
(POV kembali ke Firza)
Ah... mungkin ini adalah hari senin yang cerah, aku bisa merasakan kebahagiaannya mengalir di pembuluh darahku.
Sambil mengunyah makanan di mulut, aku berpikir, hal menarik apa saja ya yang akan terjadi di hari ini? Aku menantikannya. Semangat hari senin!!
"Fir, denger-denger, akhir-akhir ini sering kejadian kesurupan di sekolahmu ya?" tanya Ibu ketika kami sedang di meja makan untuk sarapan.
Aku langsung batuk ketika mendengar Ibu memulai obrolan yang tidak terlalu bagus topiknya.
"Iya, Bu, malah salah satunya ada temen sekelasku yang kesurupan!" Jawabku tertawa malu sambil menggaruk-garuk kepalaku.
"Ooohh gitu ya, hati-hati ya, ngerepotin orang lain kalau kamu kesurupan!" Balas Ibu bercanda.
"Nyam-nyam-nyam, wuuiihhh... mengerikan!" Tambah Bapak ikut bercanda, tapi entah kenapa wajahnya tampak datar. "Firza nggak bakal kesurupan, soalnya Firza, 'kan kuat, berasal dari Texas!"
Aku tertawa malu mendengar kalimat yang dilontarkan kedua orang tuaku. Andai mereka juga tau kalau aku pernah membantu menyadarkan temanku Atma yang sedang kesurupan, tapi apa mereka bakal bangga ya? Sepertinya membantu menyadarkan orang kesurupan bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan sih. Jadi ya sudahlah, akan kupendam cerita ini.
"Oiya, Bu, aku kangen Pusi! Pusi boleh aku bawa pulang ya? Ya, ya, ya? Aku takut dia nanti kenapa-kenapa di sekolah," mohonku seperti seorang anak kecil.
"Tapi janji kalau kamu nanti bersihin pupnya yang sembarangan?" tanya Ibu mencoba memastikanku.
Wah, kalau itu aku tidak bisa janji, tapi apa boleh buat? Ini demi membawa kucing istimewaku pulang.
"J-jan... jan... janj-"
◐◐◐
"Lisa! Tungguin!" Teriakku memanggil Lisa ketika aku baru saja turun dari motor di parkiran sekolah dan tidak sengaja melihatnya yang juga baru saja sampai di sekolah.
__ADS_1
Masih di halaman sekolah, Lisa menoleh ke arahku sebentar, tersenyum tipis selama sedetik, kemudian melihat ke depan lagi untuk fokus berjalan. Hatiku langsung berbunga-bunga melihat senyuman singkatnya itu.
Ah, aku terpana. Aku langsung bersemangat untuk mengejarnya, berharap kami berdua bisa jalan bersama menuju ke kelas sambil mengobrol.
"Tungguin, Lisa! Soalnya jalanmu gesit juga, kayak Atma yang lagi kesurupan macan!" Cetusku berteriak, entah itu ejekan atau pujian aku tidak tau.
Masih selangkah lagi aku bisa menyamai langkah kakinya, tapi karena terlalu lelah, aku tidak ingin memaksakan diri dulu. Bahkan dari sudut pandangku yang berada di sebelah Lisa, aku tidak bisa melihat wajah cantiknya pagi hari ini.
Bahkan Lisa juga tidak ingin berhenti berjalan untuk memberiku napas dulu, agar kami bisa berjalan berdampingan seperti seorang...
Perhatianku langsung terhenti ketika Lisa... dia...
Tiba-tiba Lisa tertawa pelan, dilanjut kalimatnya yang tidak terlalu ekspresif. "Orang lain hanya memanggilku 'Lis' untuk mudahnya. Tapi kalau kamu, entah kenapa dari kemarin selalu memanggilku lengkap 'Lisa'. Aku ngerasa agak..."
"Nggak papa, 'kan, Lisa? Oiya, aneh juga ya? Ya udah, Lis, aku nyerah deh. Aku kadang bakal manggil kamu 'Lis', dan kadang 'Lisa'. Tergantung sinkron ah, rasanya aku jadi ribet sendiri! Perasaan kemarin aku panggil kamu 'Lisa' langsung, nggak ada masalah," ribetku sambil mengacak-acak rambut karena bingung.
~(Suatu hari sebelum hari ini)~
"Enggak." Balas Lisa singkat, padat, dan jelas.
