
Padahal aku belum mengatakan sesuatu padanya, tapi dia memilih langsung pergi dari sini. Aku mencoba mencari keberadaan pocong itu dengan menggunakan kamera ponselku yang baru, tapi secuil wajah hitamnya pun bahkan tidak terlihat lagi.
Tunggu-tunggu, aku melihat sebuah boneka pink lucu di dalam gudang sekolah, tapi tubuh boneka itu penuh dengan jarum yang menusuknya. Dan lebih buruknya lagi adalah di kepala boneka pink itu ada sebuah foto...
"Eh? Bagaimana bisa kakak-kakak kelas itu mendapatkan foto wajahku?" Aku bertanya pada diri sendiri, kemudian mendekati boneka itu. "Apa dari media sosial? Di pikir-pikir, aku nggak pernah mengunggah sesuatu di sana!"
Sebuah boneka yang sudah dirasuki oleh makhluk halus, titik menyebalkannya adalah di kepalanya sudah terdapat fotoku.
Lantas, aku pun melepas foto itu dari kepala boneka pink tersebut. Sekarang urusan boneka sudah selesai, tapi saat aku menoleh ke ujung gudang ini...
"Apa?! Kenapa?! L-lelucon ini benar-benar tidak sehat. Aku harap kuburan ini tidak ada isinya!" Ucapku pada kuburan dengan ada gambar fotoku di nisannya. Benar-benar tidak sehat untuk mengerjai anak baru sepertiku.
Tidak ada lelucon kacau lagi di sini, aku pun memutuskan untuk pergi dari gudang.
Tunggu, tapi selangkah hampir keluar dari gudang sekolah, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah figura. Mataku terbelalak karena benar-benar terkejut, sangat terkejut dan rasanya aku juga ingin menangis.
Sebuah figura dengan foto gambar Rere, Sheila, Rendi, Rian, dan aku. Figura itu tergantung di belakang pintu gudang sekolah.
Bagaimana bisa foto bersama kami ada di sini? Siapa yang mendapatkannya? Dan siapa yang meletakannya?
Aku pun berjalan mendekat ke arah figura foto itu.
Itu adalah pertama kalinya kami foto bersama-sama sebagai seorang teman dekat, tempat pengambilan gambarnya di rumah Sheila, tepatnya saat ulang tahun Sheila yang ke 15 tahun.
Aku ingat sekali hari itu, foto bersama itu diambil dengan menggunakan kamera Rere yang baru dibelikan oleh ayahnya. Hari itu... aku benar-benar bahagia, sangat bahagia.
Tak terasa air mataku mulai menetes di depan figura foto itu, membayangkan kalau insiden yang merenggut nyawa mereka tidak pernah terjadi, maka aku akan terus bahagia karena mereka bisa menggantikan keberadaan orang tuaku yang sudah tiada. Walaupun teman-teman dekatku, mereka semua menyebalkan, tapi aku sangat menyayanginya.
Sayang semuanya telah tiada, hanya menyisakan kenangan, dan aku seorang dari anggota geng itu.
__ADS_1
"Aku harap kalian semua tenang di sana. Aku akan menemukan jawaban atas semua ini," ucapku di depan figura itu dengan sedih.
Emosional yang aku rasakan. Aku tau ini menyedihkan, tapi aku harus kuat. Saat ini bukanlah waktu yang pas untuk bersedih.
Mencoba kuat, aku pun menghapus air mataku yang terus tumpah ini. Saat ini, pulang dari sekolah adalah tujuanku, aku harus bangkit kembali.
"Tolonggg-tolonggg!!!" Teriakan seorang perempuan, terdengar begitu jauh.
Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
Aku tidak tau bagaimana kakak-kakak kelas bisa mendapatkan fotoku bersama teman-temanku dulu, tapi ini benar-benar lelucon yang sangat tidak sehat. Lelucon yang sangat menyedihkan bagiku. Walau begitu, aku tidak akan dendam pada mereka.
Jadi, akan kupastikan bahwa kakak kelas perempuan yang berteriak tadi itu, akan aku selamatkan, entah apa pun itu yang membuatnya berteriak minta tolong. Aku tidak akan takut dengan hantu, selama aku membawa senjata pamungkasku, yaitu ponselku sendiri.
Keputusan sudah diambil, waktunya aku bergegas mencari kakak kelas perempuan yang meminta tolong itu.
Aku berjalan dari arah gudang menuju ke lorong, mencari sumber suara kakak kelas itu. Dari lorong ke lorong, aku terus mencoba mencarinya. Aku tidak takut melewati lorong-lorong berhantu.
