
"Pak! Atma udah siuman!" Seru Dexter terlihat tergesa dan senang setelah mendobrak pintu UKS.
Sontak aku dan Pak Slamet terkejut, kemudian masuk ke dalam ruang UKS untuk melihat keadaan Atma yang katanya sudah siuman.
Saat ditemui, ternyata benar, Atma sedang duduk di kasur ruang UKS sambil mengelus belakang lehernya, seolah dia sedang kebingungan.
"Atma, kamu udah enakan?" tanya Pak Slamet perhatian.
"Lumayan sih, Pak, tapi masih agak pusing, sama... lemes banget." Jawab Atma tersenyum tipis, senyuman yang jauh berbeda dari ketika dia sedang mendekati perempuan.
"Bagus, kalau begitu... diminum dulu tehnya," balas Pak Slamet senang.
Sebenarnya jam istirahat telah berakhir daritadi, pasti kelas sudah kedatangan guru dan mungkin saat ini teman-teman sedang sibuk belajar. Sementara aku dan Dexter ada di sini untuk menemani Atma, dan Pak Slamet sebagai wali kelas kami, entah kenapa dia juga ikutan ada di sini. Mungkin dia merasa bertanggung jawab sebagai wali kelas.
Jam kosong bagiku dan Dexter! Aku merasa seperti sedang membolos pelajaran, walaupun aku masih baru untuk menemani Atma. Saat ini dia sedang meminum teh hangat yang tadi dibawakan oleh Dexter.
Aku merasa jika di sekolah, entah penyakit apa saja itu, obatnya selalu teh hangat. Dan anehnya, mereka merasa enakan setelah itu.
"Gimana rasanya kesurupan?" seloroh Dexter bertanya.
"Hush! Yang bener aja mulutnya!" Sewotku sambil menyikut Dexter di sampingku.
Dexter langsung tertawa, padahal aku sudah menyikutnya. Atma hanya tertawa di atas kasurnya, tawa polosnya seperti seseorang yang sudah ada di jam-jam terakhirnya. Benar-benar tawa yang ikhlas dan tidak bertenaga.
__ADS_1
"Atma, kenapa kamu bisa kesurupan? Boleh diceritakan, Nak?" tanya Pak Slamet dengan lembut, selembut bantal yang ada di atas kasur di ruang UKS.
Sebelum bercerita, Atma mencoba mengingat-ingat kejadian yang sekiranya setengah jam yang lalu, kemudian menarik napas panjang terlebih dahulu.
Dia mengatakan, kalau saat itu, kejadiannya berawal di kantin. Di menit-menit akhir jam istirahat, kantin selalu mulai sepi, tapi tiba-tiba dia melihat Anie yang sedang tertawa kencang di kantin. Karena penasaran, dia pun ingin bertanya pada Anie tentang kenapa dia tertawa sekencang itu, padahal dia tidak pernah melihat Anie tertawa dengan mulut selebar itu. Saat dia (Masih Atma) mencoba mendekati Anie, entah kenapa tiba-tiba Anie berlari pergi dari dia.
Dia (Atma) terus mengejar Anie, berlari dari lorong ke lorong, hingga akhirnya sampai di lorong paling belakang dekat kamar mandi. Dia bingung karena tiba-tiba Anie menghilang di balik tembok. Alih-alih bertemu dengan Anie, dia (Atma) malah bertemu dengan seekor harimau besar yang katanya berwarna putih, tiba-tiba melompat di atas pandangannya, lalu menabrak dia dan masuk ke dalam tubuhnya. Akhirnya dia pun kesurupan alias kerasukan seekor harimau putih.
"Begitulah ceritanya. Dadaku... sesak banget saat macan itu mengambil alih badanku, sementara itu aku sepertinya sedang berada di alam bawah sadar," jelas Atma sambil mengingat-ingat kejadian tadi.
Aku dan Dexter hanya manggut-manggut, sedangkan Pak Slamet akhirnya pergi setelah meninggalkan kata-kata terakhir.
