
Setelah seenak jidat membuat Atma hingga menepi, aku pun hanya menjawab Anie dengan gelengan kepala seakan lagi sakit leher. Eh salah, maksudku sakit mulut.
Akhirnya aku dan Lisa sampai di meja dan kursi masing-masing, kemudian meletakkan tas kami.
"Memangnya anak PMR tadi ngejar kita ya?" tanya Lisa memulai obrolan, aku cukup senang karena biasanya akulah yang memulai obrolan.
"Hehehe... enggak sih, cuma biar kita kabur doang darinya, sekalian olahraga kecil-kecilan," jawabku sambil tertawa malu, lagipula harusnya aku minta maaf pada Lisa karena telah menarik tangannya tadi, selain karena mengajaknya berlari.
Sayang, aku malu untuk meminta maaf karena hal memalukan tadi, alias hal memalukan itu adalah ketika aku menarik tangan Lisa.
Lisa langsung memasang wajah malas, itu membuatku tertawa terpingkal-pingkal karena dia tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu.
Dia memang benar-benar orang yang jarang berekspresi. Bahkan saat aku menertawainya sampai terpingkal, dia hanya diam di sana. Sedikit rasa bosannya membuatnya mengalihkan pandangan dariku.
Ummm... mungkin dia terganggu dengan tawaku yang lebar, atau tersinggung karena aku menertawainya dengan kencang. Jadi, aku pun berhenti tertawa.
Tapi entah mengapa di balik wajahnya yang menunduk, dia malah melirik ke arahku setelah tawaku mendadak berakhir. Walaupun tatapannya datar sih.
Aku penasaran, apa yang terjadi di benaknya? Apa yang dia pikirkan saat ini?
"Oiya, Lis, nanti temenin aku ambil kucingku saat pulang sekolah ya di ruang UKS?" mohonku untuk mengajaknya.
"Kucingmu ya? Umm..." Lisa mencoba berpikir sejenak sebelum menjawabku. "Iya, nggak masalah."
"Asyik!" Tanggapku karena senang mendengarnya.
Aku ingin melompat setinggi-tingginya, tapi buat apa juga lompat? Aku juga baru ingat kalau aku ini adalah orang yang pemalas, tapi entah kenapa semenjak mengenal Lisa, aku lebih banyak bertingkah dari biasanya yang suka tidur di kelas.
Lupakan saja tentang tingkah lakuku yang tiba-tiba berubah ini, lalu balik lagi ke pembahasan hari ini.
__ADS_1
Sekarang, 'kan enak karena pulang sekolah nanti, Lisa akan menemaniku untuk mengambil kucing putihku yang kemarin sabtu aku tinggal di sekolah. Entah kenapa, tumben Lisa mau mengiyakan ajakanku, biasanya dia selalu menolak dengan nada datar.
Kalian tau sendiri ketika orang cuek mengatakan, "Tidak" saat dia diajak untuk melakukan sesuatu.
Aku tidak bisa membayangkan nanti sore ketika pulang sekolah, pasti sangat menyenangkan.
Mungkin yang awalnya Lisa mengiyakan ajakanku untuk mengambil kucing, setahun kemudian mungkin dia bakal mengiyakan ajakanku untuk nonton bioskop? Entahlah, nggak ada yang tau ya, 'kan? Apa yang aku bayangkan, mungkin saja bisa terjadi, walau cuma mungkin.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Dexter yang baru saja sampai di kelas lalu membangunkanku dari hayalanku.
"E-eh?! Oh, Dexter. Nggak papa." Jawabku sambil melengos malas menatapnya.
"Pasti lagi menghayal tentang Lisa ya?" Dexter terlihat ingin memojokkanku.
Dia mengatakan itu di depan Lisa!! Sudah gila ini orang! Aku tidak boleh panik.
"Enggak sih. Mungkin," kata terakhir itu, aku mengatakannya dengan pelan.
Tunggu, kata Dexter, Febi benar soal apa?
Ada apa dengan mereka berdua yang selalu berselisih paham ketika aku dan Lisa sedang mengobrol? Sepertinya banyak yang terjadi diantara mereka.
"Canda, Fir! Aku nggak mau bilang sesuatu kayak gitu di sini. Btw, sekarang aku perlu mendukungmu. Entahlah, aku lelah berdebat sama Febi!" Lanjut Dexter.
