Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
9-5. Mengejar Lisa 2


__ADS_3

"Kayaknya Firza pengen ngejar Lisa tuh." Jawab Febi pada Anie, kemudian menarik napas untuk berteriak. "Oy!! Kalau di lobi nanti, jangan lari-larian loh!"


Teriakan Febi barusan, tak kusangka membuat orang-orang di depanku ikut menoleh ke arahnya, kemudian melipir sebentar untuk memberikanku jalan. Mungkin mereka berpikir bahwa akan berbahaya jika aku menabrak mereka karena aku yang tergesa-gesa seperti ini.


Tapi baguslah jika begini, aku bisa lebih mudah berlari dan melesat untuk mengejar Lisa yang mungkin sudah sampai di tempat tunggu bus. Oh ya, dan juga, tentu saja aku tidak mematuhi apa yang disuruh Febi tentang berlari di lobi.


Bahkan, sesampainya di lobi sebelum menuju ke halaman depan sekolah, aku tidak sedikit pun mengurangi kecepatanku.


Ada 3 buah anak tangga menurun di depanku di lobi ini, spontan aku melompat tinggi lalu mendarat dengan aman daripada menuruni anak tangganya satu-persatu. Bodo amatlah jika CCTV melihatku, dan mungkin guru bisa melihat kelakuanku yang terlihat seperti atlet ini.


Melewati seluruh mading yang tertempel di tembok yang ada di lobi inti, sebelum akhirnya keluar menuju halaman parkiran sekolah. Sebentar lagi aku akan menemui Lisa, tentu setelah keluar dari halaman sekolah ini.


"Oyy!! Sudah gila ya?? Kamu berlarian di lobi! Itu dilarang!!" Teriak seseorang di belakangku, dan entah kenapa juga aku reflek menghentikan langkah kakiku.


"Eh? Ooohh anak PMR yang waktu itu ya? Aku sudah membawa kucingku pulang, jadi... aku pergi dul-" Sapaku pada anak PMR perempuan yang pernah sewot kepadaku beberapa minggu atau bulan yang lalu.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kemarin kamu kecelakaan ya? Aku anak PMR, jadi beritanya sampai padaku. Oh iya, aku gak nyangka kamu inget sama aku setelah kamu kecelakaan!" Anak PMR itu memotong ucapan perpisahanku barusan.


"Aku cuma kecelakaan, ya walaupun katanya lumayan parah sih, tapi aku bukan hilang ingatan! Ya sudah, aku pergi dulu karena ada urusan nih!" Sewotku, kemudian benar-benar mengucapkan perpisahan kasar.


"Hati-hati, jangan sampai tersandung! Lain kali, jangan berlari di lobi lagi yaa!!" Teriak anak PMR itu sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya.


Aku pun kembali berlari untuk mengejar Lisa, daripada menghabiskan waktu beberapa detik untuk mengobrol dengan anak PMR itu di halaman parkir sekolah.


Kalau dipikir-pikir, ini membuatku cukup penasaran. Obrolanku dengan anak PMR itu barusan terasa cukup rileks, seolah dia tidak terlalu sewot untuk hari ini, daripada ketika waktu pertama kali aku bertemu dengannya saat dia mengembalikan kucing kesayanganku dengan marah-marah. Aku hanya kaget dengan perubahan signifikannya itu, jelas-jelas terlihat berbeda hari ini.


Setelah turun dari lantai 2 gedungku, menuju ke lapangan tengah, berlari melewati lobi, lalu sampai di halaman parkiran sekolah, dan akhirnya aku pun keluar dari sekolah ini.


Berlari melewati orang-orang beserta antar jemput mereka, aku terus melesat di halaman depan sekolah dan sampai akhirnya aku keluar dari gang sekolahku untuk menyapa jalan raya yang sudah aku kenal suka dilewati oleh bus transit.


Menoleh ke arah kanan, tampak Lisa berada di dalam gerombolan orang-orang yang sedang menunggu bus di halte, terlihat dari kejauhan sedang menunggu dengan sabar bus transit yang sebentar lagi akan lewat.

__ADS_1


Saat aku ingin melanjutkan berlari untuk menghampirinya, tiba-tiba terlihat bus datang dari ujung tikungan lalu berhenti di halte untuk menaikkan penumpang.


Aku yang melihat itu, seketika langsung menaikkan kecepatan larianku untuk mengejarnya. Aku tidak ingin terlambat untuk sampai di bis itu, berniat satu bis dengan Lisa. Walau aku harus kelelahan, yang penting aku bisa bahagia, 'kan?


"Sebentar, Pakk!!" Teriakku pada Sang Kenek yang sudah menaikkan semua penumpang di halte.


"Yaudah, ayo! Buruan!" Jawab Sang Kenek ikutan teriak.


Aku langsung tersenyum bahagia karena kenek bis itu berbaik hati untuk menungguku masuk ke bisnya. Dan setelah aku akhirnya bisa masuk ke bis itu, alias bisa satu bis dengan Lisa, aku pun merasa lega atas semua perjuangan dan jerih payah serta letih yang sudah aku keluarkan.


Aku masuk ke bis dengan tersenyum, kemudian mengambil tempat duduk agak dekat dengan Lisa sebelum akhirnya dia menyadari kehadiranku.


"Firza? Katanya kamu ada urusan dengan Dexter dan Atma?" tanya Lisa memulai obrolan dengan pertanyaan.


"Ada minum?" tanyaku kelelahan setelah menggelengkan kepala menjawab Lisa.

__ADS_1


Lisa diam sejenak sebelum memberiku minum, sambil tidak habis pikir melihatku yang kelelahan.


__ADS_2