
Aku akan mengurungkan niatku bertanya lagi pada Lisa. Aku tidak ingin membebaninya dengan ribuan pertanyaan hanya karena aku khawatir, sementara Lisa juga merasakan hal yang sama.
Aku seolah terlalu berpangku tangan pada Lisa, harusnya aku tidak boleh begini! Memalukkan jika seorang laki-laki malah yang berpangku tangan pada perempuan.
Tidak seperti biasanya jika aku jalan berdua dengan Lisa, kini suasananya terasa berbeda di dunia lain ini. Aku tidak ingin memaksakan topik agar kami mengobrol, lebih baik diam dan mengamati sekitar.
Selalu aku berpikir, jika aku terus berjalan dengan Lisa, aku pasti bisa keluar dari kota mati yang mistis ini. Walau jika dilihat-lihat lagi, Lisa juga terlihat penuh tekanan dengan ekspresi yang tidak tau arahnya ke mana. Tapi aku yakin dengannya, dia wanita yang hebat dan beda dari yang lain. Aku akan memasrahkan diriku padanya, walau mungkin kami tidak akan bisa keluar, setidaknya kami pernah mencoba.
Kembali lagi ke cerita saja. Jadi, aku dan Lisa sudah berjalan terlalu jauh tanpa mengenali tempat yang kami lewati.
__ADS_1
Entah sampai kapan kami akan terus berjalan, sampai mana juga kami harus berhenti? Sementara semakin waktu berlalu, semakin larut juga matahari terbenam.
"Lis, aku mengingat sesuatu soal ini. Uumm... mulai dari sebuah pertanyaan ringan." Ucapku sambil merangkai kalimat pertanyaan. "Sekarang sudah pukul berapa?"
"Sekarang pukul 17.41, Fir." Jawab Lisa hanya menatapku, tanpa menoleh ke arah lain.
Memangnya wajahku mirip jam dinding?! Lisa langsung bisa menjawabnya tanpa menoleh ke arah jam atau penunjuk waktu yang lainnya. Tapi... aku seperti merasa deja vu, aku merasa peristiwa seperti ini pernah aku rasakan sebelumnya bersama dengan Lisa. Kalau tidak salah...
"K-kok... maksudnya... tentang... aku merasa deja vu soal pertanyaan tadi, aku bertanya soal waktu, dan kamu tanpa menoleh langsung bisa menjawab pukul berapa sekarang ini. Kejadian ketika di rumah sakit? Apa bener?" tanyaku masih ragu-ragu untuk mengingat.
__ADS_1
Lisa terbelalak, terkejut dengan bibir yang mulai tersenyum tipis menatapku. Otomatis aku juga hampir tertawa karena kebiasaan reflekku, tapi karena suasana di sini masih mencekam, aku tidak jadi tertawa. Hanya ikut tersenyum saja sudah cukup.
"Kenapa?" tanyaku masih tersenyum ke arah Lisa.
"Aku kagum kamu masih mengingat kejadian ketika kita pertama kali bertemu, waktu itu kejadian di rumah sakit. Mungkin yang menyebabkan kamu susah ngingetnya, karena dalam waktu yang sama, Bu Dewi datang di peristiwa itu sekaligus menghapus ingatanmu tentangku di waktu itu." Jelas Lisa tanpa kuminta, tapi dengan bahagianya dia terus menatapku.
"Jadi... aku benar ya?" Aku ikutan melebarkan senyumku karena Lisa.
Lisa mengangguk dengan malu, sambil tertawa kecil menghadap depan. Aku terus menatap Lisa dengan senangnya, terus mengamati seorang pemalu yang tertawa dengan tangan yang terkepal di depan mulutnya.
__ADS_1
Entah kenapa suasana di sekitar sini jadi sedikit mencair, hanya karena kekaguman Lisa yang tertuang menjadi sebuah senyum sedikit tawa kecil.
Kami terus berjalan bersama. Bedanya, kali ini kami lebih santai untuk menghadapi apa yang akan ada di depan kami nanti untuk dihadapi. Aku juga tidak menoleh ke arah rumah demi rumah lagi, karena kupikir itu akan merusak suasana bahagiaku menjadi ketakutan, mengingat saat ini sudah hampir menjelang malam hari.