
"Sekarang pukul 16.54," jawabku setelah secepat kilat mengecek ponsel.
"Kamu enggak sadar?" tanya Lisa lagi tidak habis pikir.
"Sadar apa?" tanyaku masih bingung dan polos.
Seketika Lisa langsung menepok jidatnya, seolah ada yang salah denganku beserta otakku yang sedikit agak lemot ini. Memang apa yang salah? Apa jawabanku salah?
Memang sekarang, 'kan pukul 16.54 seperti apa yang ada di jam ponselku, bisa terlihat dari langit kemerah-merahan yang terlihat jika aku menoleh ke arah luar bus. Oh iya, jika langit terlihat sudah sangat sore, kenapa aku masih ada di dalam bus ya? Apa masih belum sampai tujuan ya?
Aku berdiri, menoleh ke kanan dan kiri, semakin detik semakin khawatir. Berkali-kali mengecek jam di ponselku, tapi semakin waktu angkanya bertambah besar, alias waktu memang masih terus berputar.
Kenapa aku masih bisa ada di bus ini? Dan jika rumahku sudah terlewati dari rute, terus kenapa Lisa juga ada di sini seolah rumahnya juga terlewati?
Bukan masalah bus ini telah melewati rumah kami atau tidak, tapi bagaimana kalau bus ini memang tidak melewati rumah kami? Apa ini yang dimaksud Lisa soal kejanggalan itu?
"Lis, kita masih belum turun?" tanyaku masih khawatir.
"Itu yang aku maksud daritadi! Kupikir kita memang tidak akan turun sampai..." Lisa tiba-tiba tidak melanjutkan ucapannya lagi, dan tatapannya berhenti ketika mulai mengamati orang-orang dalam bus ini.
"Sampai apa??? Kamu lihat apa??? Kenapa dengan... mereka...??" tanyaku mulai memelankan suaraku dengan sejuta pertanyaanku, hingga kupikir aku harus berhenti berbicara ketika tau suasana apa yang aku hadapi saat ini.
__ADS_1
Suasana yang sunyi di bus yang memiliki cukup banyak penumpang ini, mungkin terasa agak jangkal jika ditambah dengan mereka yang terlihat diam dengan tatapan kosong. Selain rute bus ini yang membuatku dan Lisa tidak turun-turun, penumpang di sini juga pada aneh-aneh. Ada apa dengan para penumpang bus ini?
Tatapan kosong mereka tampak mengerikan ditambah dengan bumbu kesunyian di bus ini, hingga membuatku tak sadar kalau bus ini mulai melewati jalanan di tengah hutan. Kanan dan kiri hanya tampak pepohonan yang rimbun sore hari, membuatku berpikir bahwa aku akan menyasar ke suatu tempat setelah ini.
"Kita turun aja yuk, Lis!" Ajakku setengah ketakutan. "Kamu... kamu beneran Lisa, 'kan?"
"Pertanyaan aneh macam apa itu? Aku memang Lisa! Tapi saat ini, kayaknya kita engga bisa turun sekarang." Jawab Lisa meyakinkan.
Dia benar-benar Lisa yang aku kenal, ya walaupun agak sewot tidak seperti biasanya. Tapi aku yakin dia manusia, tidak seperti orang-orang penumpang di bus ini, mereka yang diam dengan tatapan kosong seolah mereka itu tidak ada.
Aku merasa tidak terlalu kesepian sekarang, karena aku bisa memastikan Lisa adalah manusia dan dia pasti akan menemaniku di masa yang akan jadi sulit ini. Aku yakin masa ini akan menjadi sulit, jikalau apa yang aku takutkan seperti tersesat di hutan terjadi.
Minimal aku tidak sendirian, karena ada Lisa di dekatku, walau aku jadi merinding lagi kalau mengingat dia memiliki indra keenam dan bisa saja menjadi incaran makhluk halus.
"Kenapa kita engga turun..." Niatku ingin mengajak Lisa, harus pupus karena ada sesuatu yang membuatku tidak melanjutkan ucapanku.
Tiba-tiba bus mengerem diiringi dengan suara decitan rem yang terdengar jelas dan nyata di telingaku.
Bus mulai berhenti ketika aku juga mulai tidak memperhatikan jalanan sekitar, sampai di mana kami sekarang? Terakhir kali aku memperhatikan, yang aku tahu hanyalah kami berada di hutan melewati jalanan beraspal.
"Fir, lihat ke luar jendela!" Seru Lisa menyuruhku dengan nada tegas.
__ADS_1
"Kita ada di... kota? Sekarang kita sudah sampai di kota mana?" Aku masih bertanya-tanya penasaran, yang kulihat ada banyak rumah, rumah sakit, toko-toko, dan lain sebagainya seolah kami sudah sampai rumah.
Entah kenapa tubuhku reflek mulai bergerak, berdiri sambil menatap keluar, berjalan menuju pintu keluar bus ini untuk turun dari bus. Aku mendengar teriakan Lisa memanggilku untuk tidak meninggalkannya, tapi entah mengapa langkah kakiku tidak bisa dihentikan dengan telingaku yang agak kopong dan kesulitan mendengarkan panggilan Lisa.
Berjalan dan masih fokus ke luar jendela, mataku seolah tidak percaya bahwa kami sudah ada di kota dan kurasa kami tidak akan tersesat di hutan. Aku hampir tersenyum bahagia mengira hari ini tidak akan menjadi masa yang sulit bersama Lisa.
"Heh! Sudah kubilang tungguin aku!" Lisa menepuk pundakku dengan kesal ketika kami sudah sama-sama turun dari bus dan baru beberapa langkah.
"Hahahaha... kalian sudah sampai! Selamat tinggal!" Ucap seseorang dari dalam bus dengan suara besar seperti tokoh jahat.
Reflek aku dan Lisa langsung menoleh ke arah bus di belakang kami. Dan benar saja, kami melihat Bu Dewi berdiri di pintu bus yang masih terbuka. Dia terlihat kejam dengan tatapan tajam dan senyuman jahatnya.
""BU DEWI?!"" Aku dan Lisa berteriak bersamaan karena terkejut tidak percaya.
Lagi-lagi Bu Dewi tertawa dengan suara besar dan jahat tanpa henti, sebelum akhirnya pintu bus tertutup sendiri dan bus pun mulai berjalan dan melaju kembali meninggalkanku dan Lisa di sebuah kota yang tidak kami ketahui.
Bu Dewi? Aku mengingat dia adalah orang yang jahat dan hampir kehilangan kontak dengan dunia nyata, seharusnya jika dia ada di sini... ah! Aku takut berpikiran yang aneh-aneh karena kedatangannya yang selalu menimbulkan bencana. Yang terpenting saat ini, kita sudah sampai di kota, bukan tersesat di hutan.
"Fir, kota ini sepi ya? Kita ada di mana?" tanya Lisa terdengar agak takut, dan tumben dia punya banyak pertanyaan, yaitu dua.
"Tunggu-tunggu..." Aku mulai sadar akan sesuatu yang ada di sekitarku saat ini. "Bukan, kita bukan sedang berada di kota biasa, Lis! Tapi sekarang kita sedang berada di kota mati!!"
__ADS_1