
(POV Lisa)
"Kamu enggak pergi main sama temen-temenmu, Lis? Kamu, 'kan sudah pindah sekolah," tanya teman satu kosku sebelum aku berangkat untuk membuka warung.
"Biarin dia, Lis! Hari libur kok pergi sendirian, nggak punya pacar ya?!" Sewot teman satu kos yang lain.
"Berisik kamu, Din!" Jawab kesal teman satu kosku itu. "Oiya, kamu... kamu udah dapet temen baru, 'kan, Lis?"
Ummm... kurasa iya, aku memiliki teman di sekolah. Aku merasa punya teman, tapi tidak tau jika mereka tidak menganggapku sebagai teman. Firza, Anie, Dexter, Febi, dan Atma, merekalah yang aku anggap teman saat ini.
Dan Firza... khusus untuk dia, mungkin dia yang paling dekat denganku daripada teman-teman yang lain. Entah kenapa seorang laki-laki bisa sedekat ini padaku.
"Ada 5 di kelas," jawabku sebelum bersiap-siap untuk pergi buka warung.
"Aku ikut senanggg!!" Teriak teman satu kosku yang tadi terus bertanya.
"Oy! Jangan teriak-teriak! Gua lagi nonton tivi!" Cerca Ibu Kos berteriak sewot dan kesal dari dapur.
Seketika teman-teman kosku langsung terdiam begitu Ibu Kos berteriak, sementara aku hanya diam karena sebelumnya aku tidak banyak bicara.
Oke, tidak ada yang dibahas lagi di sini, kalau begitu aku akan pergi untuk buka warung, sepertinya Bu Lela sudah menungguku di warung pecel lele miliknya.
Oiya aku lupa bilang pada teman-temanku, kalau aku menghidupi diriku sendiri dengan ikut bekerja pada orang lain, Bu Lela si pemilik warung pecel lele di pinggir jalan. Tapi toh, buat apa aku mengatakan semua ini pada teman sekelasku? Aku akan mengurungkan niat.
__ADS_1
Kata Bu Lela dulu, semenjak kehadiranku membantu jualan warung pecel lele miliknya, warungnya menjadi ramai pembeli. Entah itu dia berbohong karena kasihan padaku, atau Bu Lela memang jujur. Makanya dia mempersilahkanku bekerja sampai kapan pun itu ketika aku membutuhkan uang tambahan, benar-benar ibu yang baik. Dia juga satu-satunya orang yang memahamiku saat ini, ia berempati padaku. Aku menghormatinya layaknya Ibuku sendiri.
"Saya pergi dulu, Bu!" Ucapku pada Ibu Kos untuk berpamitan.
"Enggak usah salim! Acaranya tivinya lagi bagus nih! Udah sana, pergi saja!" Balas Ibu Kos yang galak.
Ibu Kos, aku menghormatinya seperti Ibu di rumah. Walaupun galak, tapi aku sudah terbiasa.
Aku tinggal di kosan ini juga sudah lebih dari 7 tahun, atau 10 tahun? Aku lupa, aku tidak ingat. Dan mungkin jika Firza mengenal Ibu Kosku, dia pasti akan berpikir bahwa Ibu Kos tampak seperti Mak Lampir.
Kalau dipikir-pikir, yup! Benar kenyataannya bahwa aku hanyalah seorang gadis yang hidup sebatang kara di dunia ini. Menganggap beberapa orang di hidupku adalah keluargaku, apa itu menyedihkan? Lalu, kenapa aku harus hidup? Entahlah, aku hanya menjalani kehidupan yang pahit ini, walaupun aku juga tidak takut mati.
Keluar dari pikiranku yang kotor dan kurang bersih. Aku berjalan keluar kosan, tampak langit cerah menyapaku, membuat pikiranku bersih seketika ketika memandang ke arah langit biru berawan.
(°ー°〃)
"Penjualannya lumayan, Bu!" Kataku pada Bu Lela yang sedang mencuci piring.