Aku tidak paham apa yang dikatakan oleh laki-laki bujang satu ini. Dia berjalan ke sampingku, lalu merangkul seperti teman sejatinya, padahal saat ini dia cuma sedang sok akrab. Inilah alasan kenapa aku ingin duduk sendirian di kelas.
Entah apa yang sudah terjadi pada Dexter dan Febi, hingga mereka bisa memiliki satu pemikiran yang sama, tumben. Sebenarnya aku juga tidak membutuhkan dukungan mereka untuk hubunganku dengan Lisa kedepannya sih, karena ini privasiku, buat apa mereka ikut campur?
"Udah sana minggir. Jauh-jauh, mulutmu bau!" Ketusku mendorong Dexter agar dia pergi dan tidak merangkulku lagi.
__ADS_1
"A-apa? Hah?! Hah," Dexter bingung dengan tingkahku, kemudian mencoba mengecek bau mulutnya yang membuat Atma tertawa di dekat Anie.
◐◐◐
Pulang sekolah akhirnya tiba juga, ini yang aku tunggu-tunggu daritadi. Yang aku tunggu dari jam pelajaran pertama dimulai, hingga pulang sekolah.
Rencanaku setelah pulang sekolah adalah mengajak Lisa jalan, alias cuma pergi ke ruang UKS.
"Kenapa hari ini orang-orang mulutnya pada bau ya?" tanyaku ketus ketika Atma dan Dexter menoleh ke belakang, mempersiapkan tas mereka untuk dibawa pulang.
"Kacau banget dia hari ini!" Sewot Dexter saling beradu mata dengan Atma, sementara Atma hanya mengangguk menjawab Dexter.
"Tadi aja saat aku pengen narik uang kasnya, eh dia malah bilang kalau hari ini lagi gada uang, sambil ngatain lagi kalau mulutku bau! Kan aku jadi malu! Tega banget!" Curhat Febi terlihat kesal, tapi kadang juga berpura-pura menangis.
"Gila! Cewek secantik Febi aja dikatain!" Tambah Atma walau wajahnya bercanda.
Febi tidak jadi sedih, dia justru malah sebal mendengar perkataan Atma barusan.
Aku tidak mengurusi mereka yang berbicara sendiri tanpa mengajakku, walau pembahasannya menyudutkanku.
Tidak peduli! Febi tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya, bahwa setelah aku mengatainya, aku langsung meminta maaf padanya karena kupikir dia laki-laki. Mana tega aku mengatai perempuan.
Sementara aku menunggu Lisa selesai menggambar-gambar tidak jelas di bukunya, aku mencoba mengisi waktu luang dengan bermain ponsel, atau sesekali menguping pembicaraan Dexter dengan Febi. Dan Atma? Dia baru saja pulang untuk mengejar Anie yang sudah pulang duluan. Selain pasangan Febi dan Atma, ada pasangan ngehits lagi akhir-akhir ini, yaitu Atma dan Anie, dan mungkin suatu saat akan ada giliranku dan Lisa.
"Fir, ayo ambil kucingmu. Kamu nggak pulang?" tanya Lisa tiba-tiba berdiri di sampingku sambil membawa tas di punggungnya, jadi dia sudah siap?
"O-ok, ayo!" Jawabku setengah terkejut, kemudian mengambil tasku lalu pergi bersama Lisa. "Aku nggak tau kalau kamu berdiri di sebelahku, aku kira kamu lagi mau gambar-gambar dulu, jadi aku nggak mau ganggu kamu,"
"Santai aja, aku kadang suka lupa, jadi perlu diingetin." Balas Lisa, walau terdengar datar, dia ternyata cukup terbuka juga.
__ADS_1
Dia cepat sekali belajar membiasakan diri dengan keadaan, apalagi denganku yang terus mengajaknya mengobrol. Apa dia ketularanku? Mungkin perlahan, dia mulai menunjukkan sifat terdalamnya, yaitu menjadi orang yang terbuka dan suka mengobrol. Mungkin dia bakal menjadi orang yang suka mengobrol sepertiku.
Yup! Selain aku suka tidur dan bermalas-malasan, sebenarnya aku juga suka mengobrol, walau kedua sifat itu berseberangan.