Pak Slamet hanya ingin mendengar cerita Atma, dan memastikan keadaannya juga, lalu meninggalkan kami sambil berkata, "Kalau begitu, karena Atma sudah baik-baik saja, Bapak tinggal dulu ya? Mau mengajar kelas yang Bapak ampu,".
"Merinding juga," ucap Dexter sambil mengelus tangannya, bulu kuduknya berdiri.
"Kata teman-teman, emang di sekolah kita, 'kan angker. Tapi aku nggak tau kalau sampai ada yang kesurupan begini," tanggapku sambil manggut-manggut lagi. "Kalau begitu, kita balik lagi ke kelas ya, Ma? Ayo, Dex!"
"Tunggu! Aku masih takut nih! Salah satu dari kalian... tolong ada yang menemani aku, aku serius ketakutan!" Pinta Atma dengan wajah melas, semelas laki-laki meminta perempuannya untuk balikan.
Aku langsung menoleh ke Dexter, dan dia juga menoleh ke arahku. Mata kami saling beradu, tapi pemikiran kami sepertinya berbeda.
Ah, aku rindu dengan Lisa, jika aku menemani Atma di sini, mungkin aku tidak akan bisa kembali ke kelas sampai bel pulang berbunyi. Artinya, jika aku di sini, maka aku tidak akan bertemu dengan Lisa hari ini. Sungguh menyedihkan jika itu terjadi, maka dari itu, mau tidak mau Dexter yang harus menemani Atma.
__ADS_1
"Sebenarnya aku takut sih, tapi-" bingung Dexter setengah ketakutan.
"Jika kamu menemani Atma, kamu nggak akan ikut pelajaran sampai bel pulang berbunyi. Kamu juga nggak usah takut, karena 2 orang bisa menjadi penawar untuk seekor hantu, hantu nggak bakalan berani mengganggu 2 orang sekaligus, kecuali kalau kamu ada di kuburan atau tempat angker lainnya. Percayalah padaku!" Aku mencoba untuk meyakinkan Dexter secara paksa.
"Tunggu-tunggu, kok kamu jadi keliatan maksa?" Balas Dexter bingung, membuat suasana jadi canggung.
◐◐◐
"Kamu dari mana saja?" tanya Bu Guru sebelum aku memasuki kelas.
"Dari ruang UKS, Bu, tadi teman saya kesurupan dan saya juga membantu menyadarkannya. Dan... karena saya kembali ke kelas, saya sekalian ingin mengijinkan Atma kepada Bu Guru, dia tidak bisa masuk jam pelajaran saat ini karena lemas setelah sadar dari kesurupan. Saya juga ingin mengijinkan atas nama Dexter, dia harus menemani Atma karena Atma sendirian di ruang UKS, dan dia takut kalau Atma kesurupan lagi." Ucapku panjang lebar kali tinggi.
"Owh, jadi itu temanmu ya? Umm... baiklah, jadi kamu sekalian ngijinin temen-temenmu, Dexter sama Atma? Oke, saya tulis mereka 'Ijin' di buku absen saya. Kalau begitu, silahkan kamu duduk di kursimu!" Bu Guru menjawab dengan tegas.
Aku langsung tersenyum dan mengangguk, kemudian berjalan ke bangku kursiku yang jauh berada di belakang sana. Sembari aku berjalan, Bu Guru kembali menjelaskan pelajaran yang sudah di tulis di papan tulis.
Kelas terasa sepi menurutku, ketika 2 orang di depanku tidak ada di kelas.
Meja di depanku benar-benar kosong, karena Dexter dan Atma memang duduk satu meja, tapi sekarang mereka sedang tidak ada. Terasa seperti jarak ketika mereka tidak ada. Aku juga tidak ingin maju untuk duduk di kursi mereka.
"Atma kesurupan harimau ya?" tanya Lisa di tengah-tengah jam pelajaran.
"Iya, Lis. Beritanya udah tersebar sampai sini ya?" tanyaku balik sambil setengah menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Cuma tau aja," jawab Lisa santai, membuatku bingung atas jawabannya.