Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
7-2. Ini Lisa : Firza dan Masa Kritisnya


__ADS_3

"Firza!!" Spontan aku berteriak terkejut, tidak seperti biasanya aku seperti ini.


Tatapan pertama kali ketika aku melihatnya, aku benar-benar syok, seolah sikap cuekku hilang seketika ketika melihatnya tergeletak tertidur di pinggir jalan dengan penuh darah di sekitar tubuhnya. Dia penuh luka, tak terasa aku mulai mengeluarkan air mata dan mulai mendesak kerumunan untuk mendekat ke arah Firza.


"Beri dia ruang untuk bernafass!!" Teriakku kesal pada warga-warga yang hanya berkerumun untuk melihat saja.


"Kamu keluarga dari si korban?" tanya seorang laki-laki dewasa di depanku, dia jongkok di sebelah Firza seolah relawan yang baru saja menolong Firza.


"Saya temannya!" Jawabku singkat, padat, dan jelas.


Tanganku mengepal ingin membalas dendam, tidak percaya bahwa orang yang kesehariannya tertawa di sekolah, kini terbaring lemas bersimbah darah di depanku. Berkali-kali mataku berputar dan berkedip, tapi tetap seseorang yang terbaring di depanku ini adalah Firza, dan Firza tetaplah Firza.


Aku akan menemani Firza di sini sambil menunggu ambulan yang akan datang menjemput. Kerumunan yang awalnya cukup banyak, kini mulai menjauh setelah terus diingatkan oleh orang dewasa yang jongkok di depanku.


Keadaan yang mulai kondusif, aku langsung mengangkat ponselku untuk menelepon Bu Lela. Aku harus menunggu sebentar dengan telepon yang berdering sampai Bu Lela mengangkat teleponku.


"Bu, saya tidak bisa kembali ke warung sekarang, karena teman saya baru saja kecelakaan. Saat ini saya ada di lokasi kejadian, mungkin kalau bisa, saya akan ikut dengan ambulan setelah ini. Uang yang Bu Lela titipkan tadi, akan saya kembalikan nanti malam atau tidak besok saja ya, Bu?" ucapku seperti machine-gun.


"Temanmu kecelakaan?! O-oh iya, tidak apa-apa, Lis! Uang yang kamu bawa, lebih baik kamu simpan saja untuk jaga-jaga ya!" Jawab Bu Lela dari ujung seberang.


"I-iya, Bu! Terima kasih!" Balasku sebelum sambungan telepon terputus.


Aku menyimpan ponselku lagi ke dalam saku, kemudian tak sengaja mataku tertuju pada motor matic ringsek yang tergeletak di pinggir jalan agak jauh di samping Firza. Apa itu motornya Firza? Saat aku bertanya pada orang dewasa di depanku, ternyata dia adalah seorang saksi sekaligus yang menolong Firza dengan pertolongan pertama.

__ADS_1


Katanya, Firza adalah korban tabrak lari dari truk. Kejadiannya ternyata baru sekitar belasan menit yang lalu. Truk itu berhasil kabur, sementara Firza terpental ke tengah jalan raya dari motornya yang ringsek karena tertindas.


Beruntung Firza tidak ikut tertindas, tapi lukanya yang parah harus digotong bersama-sama menuju ke pinggir jalan agar Firza tidak terlalu kesakitan dan tidak menghalangi jalan.


Demikian cerita singkatnya, hingga akhirnya sirine mobil ambulan terdengar dari kejauhan mulai mendekat.


Motor dan kendaraan lainnya terlihat menepi untuk memberikan jalan bagi mobil ambulan, hingga batang mobil itu akhirnya terlihat juga. Satu kata di dalam lubuk hatiku terdalam sambil menangis, "Terlambat!!".


Pakaian yang sudah ada banyak robekan dengan banyak darah terlihat di lukanya, kaki, tangan, wajah, dan kepalanya yang penuh dengan darah, keadaan lemas sambil memejamkan mata, Firza pun diangkat masuk ke dalam ambulan dengan sebuah tandu.


Sambil terus berharap bahwa Firza pasti akan baik-baik saja, aku memohon pada petugas ambulan agar aku ikut dengannya setelah mengatakan bahwa aku adalah teman si korban.


Dan petugas ambulan pun mengiyakan, mengizinkanku masuk duduk di samping Firza yang terbaring tak sadarkan diri di atas tandu.


