
Yang Lisa sajikan padaku hanyalah tatapan datarnya yang cool dan cukup misterius, menakutkan juga.
Mungkin kalau orang lain dalam posisiku, dia bisa-bisa berteriak, "Apa kamu bisu?!". Tapi aku bukanlah orang yang kasar seperti itu. Jadi, aku hanya ikut diam sambil menatap ke arah Lisa, membuat dia lagi-lagi memalingkan wajahnya dariku.
"Dari awal kami bertemu, dia selalu suka menunggu jawabanku. Begitu ya? Dia hebat juga bisa sedikit mengingatku, padahal harusnya aura kuat Bu Dewi secara tidak langsung bisa menghilangkan ingatan seseorang tentang Bu Dewi sendiri ketika pertama kali bertemu dengannya. Tapi karena aku juga berada di tempat kejadian yang sama, harusnya Dia juga tidak mengingatku." Gumam Lisa dengan suara yang sangat kecil nan terlihat kebingungan.
"Eh? Tadi kamu bilang apa?" tanyaku ikut bingung.
"Nggak papa, Fir." Jawab Lisa mengejutkanku.
"Eh?! Kamu kok tau namaku?!" Aku bertanya lagi.
Lisa langsung terkejut, matanya terbelalak beberapa detik kemudian kembali ke semula.
Dia melirik tajam ke arahku. Tatapannya tenang sekali, namun menusuk. Memang ada ya murid perempuan semisterius ini?
Lagipula, apa benar aku pernah mengenalnya? Lisa, nama itu asing bagiku, tapi kenapa dia telah mengenalku? Apa sebelumnya kami pernah bertemu? Aneh, mungkin cuma perasaanku saja. Aku orang yang mudah mengingat seseorang, tidak mungkin aku melupakan Lisa jika aku pernah mengenalnya.
"Aku hanya melihat bed nama di dadamu." Jawab Lisa, masuk akal juga.
"Tuuhh, 'kan!! Benar dugaanku!!" Tanggapku kegirangan sembari menoleh ke arah bed nama di dadaku.
"Hahaha... orang ini," Lisa tiba-tiba tertawa kecil dan lugu, manis sekali di mataku.
"Hehehe... kenapa denganku?" Aku ikutan tertawa, aku mengelus belakang kepalaku, dan pipiku memerah karena malu.
Aku kepedean sekali.
Hatiku tambah berbunga ketika Lisa tersenyum lalu menggelengkan kepala seraya berkata, "Tidak apa-apa".
__ADS_1
Manis sekali. Rasanya aku ingin melayang begitu saja, terbang ke awan lalu jatuh di Inggris, mendaftarkan diri menjadi orang terberuntung di dunia karena bisa membuat perempuan seperti Lisa bisa tersenyum, bahkan tertawa.
Aku tambah besar kepala saat tau bahwa Febi dan Dexter mengamatiku, dan mungkin mereka berpikir, "Firza kok bisa buat perempuan seperti Lisa tertawa ya?".
Atau apa pun itu, aku bangga menjadi diriku sendiri, yang bisa membuat Lisa tertawa hingga akulah yang terkena dampak percaya diri. Mungkin moodku akan terus baik seharian hanya karena kejadian ini.
"Eh, Fir, sini deh! Jangan deketin Lisa gitu napa? Aku, 'kan juga pengen-" Dexter berbicara, tapi tiba-tiba Febi memotongnya.
"Nggak usah dengerin, Fir!" Saut Febi sengaja menghentikan Dexter. "Eh, Dex! Kamu itu ketua kelas! Berisik mulu!"
"Heh, Bendahara! Jangan ikut campur, tapi jangan juga korupsi!" Sewot Dexter.
"Siapa juga yang korupsi?!" balas Febi tak kalah sewot dari Dexter.
Mereka berdua mulai lagi. Aku lelah mendengarkan perdebatan mereka yang pastinya tak kunjung usai.
Ketua kelas dan bendahara, entah kenapa mereka jarang akur, padahal sama-sama pengurus kelas. Mereka juga duduk berdekatan karena meja mereka bersebelahan, entah kenapa teman sebelah (duduk sebangku) mereka sama-sama tidak berangkat hari ini, Atma dan Anie.
"Ah, hal itu udah biasa! Mereka emang jarang akur, jadi biasakan ya, Lis!" Aku menjawab Lisa dengan santai, sementara Dexter dan Febi masih sibuk dengan keributan mereka.
Lisa mengangguk paham seperti seorang anak kecil, rasanya aku ingin sekali menepuk atau mengelus kepalanya. Semakin ke sini, dia juga semakin sering berbicara, walaupun masih tetap jarang. Apa dia memang sangat cepat belajar membiasakan diri seperti ini? Mungkin ini masih batas wajarnya Lisa. Memangnya dia sependiam itu?