Terus berjalan sambil memandangi ponsel, karena pandangan aku fokuskan menggunakan kamera yang bisa melihat hantu ataupun ke tempat gelap.
Sesekali aku mendapati hantu di lorong-lorong yang aku lewati, mereka bisa aku lihat dengan menggunakan kamera ponselku. Walau aku juga menyalakan senter di kameraku, tapi aku tidak berniat untuk membakar salah satu dari hantu, hanya karena takut jika salah satu hantu dibakar, yang lain ikut balas dendam, dan itu tidak seru maupun lucu.
Lagipula, sepertinya harus membutuhkan jarak yang dekat (Jarak tertentu) untuk membakar hantu menggunakan senter di kamera, dan tidak semudah itu jika mereka main kabur atau bahkan menyerang.
"Eh, Lisa! T-tolooongg!!" Teriak kakak kelas perempuan jauh dari ujung lorong ini.
Itu dia! Akhirnya ketemu.
Dia pun berlari dari kejauhan di ujung lorong, menuju ke arahku.
__ADS_1
Alasan mungkin dia tidak berpikir aku hantu, adalah karena aku terlihat seperti paranormal dengan membawa senter. Yang kedua, mungkin dia tau aku adalah Lisa karena hanya ada 3 perempuan yang ikut dalam kejadian ini, yaitu dia sendiri, lalu ada kakak kelas perempuan yang kesurupan, dan satu lagi adalah aku.
Dari kejauhan, aku melepas pandanganku dari kamera ponselku, untuk memperlihatkan wajahku lalu menyapanya. Tapi ketika dia masih berlarian ke arahku, tiba-tiba aku melihat ada laki-laki yang kesurupan mengejar di belakangnya.
Dengan senterku yang masih menyala, aku bisa melihat cukup jelas laki-laki itu. Dia berlari cukup kencang walau lariannya seperti orang sekarat, mirip zombie.
"Lisa! Ayo pergi!" Teriak kakak kelas perempuan itu setelah dia hampir sampai padaku, wajahnya benar-benar ketakutan.
"Kamu menjauh dari sini, aku ingin mencoba sesuatu!" Jawabku pada kakak kelas itu, sambil mencoba berpose dengan gagah di film aksi.
"A-apa kamu gila?!" ucap kakak kelas itu mengataiku ketika dia sudah sampai di sebelahku. "Kamu benar-benar gila, Lis! A-aku bersembunyi dulu, nanti panggil aku ya!"
Tanpa bergeming, aku mengangguk iya pada kakak kelas itu, mempersilahkan dia pergi duluan karena laki-laki kesurupan yang mengejarnya sudah dekat dari sini.
Satu lawan satu, itulah yang aku pikirkan di tengah-tengah aku memaksa diriku untuk berani. Aku tidak akan kalah! Walau kakiku cukup gemetaran melihat seseorang yang lariannya cepat tapi seperti orang sekarat.
Aku menoleh ke belakang, ternyata kakak kelas perempuan sudah bersembunyi duluan.
Bagus. Duel akan dimulai. Senter kameraku masih menyala, namun masih mengarah ke bawah. Aku bersiap-siap dengan kuda-kuda, menunggu kedatangan kakak kelas laki-laki yang kesurupan itu.
Mulai! Ketika laki-laki itu sudah cukup dekat, aku langsung mengarahkan senter kameraku ke arah matanya. Laki-laki itu seolah memiliki mata, dan matanya seolah langsung terbakar sambil berteriak.
Dia berlari sambil menutupi matanya dari cahaya senterku dengan menggunakan tangan, tapi itulah kesalahannya, dia berlari tanpa melihat ke depan. Dan dengan mudahnya aku menghindari arah lariannya sambil menyorotkan senter ke arahnya, karena dia ingin menabrakku.
Tidak sampai disitu saja, ketika dia sudah tepat berada di sebelahku, aku memberanikan diri untuk menjegal kakinya. Aku selalu ingin menyakiti seseorang. Dan ternyata berhasil! Aku bisa menjegalnya karena dia berlari tanpa melihat ke depan, itu memudahkanku.
Alhasil, laki-laki kesurupan itu terjatuh, kemudian aku menyorot senterku lagi ke arahnya.
"Aarrggghh... panasss!!!" Teriak hantu di dalamnya, memiliki suara yang begitu besar seperti om-om. "Aaarrrgghhhh..."
__ADS_1