Saat ini, yang kupikirkan hanyalah berharap semoga Firza selamat, itu saja yang aku pinta dan inginkan. Sesekali aku mengusap air mata agar terlihat kuat dan tidak lemah, walau entah kenapa air mata ini terus mengalir. Rasanya aku ingin berteriak untuk meluapkan kekesalan.


Itu adalah pengalaman yang buruk, aku tidak ingin hal itu terulang dan terjadi lagi. Aku tidak ingin kehilangan teman lagi.


Sepanjang mata memandang penuh ketakutan akan kehilangan, mobil ambulan melesat seperti rudal yang sudah membidik sasarannya dengan baik. Aku bersyukur orang-orang dengan kendaraannya mau menepi demi memberikan jalan bagi ambulan yang sedang membawa korban dengan keadaan darurat ini.


Tidak menunggu terlalu lama untuk sampai ke rumah sakit, aku dan petugas ambulan turun di depan ruang gawat darurat. Firza langsung diturunkan, dan dibawa ke ruangan menggunakan tandu beroda.


Sementara itu, aku mengikuti dibawanya Firza sampai akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan untuk pasien yang kritis. Salah satu petugas menyuruhku untuk tidak masuk. Aku disuruh menunggu di luar ruangannya.

__ADS_1


Aku terus mondar-mandir di depan ruangannya Firza, berharap dokter ataupun salah satu petugas keluar untuk mengatakan bahwa keadaan Firza baik-baik saja. Aku sangat ingin mendengar kabar itu.


"Kamu... kerabatnya Firza?" tanya suster yang muncul dari pintu ruangan Firza.


"E-enggak, tapi saya temannya yang ikut mengantarkannya ke sini," jawabku cepat sambil berjalan mendekat ke suster itu.


"Keadaan Firza... cukup memprihatinkan, banyak tulang-tulangnya yang patah. Mungkin jika Firza bisa melewati masa kritisnya, dia akan selamat. Kami akan mengusahakannya!" Kata suster meyakinkanku. "Kalau begitu saya tinggal dulu,"


Setelah mendengarkannya, jantungku rasanya ingin copot saja. Aku langsung terduduk di kursi tunggu depan ruangan Firza sambil memegang kepala karena syok. Seluruh tubuhku lemas, kecuali tangan yang ingin meremas kepalaku hingga hampir pecah dan aku tidak akan bisa memikirkan hal ini lagi.


Aku terus berdoa dan berharap dalam hati, semoga Firza selamat dalam kecelakaan ini.


Hingga beberapa jam aku terdiam di kursi tunggu, tanpa beranjak sekalipun, hanya menunggu seseorang untuk mengatakan bahwa Firza sudah siuman. Tapi nyatanya belum ada kabar.


Kenapa Firza bisa sesembrono ini ya? Tidak ada cerita, hanya sedikit kabar. Aku masih ingat kemarin di sekolah, Firza baik-baik saja, sehat-sehat saja, masih absurd seperti biasanya. Tapi kenapa tiba-tiba dia bisa seperti ini? Aku benar-benar kangen dengan tingkah Firza, serta cerita-ceritanya yang lebih banyak lucunya. Tapi kenapa orang selucu dia harus kena musibah seperti ini?


Apa besok senyumannya masih tetap ada di pipinya ya? Aku harap senyuman yang selalu dia sajikan untuk semua orang, masih tetap selalu ada sampai kapan pun. Aku sangat berharap itu.


Berjam-jam harus sabar menunggu di sini, suara bisikan dan tangisan sekali-sekali muncul merasuki telingaku.


Aura kesedihan dan ketakutan terasa sangat pekat di rumah sakit ini, membuatku ingat bahwa aku dan Firza juga pernah bertemu di rumah sakit yang sama. Auranya yang positif waktu itu, masih terasa walau dia dalam keadaan koma seperti ini. Tapi aku tetap saja takut Firza tidak selamat.


Menjelang malam hari, tiba-tiba seorang pasangan suami istri berjalan tergesa-gesa dari kejauhan menuju ke arahku. Aku merasa... sepertinya pasangan suami istri itu bukan akan melewatiku, tapi menghampiriku. Apa mereka adalah ayah dan ibunya Firza?

__ADS_1


"Ini ruangannya, Yah!" Kata Ibu itu terlihat khawatir ketika sudah sampai di depanku, kemudian pandangannya beralih. "Apa kamu yang menolong anak saya?"


"S-saya yang mengantarkan Firza ke sini, Bu! Saya temannya," jawabku setelah berdiri, lalu mencoba untuk tersenyum agar mereka tidak terlalu khawatir.


__ADS_2