Kembali ke realita. Keadaan kelas ini kacau seperti biasanya kalau jam pelajaran sedang kosong, sementara itu ketua kelas alias Dexter Sanjaya, dia malah masih berdebat keras dengan bendaharanya yaitu Andrea Febi Febiola. Kelas yang kacau saat jam kosong ditambah ketua kelas yang tidak bertanggung jawab, sebagai seorang pemalas, aku sangat menyukai kelas ini.
Di jam kosong ini, ada yang berdebat, ada yang mengobrol dengan teman-temannya, ada yang bermain game online, dan ada juga yang jalan-jalan tidak jelas berkeliling sekolah. Biasanya saat jam kosong, aku selalu tidur di dalam kelas, tapi... sepertinya aku tidak akan melakukannya hari ini.
"Oiya, Lis, kamu, 'kan anak baru di sekolah ini nih. Kamu mau masuk organisasi apa di sekolah? Kita udah kelas 11 loh!" Aku menunda jam tidurku lalu mengajak Lisa mengobrol, karena kelas ini sedang jam kosong.
"A-aku... mungkin tidak akan ikut organisasi." Jawab Lisa terlihat lumayan bingung.
__ADS_1
"Kenapa? Kalau OSIS... belum ada yang jadi ketua OSIS nih di angkatan kita, ketua OSIS-nya masih Kakak Kelas 12. Mungkin kamu bisa jadi ketua OSIS tahun ini untuk angkatan kita, tapi kayaknya... kurasa tidak bisa jadi ketua OSIS," bujukku walau Lisa sepertinya tidak tertarik.
"Tidak ah, aku tidak suka jadi ketua, apalagi ketua OSIS, nanti aku terkenal!" Lisa menjawab, seolah dia memang pendiam.
Yah, aku tidak bisa memaksakannya, apalagi dengan sifatnya yang terbalik dari sebuah organisasi. Masa ada ketua OSIS yang pendiam? Tidak mungkin, 'kan?
Ngomong-ngomong soal organisasi, sebenarnya aku juga tidak ikut apa-apa sih, bahkan aku juga tidak ikut satu pun ekstrakurikuler yang disediakan di sekolah. Alasannya ya karena aku malas saja untuk bergabung, aku lebih memilih untuk tidur di rumah dan tanpa beban.
"Owh gitu. Sebenarnya aku juga nggak ikut organisasi atau ekstrakurikuler sama sekali sih, jadi ya... mungkin kita sama," Aku langsung tersenyum dengan memamerkan gigiku yang tidak terlalu putih.
"Kenapa?" tanya Lisa, singkat, padat, dan jelas.
"Ya karena... umm... kalau kamu, 'kan nggak suka jadi terkenal ya, kalau aku sih karena malas aja!" Jawabku lalu tertawa malu.
Canggung juga ya? Walau aku sudah terbiasa mengobrol dengan perempuan, tapi kalau dengan perempuan yang cantik beda ceritanya. Kadang suka canggung, bingung saja karena tiba-tiba aku kehilangan topik ketika ingin mengatakan sesuatu.
Ya sudahlah. Obrolan bersama dengan Lisa pun berlanjut dengan agak datar dan tidak terlalu menarik, hanya membahas seputar sekolah ataupun aku kadang sedikit curhat tentang kesukaan maupun hobiku. Seperti bermalas-malasan adalah kesukaanku, atau jalan-jalan (Traveling), iseng, dan mengganggu orang lain adalah hobiku, selain tidur. Mungkin dari pandangan orang lain, aku buruk juga ya? Hehehe..., dan itu aku katakan di depan Lisa. Harusnya aku tidak mengatakannya, tapi ah sudahlah.
"Tuh lihat, Firza buaya banget!" Ucap Dexter, aku tidak berbalik badan dan cukup mendengarkannya saja.
"Hush! Udahlah, Dex! Berisik!" Ketus Febi menjawab Dexter.
"Tapi kamu yang lebih berisik!" Balas Dexter kesal.
"Memang siapa yang sebenarnya paling berisik?" tiba-tiba seseorang dengan suara perut ikut dalam keributan dan bertanya, sepertinya aku kenal dengan suara ini. "Eh, ada murid baru ya? Salam kenal, saya guru Biologi."
""HAH!"" Secara bersamaan, aku, Dexter, dan Febi menoleh dengan terkejut.
Ternyata yang berbicara adalah guru Biologi kami, yaitu Pak Bambang. Dia berdiri di tengah-tengah Dexter dan Febi, sedang menatap ke arah Lisa yang sepertinya juga baru tau kalau Pak Bambang berdiri di sana.
__ADS_1
Sontak, seluruh siswa di kelas menertawaiku, Dexter, dan Febi dalam kejadian memalukan ini.