
"Krsk krsk... Lisa! Kamu ingat suaraku, 'kan? Oiya, Rian sama temen-temen lain juga ada di sini. Saat ini kamu lagi di mana? Aku kangen. Kamu baik-baik aja, 'kan ? Nggak sakit, 'kan? Jaga kesehatanmu ya! Walau aku nggak bisa berbuat apa-apa, tapi aku... krsk krsk... tiingg...-" Ucap seorang perempuan dengan nada cepat terdengar tergesa-gesa dari ujung sambungan.
"Kalau boleh tau, dia siapa, Lis?" tanyaku penasaran, sembari menunggu suara yang akan muncul lagi di teleponnya Lisa.
Sebelum Lisa menjawab, aku mengamati teleponnya yang masih terhubung ke telepon lain. Sambil menunggu suara selanjutnya akan muncul.
"Sahabatku, namanya Rere, dia sudah tiada." Jawab Lisa terlihat sedih.
Jawabannya membuatku langsung diam. Aku tidak percaya, tapi Lisa terlihat tidak sedang bercanda. Aku melihat ke sekitar, tidak ada satu pun teman kelas yang memperhatikan kami, bahkan satu pun suara di kelas tidak ada yang masuk ke gendang telingaku, padahal Febi dan Anie terlihat sedang mengobrol.
"Krsk... Lisa, ini aku, Sheila. Tolong jangan bilang apa pun tentangku pada Mamah Papah ya! Aku nggak mau mereka khawatir, jadi-" Ucap seseorang bernama Sheila, dia juga terdengar tergesa dengan suara yang cukup sedih tapi seperti mencoba untuk ikhlas, entah kenapa tiba-tiba dia tidak melanjutkan kalimatnya.
"Masih ingat aku, 'kan, Lis? Aku Rendi. Tadi aku denger... di dekatmu ada laki-laki ya? Cie-cie! Semoga langgeng ya! Btw, Rere tadi bohong, kami sedang di tempat yang berbeda-beda sekarang. Oiya, oy Rian! Ngomong sesuatu dong sama-" Kata seorang laki-laki dengan nada bercanda, dia adalah Rendi.
"Seperti biasa, Rendi nyebelin, 'kan? Sebenarnya aku lagi sedih. Jadi, aku cuma pengen bilang sama kamu kalau... aku rindu kita kumpul bareng-bareng, aku, kamu, Rendi, Rere, Sheila, sekalian sama Bu Dewi, mungkin? Hahaha. Cuma itu aja. Bye-bye... krsk krsk... tiingg-" Ujar seorang laki-laki entah siapa namanya, sebelum sambungan telepon terputus.
Seseorang yang terakhir berbicara seolah menyampaikan apa yang dia inginkan tentang rasa rindunya, sekaligus sebagai penutup sambungan telepon mistis itu.
Dia mengatakan seolah mereka semua tidak akan berkumpul seperti dulu lagi.
Perlahan telingaku terasa ringan kembali ketika sambungan telepon terputus, suara yang menggema di telingaku telah hilang. Suara kelas akhirnya terdengar lagi, seolah semuanya telah kembali semula dari dunia yang berbeda tadi.
"Yang terakhir adalah Rian," ujar Lisa dengan nada datar tanpa aku tanya, tapi aku pun mengangguk.
__ADS_1
Sesaat aku merasa lega, sementara Lisa pun mulai menundukkan kepalanya.
Aku terkejut, mencoba untuk melihat wajah Lisa tanpa dia ketahui. Rambutnya yang pendek, membuatku mudah melihat wajahnya.
Lisa pun mulai menangis, air matanya terus tumpah tak terbendung. Dia merapatkan giginya yang putih, mencoba menahan tangisnya. Hanya sesenggukan isak tangis yang terdengar darinya, namun air matanya seakan tidak bisa dia tahan lagi. Air matanya terus mengalir di pipinya, lalu tumpah dan jatuh ke meja di samping telepon genggamnya. Dia benar-benar sedih.
Dan apa yang bisa aku lakukan saat ini? Tidak ada, kecuali memberikan dia waktu untuk sendiri. Kesendirian itu... Lisa menangis sedikit lebih keras, kemudian meletakkan kepalanya di meja sambil menggenggam erat ponselnya.