Setelah aku menghantarkan pesanan pada pelanggan, aku lantas berjalan mendekat ke Bu Lela untuk membantunya mencuci piring.
Jalanan yang bising karena warung kami berada di pinggir jalan raya, sepertinya membuat suaraku tidak bisa di dengar oleh Bu Lela.
"Sepertinya penjualan kita lumayan ya, Lis? Gimana kalau menjelang sore ini kita tutup saja warungnya? Kasihan kamu, hari libur masih aja bantu Bu Lela di sini. Lebih baik setelah ini kamu pulang," ujar Bu Lela seperti orang tua yang sayang pada anaknya.
__ADS_1
"Iya, Bu, terima kasih," balasku sambil tersenyum tipis.
Lanjut mengasahi piring, sementara Bu Lela berubah haluan menjadi seperti seorang kasir yang sedang menghitung uang. Jika aku melirik ke arahnya, sepertinya memang hari ini penjualannya lumayan juga, terlihat dari uang hasil yang di dapat.
"Lisa, kalau sudah selesai, tolong belikan Bu Lela bumbu masak di toko ya! Nanti Bu Lela kasih uangnya." Kata Bu Lela setelah selesai menghitung uang. "Setelah kamu selesai membelikan bumbu masak, Bu Lela akan tutup warung ini."
"Ini saya sudah selesai, Bu!" Tanggapku cepat walau tersisa satu piring lagi di tanganku yang belum diselesaikan.
Tidak sampai 10 detik untuk menyuci 1 piring, setelah selesai, aku langsung menghampiri Bu Lela untuk meminta uangnya. Sambil menunggu Bu Lela memberikan uang, aku melihat sekitar warung, tampak masih ada 2 orang pelanggan di sini. Apa Bu Lela sendiri yang akan mengurusnya? Kalau begitu baiklah.
Setelah mendapat uang dari Bu Lela, aku berjalan keluar dari warung dan mulai mencari tokonya. Aku sudah terbiasa pergi disuruh untuk berbelanja bumbu masak pecel lele, ada bumbu tertentu yang Bu Lela butuhkan. Tentunya aku juga sudah tau toko bumbu masak yang dekat dari sini.
Jaraknya cukup dekat, tapi saat aku berjalan ke arah sana, ternyata di tanggal merah ini, toko bumbu masak terdekat itu tutup. Yahh... kalau begitu, toko yang paling dekat dari sini selain toko ini, berjarak 1 Km lebih jauh. Lebih baik aku langsung saja pergi ke sana untuk membeli bahan masak, karena jika tidak sekarang, Bu Lela tidak akan bisa membuat pecel lele untuk besok.
Berjalan cepat, dan sesekali berlari, aku tidak ingin membuat Bu Lela terlalu lama menungguku. Tapi siang menjelang sore hari yang terik, membuatku sesekali juga harus menarik napas lelah. Bukannya tadi pagi menjelang sianh, langit terlihat berawan?
"Itu dia tokony-" Kataku sambil menunjuk toko bumbu masak setelah 1 Km perjalanan, namun harus dikejutkan dengan kerumunan orang di pinggir jalan.
Seperti gula yang dikerumuni semut, kali ini orang-orang itu sedang mengerumuni apa? Apa ada kecelakaan di sana? Aku ingin melihatnya sebentar sebelum menuju ke toko untuk membeli bahan masak.
Aku tidak pernah seingin ini untuk melihat korban kecelakaan. Melihat darah yang berceceran terseret menuju ke pinggir jalan, tempat orang-orang berkerumun, itu membuatku sangat penasaran untuk melihat korban dan lukanya. Bahkan jinjit saja aku tetap tidak bisa melihat korbannya, sampai akhirnya salah satu orang dewasa berteriak kesal untuk tidak berkerumun di sini.
"Firza!!" Spontan aku berteriak terkejut, tidak seperti biasanya aku seperti ini.
__ADS_1