Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
4-1. Suatu Hari di Sabtu Malam


__ADS_3

(POV Lisa)


"Lisa, jangan takut, kita memiliki kedudukan lebih tinggi dari mereka. Berdirilah, bangkitlah dan angkat kepalamu. Apa kamu takut kehilangan teman-temanmu lagi? Ambillah telepon genggammu, aku akan memberikan sedikit potensiku untuk melindungi hal yang penting bagimu." Tiba-tiba suara samar Ibu terdengar di batinku. Aku masih ingat suaranya.


"Ibu! Ibu ada di mana? Aku rindu, aku kehilangan semua teman-temanku, aku perlu dibimbing," panggilku, tapi tidak ada jawaban darinya. "Bu, mereka menyakitiku dan teman-temanku, aku harap Ayah dan Ibu ada di sini untuk menolongku."


Ibu, kami sudah tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun semenjak insiden yang menimpa desaku. Ayah dan Ibu telah tiada. Dan aku juga baru saja kehilangan teman-temanku beberapa bulan yang lalu.


Hidup ini benar-benar menyedihkan.


Aku duduk sambil memeluk dengkulku di pojok ruangan, menunduk diantara ketakutan.


Aku harap tadi yang berbicara bukanlah makhluk halus yang jahat dari dunia lain, hanya pikiran burukku, walau aku tau suara itu berasal dari alam bawah sadar baikku. Sudah lama sekali semenjak insiden itu, setelah bertahun-tahun berlalu, tiba-tiba Ibu berbicara padaku melalui batin ke batin di saat aku terpuruk seperti ini. Aku...


Aku harus kuat.


Mencoba untuk tegar, aku harus bangkit dari keterpurukanku saat ini.


Aku mulai berdiri, berjalan maju sambil was-was dengan keadaan yang terjadi.


Saat ini aku sedang ada di kelasku, niat bersembunyi dari hantu dan setan yang menggangguku dan kakak-kakak kelasku. Tapi kali ini, aku akan memberanikan diri untuk melawan mereka.


Ibu juga sudah bilang, kalau akan ada sesuatu yang sepertinya akan muncul di telepon genggam alias ponselku, namun saat ini... entah bagaimana ponsel dan tasku hilang di perjalananku tadi saat aku ingin bersembunyi. Mungkin jatuh di jalan.


Cerita singkatnya pada hari ini adalah...


Hari ini adalah hari sabtu, bel istirahat berbunyi siang hari tadi dan aku bergegas untuk pulang. Tapi, beberapa kakak kelas laki-laki dan perempuan tiba-tiba menemuiku, katanya ada yang ingin mereka lakukan malam ini di sekolah, dan mereka mengajakku. Singkatnya, aku terpaksa ikut, walau aku tau mereka berniat jahil dan ingin mengerjaiku karena aku murid baru di sekolah.

__ADS_1


Ada 6 orang yang ikut. Selain aku, semuanya adalah kakak kelas. Ada 3 perempuan termasuk aku, dan 3 laki-laki.


Awalnya, di sekolah berjalan cukup normal sampai menjelang malam hari. Ketika waktu tepat menunjuk pukul 8 malam, kami yang sedang berjalan-jalan di lorong-lorong sekolah, tiba-tiba diserang oleh hantu. Ada 1 laki-laki dan 1 perempuan yang mendadak kesurupan, tapi tidak ada yang bisa menyadarkan mereka, termasuk aku. Hingga akhirnya kami pun lari terbirit-birit, berpencar dan bersembunyi karena takut. Dan aku pun kehilangan tas dan ponselku, lalu bersembunyi di kelasku sendiri yang berada di lantai 2.


Keluar dari cerita, lalu kembali ke realita lagi.


Saat ini sudah larut malam, di sisi lain aku juga tidak tau kakak-kakak kelasku yang tersisa bersembunyi di mana.


Tapi saat ini aku sedang berada di kelasku sendiri. Aku berjalan dari ujung belakang kelas, menuju ke depan papan tulis. Tampak coretan yang dibuat Firza tadi siang di papan tulis dengan bertuliskan, "Pak Slamet love siswa kelas ini, wkwkwk".


"Hahaha... Firza, kamu mengingatkanku dengan Rere, sahabatku dulu." Gumamku berbicara sendiri di depan coret-coretan Firza di papan tulis.


Aku tersenyum kecil sebentar.


