
"Kamu lagi di rumah sakit," Ibu tiba-tiba menyaut seolah tau pertanyaan di benakku.
"Kok aku bisa ada di sini?" tanyaku penasaran.
Oh, jadi aku sedang di rumah sakit ya? Dan jika dilihat-lihat lagi, seluruh tubuhku juga terbalut perban-perban yang banyak, juga ada selang infus yang menancap di tanganku. Memangnya aku sesakit itu ya? Eh tapi tunggu dulu, memang aku sedang sakit apa?
Aku masih terduduk di ranjang rumah sakit setelah terbangun tadi, sementara memang aku merasa ada yang sakit di bagian kaki, pantat, dan punggungku seperti ditusuk-tusuk nan perih.
Lagipula... kenapa Lisa juga ada di sini? Bagaimana dia tau kalau aku lagi sakit? Biasanya ketika aku sakit, hanya anggota keluarga yang menemaniku, dan tidak pernah kedapatan teman-temanku menjengukku saat aku sedang sakit.
Tapi kenapa Lisa berbeda? Dia jadi membuatku berbunga-bunga, mengingat dia adalah orang pertama selain keluarga, yang menjengukku saat sakit.
Saat ini, Ibu dan Lisa saling mengobrol dengan suara kecil setengah berbisik, aku bisa mendengarnya sedikit, dan aku menyimpulkan bahwa seakan Ibu menyuruh Lisa untuk menjelaskan semuanya padaku.
"Jadi, saat ini kamu sedang dirawat di rumah sakit karena beberapa hari yang lalu kamu mengalami kecelakaan serius. Banyak luka serius di seluruh tubuhmu, tapi hari ini, Dokter mengatakan bahwa kamu telah melewati masa kritismu, sebelum akhirnya kamu siuman dari pingsan." Jelas Lisa panjang lebar.
"Eh? Aku pingsan?!" Aku terkejut dengan suara keras setengah berteriak.
"I-iya, kamu pingsan selama 3 hari, Firza." Jawab Ibu yang membuatku tambah terkejut dan hampir lantang berteriak di kamarku.
Spontan aku ingin meraih dahiku dan menepuknya dengan tangan, karena terlalu terkejut. Tapi saat aku ingin melakukannya, tiba-tiba rasa sakit langsung menyerang tanganku yang refleks membuatku merintih kesakitan.
"Eh! Jangan banyak gerak, Firza!!" Teriak histeris Ibu yang khawatir.
Ibu dan Lisa tampak khawatir, bedanya Lisa tidak mengeluarkan sepatah kata pun dalam kekhawatirannya. Aku hanya bisa nyengir dan tertawa untuk menenangkan mereka berdua, secara tersirat ingin mengatakan bahwa aku tidak apa-apa.
__ADS_1
Dan berkali-kali ku lihat tanganku, sepertinya aku tidak akan tega menggerakkannya lagi untuk sementara waktu.
Aduh-aduh, badanku perlahan terasa sakit semua. Lantas, Ibuku yang peka pun langsung membantuku untuk membaringkan tubuhku lagi. Aku hanya akan berbaring, bukan tidur sungguhan.
Luka-luka di seluruh tubuhku, mengingatkanku pada kejadian ketika aku ditabrak truk waktu itu. Dan apa benar ya kalau setelah itu, aku pingsan selama 3 hari? Kalau begitu, aku pingsan lama sekali dong? Bagaimana dengan sekolahku?!
Dan... bagaimana dengan motorku yang waktu itu... terpental saat kecelakaan?!
"Bu! Motorku di mana?" tanyaku khawatir sambil terbaring.
Aku tau ini tidak sinkron dengan keadaanku sekarang ini, karena bukannya mengkhawatirkan diri sendiri, aku lebih memilih mengkhawatirkan motorku yang memang sebuah benda mati. Alias, tidak lebih berharga dari sebuah nyawa.
"Firza... kok malah khawatirin motormu? Kamu itu luka parah loh!" Jawab Ibu tidak sesuai ekspektasiku.
"Yah, Bu..., namanya juga penasaran," Aku tertawa membalas jawaban Ibu.
"Hah?! Motor rusak?! Yah, Bu! Sayang banget motornya! Lagipula kalau dibeliin... mahal dan enggak semurah beli pensil," jawabku terkejut.
Walaupun perumpamaanku tentang pensil lebih murah dari motor agak tidak imbang, tapi ada benarnya, 'kan? Kalau aku menyamakan kedua benda itu karena memang keluargaku tidak terlalu kaya juga.
Jadi... mungkin aku akan menolak untuk dibelikan motor, atau mungkin lain kali saja ketika Ayah tiba-tiba ketiban rejeki nomplok.
Sambil mendengarkan Ibu yang menasehatiku untuk lebih mengkhawatirkan diri sendiri ketimbang motorku, aku mendengarkannya tidak terlalu fokus.
Alih-alih, aku kadang mengamati Lisa dengan tangannya yang disatukan di depan tubuhnya. Sekali lagi aku ingin mengatakannya di dalam benak kepalaku, kenapa Lisa ada di sini? Bukannya bermaksud mengusir, tapi sebaliknya, aku senang karena keberadaannya.
__ADS_1
Tunggu sebentar, pertanyaan soal motorku sudah terpecahkan, hasilnya motorku rusak dan sepertinya memang parah. Lalu... bagaimana dengan sekolahku? Ketika aku 3 hari tidak sadarkan diri di rumah sakit?
"Gimana dengan sekolah?? Aku, 'kan di rumah sakit sampai 3 hari!" Aku bertanya.
"Lisa yang mengantarkan surat ijinmu," jawab Ibu sambil menunjuk Lisa.
Aku langsung menoleh ke arah Lisa dan dia pun tersenyum.
"O-oke..." Ucapku kehabisan kata-kata.
◐◐◐
Tik... tik... tik... seolah aku bisa mendengar tetesan infus yang terus terhubung dengan tanganku hanya dengan melihatnya saja. Sudah mulai menjelang malam hari, dan aku merasa suasana di rumah sakit sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi tidak enak.
Saat ini, Ibu sedang ada urusan, jadi mau tidak mau ia meninggalkanku. Sementara itu, Ibu meminta Lisa untuk menemaniku, dan sekarang dia ada di sebelahku, duduk di sana sambil mengupas kulit jeruk untukku.
Tangannya yang putih dan cukup lentik, membuatnya semakin terlihat lembut di mataku saat ini.
Hari ini dia terlihat sangat lembut sekali, dari yang sebelumnya ketika di sekolah, dia terlihat tajam setajam silet. Ah... aku senang melihat dia bisa bersikap selembut ini padaku, membuatku merasa diperhatikan oleh orang pendiam yang sikapnya sangat cuek seperti Lisa.
"Oh iya, Lis. Aku cuma pengen tanya. Kenapa kamu bisa ada di sini? Dan... kamu ke sini sendirian aja?" tanyaku membuat tangannya berhenti bergerak untuk mengupas kulit jeruk.
"A-aku minta maaf kalau aku ke sini sendirian. Aku malu kalau mengajak teman-teman," jawab Lisa sambil menunduk.
"E-enggak... maksudku... tidak apa-apa kok kalau kamu menjengukku, aku seneng banget! Tapi aku penasaran aja, kalau... kamu tau kabar aku sakit itu dari siapa?" Aku kembali bertanya setelah tersenyum gugup.
__ADS_1
"Aku selalu menjengukmu setiap pulang sekolah," jawab Lisa yang membuatku tercengang, kemudian dia lanjut lagi. "Aku juga yang mengantarmu ke rumah sakit waktu kamu kecelakaan di hari libur itu."