang sampe Pak Slamet kesakitan dan akhirnya Firza minta maaf!" Ujar Atma sambil mengingat kejadian yang baru aja dia jelaskan.


"I-iya sih, bener juga ya?! Aku baru inget, dia orang yang paling berani... malahan kupikir dia orang yang paling berani tentang horor di sekolah." Tambah Anie.


"Nahh!! Apa gara-gara Firza orangnya absurd, pikirannya jadi keluar nalar gini ya?" tanya Atma mencoba membuat konspirasi baru.


"Tunggu... apa yang kalian bicarain itu beneran? Nggak bercanda, 'kan?" Aku menghentikan obrolan mereka dengan pertanyaan.

__ADS_1


Seketika Atma dan Anie bengong menatapku, dilanjut tiba-tiba mereka saling menatap seperti orang yang sedang bermesraan, lalu kembali menoleh ke arahku sambil menggelengkan kepala.


Tunggu, kalian seolah menjawab "Tidak", tapi kalian menjawab pertanyaanku yang mana? Aku membuat 2 pertanyaan barusan, dan kalian hanya menjawab satu kali, kemudian dilanjut bengong menatapku.


"Kami engga lagi bercanda, Firza emang bener-bener pemberani," jelas Atma.


"Jangan terlalu kaget dong, Lis! Iya sih wajah Firza enggak meyakinkan, tapi kami nggak bercanda kok, kalau orang yang selama ini ngedeketin kamu itu adalah orang paling pemberani di kelas," tambah Anie mencoba meyakinkanku.


Apa karena sifat positifnya yang membuatnya tidak takut hantu? Apa dia belum pernah melihat setan? Atau dia bodo amat dengan kehadiran makhluk halus yang ada? Kalau bodo amat, sepertinya tidak.


Obrolan mereka tentang Firza, membuatku cukup terkejut. Seperti istilahnya "Kuat dari dalam", apa benar Firza seperti itu? Mengingat dia adalah orang yang positif sekali, seolah bisa bercahaya ketika berhadapan dengan makhluk halus yang ingin mengganggunya. Ditambah ternyata dia juga seseorang yang pemberani.


"Kalian kenapa? Lagi cerita tentang Firza ya? Gimana kronologinya?" Dexter tiba-tiba mengetahui keberadaanku, dan ingin nimbrung bersama kami.


"Ah kamu telat! Lisa nggak bakal cerita lagi untuk kesekian kalinya!" Sewot Atma langsung berdiri menghalangi jalan Dexter.


"Telat sih telat, tapi kamu jangan deket-deket Anie juga dongg, Atmaa!!" Tambah Febi bergegas menghampiri meja belakang.


"Aku enggak papa kok, Feb!" Ujar Anie sambil tersenyum.


Aku pasrah. Beberapa detik lagi, pasti kerusuhan akan terjadi di sekitar meja belakang, termasuk di mejaku.


Coba saja kalau Firza ada di sini, pasti dia bisa langsung melerai semua kerusuhan ini hanya untuk membuatku tidak ikut campur ke dalam kerusuhan Febi, Dexter, dan lainnya.


Tapi apa boleh buat jika Firza hari ini tidak berangkat?


Aku benar-benar rindu dia, duduk di depanku, dan kebiasaannya yang suka mengajak obrol berdua denganku. Beberapa rahasiaku kadang hanya disimpan untuk dirinya sendiri, entah untuk apa.


Dia juga sering melindungiku dari kerusuhan Dexter dan Febi. Atau ketika dia sering tertidur di kelas setelah jam pelajaran berganti.


Tapi sayang sekali, dia baru saja mengalami kecelakaan, bahkan belum siuman. Entah sampai kapan dia akan tak sadarkan diri, tapi aku benar-benar rindu. Aku akan mengunjunginya di rumah sakit setiap hari.

__ADS_1


(POV kembali ke Firza)


__ADS_2