Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
9-1. Pasien Ajaib


__ADS_3

Setelah beberapa minggu tinggal di rumah sakit, akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit dengan cap dari dokter sebagai "Pasien Ajaib".


Entah apa alasan dokter itu hingga mencapku seperti orang super beruntung, dan aku hanya menebak kalau dia mengatakannya karena aku beruntung bisa melewati masa kritisku, kemudian aku sembuh tanpa mengalami cacat sedikit pun.


Awal-awal aku berangkat sekolah, seluruh teman-teman kelasku mengerumuniku untuk bertanya mengenai kecelakaanku dan lain sebagainya. Aku juga tidak mengikutkan nama Lisa dalam cerita kecelakaanku, walau dia seharusnya berperan penting dalam peristiwa itu, alasannya karena Lisa tidak ingin diceritakan.


Dia bilang, kalau dia malu jika semua orang tau bahwa dia selalu menjengukku di kala aku pingsan hingga sembuh, sekaligus dia juga yang ikut membawaku menuju ke rumah sakit. Karena Lisa sendiri yang meminta, maka aku menurutinya untuk tidak melibatkan namanya dalam ceritaku.


Kesampingkan tentang pertemuan kembali di kelasku. Saat ini motorku yang ringsek memang sudah tidak bisa dikendarai, alhasil aku berangkat sekolah dengan cara diantar, dan pulang naik bus umum transit.


Dan sekarang ini, sudah seminggu setelah aku keluar dari rumah sakit, tubuhku sudah mulai membaik. Ya walau masih ada rasa sakit di beberapa bagian tubuh, tapi aku sudah bisa berlari kencang, namun aku tidak ingin memaksakannya karena takut akan terjadi apa-apa, karena kalau diingat-ingat tentang kecelakaanku ini mematahkan beberapa tulangku.


Begitulah cerita singkatnya. Sekarang sudah seminggu setelah aku keluar dari rumah sakit, semua hal di kelas sudah normal sekarang, alias aku sudah tidak lagi menjadi bahan untuk dituju.


Saat ini, aku sedang berada di sekolah. Pagi yang cerah seperti biasanya, ditambah jam kosong di kelas karena guru yang mengampu sedang meninggalkan kelas untuk menghadiri rapat.


"Kas!" Febi tiba-tiba datang dengan buku dan dompet kasnya di kedua tangan.


"Eh? Oh, sebentar, Feb! Mending kamu narikin Lisa dulu!" Kataku sambil menunjuk Lisa yang bengong duduk di bangku belakangku.


"A-aku dulu? Oh, iya sebentar, Feb. Dasar, Firza!" Ucap Lisa sambil meraba saku bajunya, dengan tatapan jengkel ke arahku.


Sambil meringis ke arah Lisa, aku juga berdiri untuk mencari uang pas di saku celanaku.

__ADS_1


Sementara Febi mendekat ke arah Lisa kemudian menarik uangnya terlebih dahulu, seolah sekejap mata, Febi pun kembali mendekatiku untuk menarik uang kasku. Ditambah kalimat sewot dari Febi mengenaiku yang terlalu lamban mengeluarkan uang, membuatku sedikit agak jengkel, tapi aku kembali meringis ketika tau kalau Lisa masih melihatku.


Dengan cara aku membayar uang kasku pada Febi, masalahku sudah selesai sekarang. Kini aku kembali melanjutkan rutinitasku, yaitu tidur di atas meja. Mengingat Lisa yang masih sibuk menggambar-gambar absurd di buku tulisnya.


"Fir, kamu pulang masih naik bis?" tanya Anie ketika aku hampir meletakkan kepalaku di atas meja.


"Hah? I-iya, aku pulang naik bis transit. Memang kenapa?" Aku berbalik bertanya.


"Kamu mau pulang bareng aku, nggak?" tawar Anie dengan tulusnya.


"Ah-eh... uh... kayaknya..." Aku mencoba berpikir berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan. "Kayaknya enggak perlu, Nie! Aku malu kalau malah diantar perempuan,"


Entah apa yang merasuki Anie hingga dia menawariku untuk pulang bareng, tumben sekali. Dan aku menjawab "tidak" padanya, sebenarnya bukan karena aku malu, hanya saja aku berpikir bahwa aku harus menjaga perasaan Lisa kalau mungkin saja dia akan cemburu jika aku pulang dengan Anie.


"Kenapa aku juga enggak ditawarin?" sosor Atma, langsung bertanya.


"Soalnya kamu udah naik motor." Jawab cepat Anie.


"Ya sudah, besok aku enggak bawa motor deh!" Balas Atma tidak kalah cepat.


Kalian ingin melihat 2 orang bermulut machine-gun saling mengobrol? Nah lihat saja obrolan Atma dengan Anie itu. Jarang-jarang mereka mengobrol dengan balasan yang sangat cepat, dan mereka juga sama-sama berbicara dengan nada yang cepat.


Tinggalkan saja obrolan mereka berdua yang berasa seperti dunia milik mereka berdua, lalu lebih baik tidur saja dengan nyaman di kelas, itu lebih baik.

__ADS_1


Meninggalkan semua aktivitas di kelas, lalu mengistirahatkan diri sendiri. Oh astaga aku lelah untuk bersekolah. Aku ingin libur! Tidak ada yang menarik dan hanya Lisa saja yang membuatku bersemangat untuk bersekolah.


"Fir, peniti yang kemarin itu ada di mana ya?" tanya Dexter ketika aku hampir terlelap dalam tidur.


Entah kenapa semua orang suka sekali menggangguku ketika aku ingin sekali tidur di kelas karena kelelahan.


Mungkin tidak apa-apa jika yang mengganggu tidurku adalah orang yang ingin berniat baik seperti Anie, tapi bagaimana dengan Febi dan Dexter? Jawaban satu-satunya hanyalah... mereka menyebalkan.


"Ada di lemari. Sebentar aku ambilin!" Ujarku dengan lemas.


Aku berdiri dengan malasnya. Saat aku ingin mulai berjalan dengan niat menghampiri lemari kayu besar di ujung belakang kelas, aku melihat ponsel Lisa yang tergeletak di atas mejanya.


Kalau diingat-ingat, lemari kelas agak gelap, mungkin aku bisa meminjam ponsel Lisa untuk menyalakan senternya menjadi peneranganku.


"Apa, Fir?" tanya Lisa dengan wajah polosnya, ketika aku diam beberapa detik di depannya.


"Hehehe... aku boleh pinjam ponselmu? Buat nyalain senternya, karna lemari itu agak gelap," Aku tertawa malu sambil menjawabnya.


"Hah? Tapi jangan buka yang aneh-aneh, oke? Kalau begitu... ini!" Ucap Lisa, kemudian memberikan ponselnya padaku.


"Oke, Lis!" Balasku sambil mengacungkan jempol.


Aku senang Lisa bisa mempercayaiku, membuatku kembali bersemangat dari rasa malasku barusan.

__ADS_1


__ADS_2