Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
10-5. Dunia Lain 3


__ADS_3

Hal yang membuatku tambah takut lagi adalah 60% dari bangunan di seluruh kota ini memiliki aliran listrik yang padam. Satu bangunan di dekat rumahku yang tidak memiliki lampu yang menyala di sana saja sudah membuatku takut, apalagi saat ini aku sedang berada di kota mati yang kebanyakan bangunan di sini memiliki lampu yang mati, alias tidak menyala.


Super gelap? Lumayan saja, tidak terang dan tidak terlalu gelap. Karena lampu jalanan masih bisa berfungsi walau hanya remang-remang saja atau beberapa lainnya cukup bercahaya namun selalu berkedip.


"Fir! Itu ada... supermarket kecil! Gimana kalau kita masuk ke sana?" tawar Lisa menunggu persetujuanku.


Melihat keadaan, langit sudah gelap, dan area sekitar jauh lebih menakutkan daripada sebelumnya ketika di siang hari. Keadaan yang mencekam seperti ini, membuatku harus mencari tempat tidur yang aman. Dan sepertinya supermarket itu lumayan bagus untuk berlindung dari gelapnya malam. Tapi tunggu, masalah satu-satunya adalah...


"Tapi di sana tidak ada lampu sama sekali yang menyala?" tanyaku lagi pada Lisa untuk memastikan.


"Aku punya ini!" Seru Lisa dengan nada ingin meyakinkanku.


"Hah? Cuma ponsel?" tanyaku lagi setengah gedek-gedek.


"Bukan, bukan masalah ponselnya, tapi kita lebih membutuhkan senter ponselnya di supermarket yang gelap itu!" Jelas Lisa mencoba meyakinkanku.


"Nanti kalau baterainya habis bagaimana?" tanyaku lagi, dan lagi, aku akan terus memastikan keamanannya.


"Tidak akan. Baterai ponselku tidak akan habis selama sehari, atau seminggu lagi. Jadi tenang saja." Jawab Lisa masih mencoba meyakinkanku.

__ADS_1


Sebelum aku menanggapinya dengan pertanyaan lagi, karena keseribu penasaranku masih belum kutanyakan. Sementara Lisa masih menunggu jawabanku, aku mencoba merilekskan diri, kemudian mendangak menatap ke arah langit yang sudah gelap, sambil berpikir "Kapan aku akan pulang?".


"Lama!" Kesal Lisa langsung menarik tanganku seenak jidat.


Sambil bergegas berjalan masuk menuju ke arah sebuah supermarket, Lisa menarik tanganku, memaksaku untuk mau tidak mau mengikuti langkahnya. Entah kenapa aku bingung, harus ketakutan atau bahagia.


Pasalnya Lisa dengan tangannya yang putih dan lentik itu memegang tanganku, membuatku berbunga-bunga. Namun, di sisi lainnya, Lisa menarik tanganku untuk mengajakku ke tempat yang ingin kami tuju adalah sebuah supermarket tanpa penerangan sama sekali.


Bahkan di sebelah kanan dan kiri supermarket itu ada sebuah bangunan, namun tanpa penerangan sama seperti supermarket itu sendiri.


Aku pasrah saja, dengan fokus melihat ke arah Lisa, karena saat ini aku juga sedang ketakutan, aku tidak berani menoleh ke jendela supermarket yang kadang bergerak sendiri itu. Sial! Bahkan memikirkan jendela supermarket yang bergerak sendiri saja sudah membuatku takut.


Akhirnya Lisa baru mengeluarkan ponselnya sebelum kami memasuki supermarket, lalu menyalakan senter ponselnya. Tapi aku heran, kenapa dia juga membuka kamera ponsel bersamaan dengan senter ponselnya itu?


Lisa tidak menjawab, sebelum akhirnya kami benar-benar memasuki supermarket hanya dengan bermodalkan ponsel milik Lisa dengan senternya yang terangnya cukup di luar nalar. Entah kenapa baterainya bisa seawet itu, tidak seperti ponselku yang bahkan baterainya sudah habis digunakan di sekolah.


"Coba cek tanggal kadarluwarsanya." Suruh Lisa seenak jidat setelah memberikan sebungkus mie rebus instan.


"Daripada mie instan kayak gini, mending ngambil roti bungkus, atau roti sobek kek!" Balasku sambil meletakkan mie instan tadi dengan rapi.

__ADS_1


Aduh, aku kebiasaan meletakkan barang dengan rapi ke tempatnya ketika di supermarket, bahkan keterusan sampai saat ini. Padahal saat ini kami sedang berada di supermarket terbengkalai yang barang-barangnya masih tersusun rapi.


Oh iya, aku lupa mendeskripsikan soal supermarket ini. Teras supermarket sangat kotor, pintu masuknya juga sama. Lalu, tembok-tembok supermarket ini cukup berlumut, lantai-lantai pojoknya juga sama, tapi... entah kenapa lantai yang letaknya di tengah alias jauh dari tembok, lumayan bersih juga. Ditambah barang-barang yang ada di sini juga masih tertata rapi layaknya supermarket pada umumnya.


SUPERMARKET MACAM APA INI?!


"Oh, ini! Mau nggak? Jangan bengong aja!" Ucap Lisa tidak memberiku jeda untuk menjawab.


"Teraaangg!! Tolong jangan... sorot sentermu ke matakuu!!" Keluhku sambil melindungi mataku dari kebutaan.


Sial! Benar-benar terang senter ponsel milik Lisa. Jika kalian tau, rasanya... aaarrrgghhhh!!! Sakit sekali jika seseorang menyorotkan cahaya senter ke mata ketika sedang berada di sebuah tempat gelap.


"Maaf-maaf, aku nggak sengaja hehe. Tapi coba lihat ini..." Lisa mengulurkan tangannya, sebuah roti tampak di tangannya.


"Rasa... coklat?" Aku bertanya-tanya untuk memastikan, walau keterangan di bungkusnya sudah terlihat sangat jelas di mata kalau itu benar rasa coklat.


"Mungkin." Jawab Lisa singkat, padat, dan jelas.


Sepertinya Lisa juga nggak tau apa yang dia kasihkan buatku, dia cuma asal-asal memberikan roti padaku? Tapi rotinya masih terbungkus sempurna, dan... tanggal kadarluwarsanya masih lama. Jadi roti ini masih bisa di makan.

__ADS_1


"Tanggal kadarluwarsanya masih lama, kita bisa makan ini! Bagaimana dengan roti yang lain? Emang yang masih bagus cuma sedikit ya?" Ujarku diakhiri dengan bertanya.


"Ada sih yang bagus lainnya, tapi tidak terlalu banyak." Balas Lisa membuatku mengangguk menjawabnya.


__ADS_2