Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
5-4. Kucing Kesayangan


__ADS_3

Kembali lagi di realita. Aku mulai berdiri untuk berjalan bersama dengan Lisa menuju ke ruang UKS.


Di kelas, banyak mata tertuju ke arahku, tapi aku tidak peduli dan bodo amat.


Alih-alih menunduk, aku malah mengangkat wajahku tinggi-tinggi. Pasti kalian sudah tau alasannya karena aku sudah sering mengatakannya berkali-kali, kalau aku bangga jalan dengan Lisa, walau hanya untuk jalan ke ruang UKS untuk mengambil kucing putih kesayanganku.


"Cek, cek, perhatian... untuk siswa kelas 11 bernama Firza, dimohon untuk menghampiri ruang UKS sekarang juga. Sekali lagi, untuk..." Ucap seorang Ibu Guru menggunakan mikrofon sekolah yang biasanya untuk pemberitahuan, agar suaranya terdengar keras. Ia juga mengulangi kalimatnya sekali lagi, diakhiri ucapan terima kasih.


Spontan aku menoleh ke Lisa dan Lisa juga melihat ke arahku, mata kami saling beradu hingga akhirnya aku tersenyum dan mengangguk.


"Kenapa?" tanya Lisa bingung, membuatku menepuk jidat.


Aku kira dia memikirkan hal yang sama denganku, ternyata dia sepertinya tidak berpikir apa-apa, cuma melihatku dan mungkin ingin mengatakan, "Itu, kamu dipanggil sama Bu Guru ke ruang UKS tuh," atau dalam mode lebih cuek.


Sebenarnya aku juga hanya berpikir bahwa kami harus bergegas agar cepat sampai di sana, makanya aku cuma mengangguk.


"Lis, karena kamu mau nemenin aku ke ruang UKS buat ambil kucingku, gimana kalau pulangnya nanti aku antar?" tawarku mengajaknya, berharap dia mau.


"Nggak usah, aku bisa naik angkot." Jawab Lisa cuma sedetik dia melihatku, lalu menunduk. "Aku mau antar kamu karena aku ingin lihat kucingmu,"


"Oh, kamu suka kucing ya?" Aku bertanya lagi, kali ini lebih ekspresif.


"Umm... kayaknya sih nggak tau," jawab lagi Lisa, tapi aku merasa jawabannya agak aneh.


Ada yang bisa menerjemahkan kalimat orang cuek? Aku pusing mendengarnya. Tapi jangan suruh aku untuk menjauhi Lisa, karena aku percaya bahwa cinta butuh perjuangan.


Mungkin perlahan namun pasti, aku bisa merubah Lisa menjadi sifat aslinya yang dulu, sebelum menjadi cuek seperti sekarang.


Aku tidak tau sifatnya yang dulu, tapi aku yakin dia adalah gadis periang semasa kecilnya. Mungkin karena beberapa insiden dalam hidupnya, membuatnya berubah menjadi gadis yang sekarang ini, yang biasa aku dan teman-teman kelasku kenal sebagai pribadi yang cuek.

__ADS_1


Keluar dari pemikiranku terlebih dahulu.


Aku dan Lisa berjalan bersebelahan di jam pulang sekolah. Kini aku merasa lega karena bisa menjauh dari teman-teman kelas, karena ketika aku dan Lisa sudah sampai di area halaman lantai 1, tidak ada yang mengenali kami, apalagi mengenali Lisa sebagai murid baru.


Jadi, senang saja bisa jalan dengan Lisa, lebih bangga lagi karena... tunggu, aku sudah sering mengatakan ini ribuan kali dalam sehari.


Waktu dipercepat saja. Akhirnya kami sampai di depan ruang UKS.


Tampak sepi di sini, kemungkinan anak PMR sedang tidak bekerja hari ini. Namun, saat aku membuka pintu ruang UKS yang sebelumnya tertutup, tiba-tiba aku melihat...


"Itu, Bu! Dia orangnya!" Tunjuk anak PMR yang tadi pagi, dan dia langsung mengadu ke Bu Guru setelah melihatku.


Waduh, ada musuh! Dan dia sekarang mengadu ke bosnya!


Mungkin bukan waktunya untuk lebay, karena keadaanku cukup genting saat ini. Berharap saja Bu Guru yang mengurus ruang UKS ini cukup baik hati untuk tidak memarahiku.