"Yaudah deh, aku pinjam bolpenmu, Lisa. Bolpenku tintanya habis," mintaku menghadap ke arah Lisa dengan wajah cemberut tidak semangat.
"Hah?! O-oke, ini," Lisa menyodorkan bolpennya untuk aku pinjam, dia terlihat kebingungan, mungkin karena topiknya tiba-tiba berubah.
"Hehehe... makasih, Lisa!" Jawabku melebarkan senyuman setelah dipinjamkan bolpen oleh Lisa, bolpen hitam biasa, tapi bau stroberi.
~(Kembali ke hari ini)~
Lisa mengangkat kedua pundaknya sambil melirikku, seolah sedang mengatakan, "Entah, mungkin cuma perasaanmu aja,".
__ADS_1
Ya, mungkin cuma perasaanku aja yang agak salah dengan panggilanku ke Lisa secara lengkap. Bisa-bisanya selama beberapa hari yang lalu, aku selalu memanggilnya dengan nama "Lisa" lengkap, bukannya "Lis" untuk mempermudahnya.
Ah lupakan saja masalah panggil-memanggil ini, kini kembali ke realita lagi.
Aku berjalan bersama dengan Lisa, dan akhirnya bisa menyamakan langkah kaki kami. Walau tidak ada obrolan saat ini, tapi bangga juga bisa berjalan di sampingnya menuju ke kelas.
Toleh kanan dan kiri, aku merasa orang-orang melihatku karena bisa jalan bareng Lisa, seorang siswi baru dan keren di sekolah ini.
Kami berdua berjalan bersama dari halaman depan sekolah, sampai masuk ke lobi. Tapi salah seorang pak guru di lobi, tiba-tiba mencoba menghalangi jalan kami dengan tubuhnya setelah melihat ke arah kami, seolah ada urusan dengan kami berdua yang membuatnya seperti ini.
"Saya sudah mencarimu daritadi. Ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan," ucap Pak Guru itu setelah berhenti tepat di depan kami, ternyata hanya untuk bertanya sesuatu pada Lisa. "Kejadian kemarin sabtu, ada 4 orang kakak kelasmu yang terluka karena penyebab yang belum jelas, apa kamu tau sesuatu? Sabtu itu, beberapa siswa juga melihatmu pulang larut malam."
"Aku nggak tau, Pak." Jawab Lisa sambil menggelengkan kepala dan datar.
"Apa? Kamu nggak tau? Ini aneh..., tapi ya sudah. Mulai hari ini, ketika semua kelas, organisasi, maupun ekstrakurikuler sudah selesai, jangan sampai larut malam di sekolah, mending segera pulang saja! Karena akhir-akhir ini, saya sering menerima laporan tentang kejadian aneh dan supranatural di sekolah. Umm... kalau begitu, hanya itu saja yang ingin Bapak bicarakan. Jadi, pergi ke kelasmu sekarang, upacara sebentar lagi akan dimulai!" Ujar Pak Guru itu penuh tanggung jawab.
Setelah selesai diceramahi, kami pun dipersilahkan lewat. Dan seribu pertanyaan langsung membekas di pikiranku.
Jadi, hari sabtu itu, Lisa pulang larut malam?! Bukannya dia juga diajak oleh kakak-kakak kelas untuk uji nyali ya? Aku benar-benar ingat hari itu.
Aku memberanikan diri untuk meletakkan tanganku di pundak Lisa. "Kamu berbohong ya?!"
"Maaf, aku melakukannya biar terhindar dari masalah," jawab Lisa terlihat merasa bersalah, lalu melengos dariku sambil menunduk.
"Ya... ya udah nggak masalah juga sih. Lagipula, 'kan itu demi kebaikanmu ya, 'kan? Ehehe, mungkin kalau aku jadi kamu ya... aku juga bakal bohong sih! Tapi kayaknya," balasku sambil bercanda, mencoba mencairkan suasana kami.
Yah! Aku harap dia tersenyum tipis seperti biasanya.
Tapi aku tidak bisa melihatnya saat ini, karena dia selalu tersenyum singkat hanya sedetik, itupun ditambah dia sedang melengos dariku, memalingkan wajahnya ke bawah.
__ADS_1
Dan herannya, aku penasaran, apa selain dia terlihat keren, dia juga sebenarnya seorang gadis pemalu seperti ini?