Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
10-1. Menyentuh Dunia Lain


__ADS_3

"Katanya kamu ada urusan dengan Atma dan Dexter, memang urusannya apa? Kenapa bisa sampai secepet ini?" tanya Lisa sambil menungguku minum.


"A-ada deh ceritanya," jawabku sambil ngos-ngosan setelah selesai minum.


"Kamu ngejar aku?" tanya Lisa lagi, dia terlihat curiga.


"Iya hehe, tapi kenapa tatapanmu nakutin gitu?" Aku menjawab.


Lisa pun tidak membalas perkataanku lagi, aku harap dia tidak merasa risih atas perbuatanku. Namun aku tidak kehabisan cara, aku pun membuat wajah konyol agar dia tidak terlihat sinis ataupun risih. Dan nyatanya berhasil, aku berhasil membuat dia tersenyum tipis diiringi tawaku setelahnya.


Banyak tatapan tertuju ke arah kami berdua karena suasana bus yang sepi, sedangkan hanya aku dan Lisa yang bercanda di sini dengan santainya.


Mungkin dari sudut pandang orang lain yang melihat kami, kami terlihat seperti kedua anak sekolah yang sedang lucu-lucunya ketika di mabuk asmara. Bercanda dan mengobrol, kata orang-orang, masa SMA adalah masa yang paling bahagia. Sangat lucu sekali rasanya.


"Tumben engga tidur, Fir?" tanya Lisa memulai obrolan kembali.


Aku tertawa, karena ada nada sindiran di dalam perkataan Lisa. Tapi memang benar, kalau aku selalu tertidur ketika di bus, mungkin Lisa sering memperhatikanku ketika kami sedang berada dalam bus yang sama saat pulang sekolah.


Kenapa tidak? Ketika obrolanku dan Lisa sudah putus di tengah jalan, tentu saja rasa bosan akan menyerangku secara perlahan dan aku bisa tertidur kapan saja setelahnya. Ditambah perjalanan di dalam bus, aku dan Lisa menunggu sekitar 1 jam perjalanan sebelum akhirnya turun dari bus. Sejam adalah waktu yang lama, dan aku bisa tidur untuk mengistirahatkan diri di waktu itu.

__ADS_1


"Malah bengong." Ucap Lisa lagi.


"E-eh? O-oh iya, tadi aku mau ketiduran, tapi kamu tiba-tiba tanya begini, aku jadi enggak ngantuk lagi!" Jawabku setelah kaget.


"Bisa gitu ya? Ya sudah, lanjut saja tidurnya." Lisa menyuruhku, lalu dia tutup mulut untuk membiarkanku tertidur.


Sebenarnya aku hanya bercanda soal aku hampir ketiduran tadi, karena daritadi aku hanya bengong di bus dengan pikiran absurd yang terus kesana-kemari.


Bengong di tengah-tengah kesunyian, karena Lisa juga sepertinya tidak memiliki bahan dan topik untuk diobrolkan. Karena semua bahan dan topik sudah habis diobrolkan di sekolah.


Rutinitasku di bus memang hanyalah tidur, tentu setelah mengobrol dengan Lisa, seolah mengobrol dengannya adalah dongengku sebelum tidur.


Mungkin kami memang sama-sama sedang lelah, kami juga sepertinya sama-sama suka tidur di bus, kami sama-sama anak SMA yang sedang berada di masa paling indah. Aku berharap masa indah ini tidak akan pernah berakhir.


Keluar dari benakku sebentar, untuk melihat keadaanku saat ini.


Aku akan terus menghayal dan terus berpikir seperti ini, hingga akhirnya aku melihat Lisa menguap dengan tangan yang menutup mulutnya, membuatku ikut mengantuk sebelum aku mulai tertidur lebih dahulu.


◐◐◐

__ADS_1


1... 2... 3... 4... 5...


"Hahhh!!!" Aku berteriak dan terbangun dari tidurku.


"Kamu juga denger suara kecil yang sedang berhitung dari 1 sampai 5 itu ya?" tanya Lisa dengan tatapannya yang mulai terlihat khawatir.


Aku belum menjawabnya, sementara aku terus mengusap mataku berkali-kali karena baru saja bangun dari tidur. Oh iya, sedikit yang aku lihat dari mata kepalaku, membuatku sadar bahwa aku sedang berada di bus untuk perjalanan pulang. Tapi aneh ya? Aku merasa aku sudah tidur cukup lama, tapi kenapa belum sampai juga?


"Tadi kamu tanya apa, Lis?" tanyaku balik setelah mengusap mata lalu menguap.


"Kamu mungkin perlu cuci muka." Jawab Lisa datar dan malas.


Karena aku tidak menjawab Lisa tadi, sepertinya membuat Lisa malas untuk mengulang pertanyaannya lagi padaku. Dia memalingkan wajahnya dariku, kemudian melihat ke luar bus dengan rasa penasaran dan khawatirnya yang masih terpupuk di hatinya.


Seperti rasa penasarannya yang menular kepadaku, entah kenapa kini aku sadar kalau bus yang aku tumpangi ini melewati desa-desa. Seharusnya desa ini bukanlah rute dari bus yang aku kendarai, bahkan tidak ada desa yang harus bus ini lewati. Apa jalan utama sedang ada perbaikan yang membuat rute bus ini sedikit berpindah ya? Ah entahlah.


"Lis, kita kok belum sampai tujuan ya?" tanyaku penasaran.


"Kamu masih ngira kalau bus yang kita tumpangi ini baik-baik saja? Aku kira enggak! Coba cek ponselmu, lihat jam berapa sekarang ini!" Suruh Lisa dengan wajah sepenuhnya khawatir dan tidak sedang bercanda.

__ADS_1


__ADS_2