◐◐◐
Bel pulang sudah berbunyi daritadi, tapi aku masih tetap di kelas, hanya menunggu Lisa untuk pulang duluan. Semenjak dia menangis dengan menaruh kepalanya di atas meja, membuat semua orang tidak bisa melihat wajahnya kecuali dari bawah, dan mereka malah tertarik untuk bertanya, "Apa yang terjadi dengan Lisa?"
Dan setiap orang yang ingin mendekati Lisa karena penasaran dengan apa yang terjadi, tentang kenapa Lisa terlihat seperti sedang sedih?
Di sini aku selalu mempersilahkan mereka untuk meninggalkan Lisa karena Lisa ingin menyendiri saat ini. Hingga pada akhirnya hanya ada aku, Lisa, dan Anie yang tersisa di kelas.
"Fir, nggak pulang duluan?" Anie memulai dengan pertanyaan.
"Nanti," jawabku singkat, padat, dan jelas.
"Kamu kenapa? Daritadi kayak lagi melindungi Lisa banget! Memangnya ada apa dengannya?" tanya Anie lagi, dan sudah kuduga pertanyaan akan menjurus ke arah itu.
Aku menoleh ke arah Lisa yang masih meletakkan kepalanya di meja, kemudian menjawab Anie. "Nggak papa, Nie, kamu pulang duluan aja!"
__ADS_1
Aku setengah memaksanya agar tidak mengganggu Lisa. Apa tingkahku yang seolah melindungi Lisa seperti ini bagus untuk orang yang sedang sedih? Karena aku ingat kalau Lisa adalah orang yang pendiam, pasti dia tidak suka ketika sedang sedih dan banyak orang yang malah menghampirinya.
"Anie, besok sabtu, Ibuku menyuruhku buat buang kucingku. Apa buang kucing di sekolah itu nggak papa ya?" tanyaku mengalihkan topik.
"Sabtu? Masih lama. Kalau kamu nggak ketahuan satpam sih nggak papa, lagipula guru-guru di sini banyak yang suka kucing, pasti ada yang ngurus kucingmu itu!" Jawab Anie mendadak bersemangat, kemudian mengangkat tasnya. "Btw, aku pulang dulu ya?"
"Oh gitu ya? Oke, hati-hati di jalan!" Balasku tidak terlalu kencang.
Anie pun akhirnya pergi, menyisakan aku dan Lisa di kelas.
Ternyata lama juga untuk menunggu seorang perempuan selesai menangis dari tekanan batinnya, walaupun sebenarnya aku juga kalau menangis, mungkin satu jam baru selesai. Jadi aku akan bersabar menunggu Lisa selesai bersedih sampai 1 jam.
Aku mencoba kilas balik. Dengan teman-temannya yang sudah meninggal, kemudian tiba-tiba Lisa mendapatkan panggilan telepon mistis dari mereka yang sepertinya berada di dunia lain, pasti sangatlah menyedihkan, apalagi mereka seolah hanya ingin mengatakan kalimat terakhir mereka pada Lisa. Walau aku tidak pernah merasakan kejadian seperti ini, tapi jika aku memposisikan diriku menjadi Lisa, pasti sangatlah menyedihkan.
Kenapa aku percaya dengan opini kilas balikku? Hehehe... karena aku sering menonton film horor, dan jadi tau kalau arwah seseorang yang sudah mati bisa menghubungi seseorang yang masih hidup melalui telepon.
Saat aku sedang asyik berpikir, tiba-tiba suara terdengar di belakangku. Ternyata Lisa akhirnya sudah mengangkat kepalanya, sambil sesekali mengusap bekas air matanya yang masih sulit dihapus.
"Yang sabar, Lis. Oiya, kamu masih ada aku kok! Walau aku teman barumu, tapi aku janji kalau aku nggak bakalan ninggalin kamu!" Ucapku menebar senyum, berkata seperti bocah kecil berumur 7 tahun. "Btw, aku lelah panggil kamu, 'Lis'. Lis, Las, Lis mulu. Gimana kalau besok-besok aku bakal panggil kamu 'Lisa' langsung?"
Lisa yang awalnya diam, tiba-tiba terkejut dengan perkataanku untuk memanggil namanya secara lengkap, seakan kembali mengingat sesuatu dari apa yang aku katakan barusan.
Sesaat kemudian dia tersenyum sebentar, tampak tulus sekali, sebelum akhirnya menunduk kembali.
__ADS_1
Senyuman yang tipis tadi, menjadi penutup hari ini sebelum kami berdua pulang.