"A-anu, Bu, saya minta maaf karena tadi pagi saya..." Gugupku mencoba merangkai kalimat untuk beralasan, tapi Lisa yang berjalan menuju ke kandang berisi kucingku lalu bermain dengannya, membuat konsentrasiku buyar.


"Kamu suka kucing juga ya?" tanya anak perempuan PMR yang tadi, lagi-lagi mendekati Lisa yang sedang bermain dengan kucingku.


Lisa hanya melirik ke arah anak PMR itu dengan tatapan datar tanpa ekspresi, kemudian mengangguk sekali. Kemudian mereka melanjutkan mengobrol.


Konsentrasiku buyar melihat perbincangan mereka, tapi aku tetap mencoba untuk tidak mendengarkannya saja. Aku coba untuk fokus dengan alasanku, karena Bu Guru ada di depanku sedari tadi untuk menungguku.


Tapi entah kenapa aku kembali tidak fokus karena anak PMR itu mencoba kenalan dengan Lisa.


"Kamu kenapa? Ibu tunggu daritadi!" Ketus Bu Guru mulai kesal menungguku.


"A-anu, Bu! Tadi saya melarikan diri karena akan merepotkan kalau aku terus membawa kucingku di kelas saat pelajaran, jadi aku tidak membawanya tadi," jawabku seperti machine-gun karena kaget.

__ADS_1


"Huuuuufffttttt... baiklah, jawabanmu valid juga. Tapi jangan kabur-kaburan seperti apa yang dikatakan anak PMR yang melapor itu," balas Bu Guru sambil menunjuk ke anak PMR yang kini mencoba berkenalan dengan Lisa, anak PMR tadi pagi itu.


"I-iya, Bu, saya minta maaf!" Ucapku mulai mengembangkan senyuman terpaksa.


"Ya sudah, sana ambil kucingmu!" Suruh Bu Guru ikut tersenyum.


Kakiku sedikit gemetaran.


Huufftt... lega, aku beruntung karena tidak kena marah dari Bu Guru yang sudah menyiapkan wajah penuh emosi tadi. Dan aku tidak pernah menyangka juga, kalau membuat alasan dengan Bu Guru bisa secepat ini selesainya, tanpa pertanyaan menjebak darinya.


Setelah Bu Guru keluar dari ruang UKS, aku pun menghampiri kucingku yang kini sedang dikerumuni oleh 2 orang perempuan cantik, yang satunya cuek dan dingin, yang satunya lagi anak PMR menyebalkan, judes, dan sinis.


Anak PMR itu terus mengajak Lisa jabat tangan, tapi Lisa terlihat tidak mau, dia lebih memilih untuk memainkan kucingku dengan jari telunjuknya.


Dia lucu sekali.


"Huuft... udah selesai, Lis, lega banget. Aku kira bakal dimarahi tadi, eh ternyata enggak," ucapku berbicara pada Lisa, tapi aku merasa seperti berbicara sendiri.


"Oh, gitu ya? Bagus, nanti dulu ya, mau main!" Balas datar Lisa, akhirnya ada tanggapan juga darinya, membuatku cukup senang. "Oh iya, kucingmu lucu. Apa bener kucing ini punyamu?"


"Memang lucu, makanya dia jadi kucing kesayanganku!" Jawabku bangga.


"Kucing kesayangan? Tapi kok kemarin hari sabtu dibuang di sekolah, lalu berniat diambil lagi hari senin?" tanya anak PMR itu menyudutkanku, ekspresinya membuatku kesal.


Tuh, 'kan! Dia menyebalkan! Lebih baik aku ketus saja padanya mulai hari ini, berlaku sampai seterusnya hingga dia tidak menjadi anak yang menyebalkan lagi.


Lagaknya sambil melipat tangan, sikapnya kepadaku jauh berbeda dengan sikapnya ketika berbicara dengan Lisa.


Aku penasaran, apa banyak laki-laki yang menyukainya jika dia berpenampilan judes seperti ini? Aku tau kalau dia memang cantik, tapi tidak semua laki-laki akan nyaman dengan sifat judesnya ini, apalagi dia perempuan.

__ADS_1


__ADS_2