Tidak! Saat ini bukan waktunya untuk berharap untuk tersenyum seperti dulu. Saat ini aku harus keluar dari sekolah, bagaimana pun caranya, karena aku tidak ingin tinggal di sini.


Tapi pertama-tama, aku harus mencari tas dan ponselku terlebih dahulu.


Aku keluar dari kelasku yang aman, lalu berdiri mengamati area bawah dari lantai 2 kelasku.


Lapangan upacara tampak gelap dengan cahaya yang redup. Tidak ada apa-apa di sana. Aku memutuskan untuk mencari tasku di lorong lantai 1. Walaupun firasatku mengatakan bahwa di sana penuh dengan hal jahat, tapi aku akan memberanikan diri demi apa yang dikatakan Ibu kepadaku, dan tentunya juga demi pulang dengan membawa tas.


"LIISAAAA, MURID BARU, AKU TIDAK MENYUKAIMU!!" Teriak salah satu kakak kelas perempuan yang kesurupan tadi.


Entah dia ada di mana, aku tidak tau, tapi tujuanku tetap untuk mencari tasku saat ini. Walau teriakannya barusan membuatku takut, tapi aku harus tegar bagaimanapun caranya, entah itu sampai kakiku gemetaran, aku akan tetap kuat.


Berjalan meninggalkan halaman kelasku, kemudian berjalan menuruni tangga. Aku mengamati sekitar halaman lapangan sekolah, tapi tidak ada yang aku temukan. Kali ini aku akan berjalan ke arah lorong. Sudah seminggu aku menjadi murid di sekolah ini, pasti aku juga sudah lumayan hapal tempat ini, dan tau jalan ke arah lorong.

__ADS_1


"Meow!" Tiba-tiba suara kucing seakan memanggilku.


Langkah kakiku ingin meninggalkan halaman lapangan, tiba-tiba harus berhenti, seolah seekor kucing menginginkan sesuatu padaku. Saat aku menoleh ke segala arah untuk mengetahui di mana kucing itu berada sekarang, mendadak kakiku diserang oleh bulu halus.


Oh, ternyata ini kucingnya. Kucing putih yang lucu dengan mata birunya itu, dia tampak terawat karena terlihat cukup gemuk.


"Pus, kamu sedang apa di sini? Kamu-" Ucapku sambil jongkok untuk bermain dengan kucing itu, tapi tiba-tiba dia malah pergi menuju ke lorong dan meninggalkanku.


"Meow!" Kucing itu mengeong lagi sambil berjalan menuju lorong.


Apa dia bermaksud ingin aku untuk mengikutinya?


"Pus, apa kamu titisan manusia?" tanyaku pada kucing itu, tentu dia tidak menjawabnya.


Tidak ada hawa jahat yang aku rasakan dari kucing itu, sebaliknya, hawa positif yang muncul pada dirinya. Aku tidak tau kenapa hawa itu bisa ada. Apa kucing itu milik seorang dukun? Kurasa jika milik dukun, auranya pasti negatif. Kucing ini juga tidak mungkin khayalanku semata, atau kucing yang hanya bisa dilihat dengan mata batin.


"Meow!" Seru kucing itu setelah berhenti berjalan, hanya untuk mengeong sambil menoleh ke arahku, seperti benar-benar memanggilku.


Apa dia ingin menunjukkan sesuatu padaku?


"Oke-oke, aku akan ke sana!" Jawabku walau mungkin kucing itu tidak tau apa yang aku katakan, mungkin dia hanya butuh jawabanku, entah apa pun jawabannya.


Menghela napas panjang, aku pun mulai berdiri, lalu berjalan mendekati kucing itu. Seolah hanya memastikanku mengikutinya, entah mengapa kucing itu malah berlari dan membuatku harus ikut berlari mengikutinya. Padahal berjalan, 'kan juga bisa.


Kalau dipikir-pikir... apa yang ingin diperlihatkan kucing itu hingga sampai dia tergesa-gesa?


Ternyata dia terus berlari hingga menuju ke salah satu lorong di dekat kantin.

__ADS_1


Saat kami memasuki kantin, aku langsung melihat tasku yang tergeletak di lantai, bersamaan dengan ponselku juga ada di sebelahnya.


"Kenapa tas dan ponselku ada di sini? Kayaknya tadi aku nggak lewat sini," ucapku menghampiri kedua barang-barangku, lalu berbicara sendiri karena bingung.


__ADS_2