
"Fir, aku pernah lihat kucingmu, tapi aku nggak bakal nyeritain tentang kapan aku melihatnya." Gumam Lisa di dekatku.
"Owh kamu pernah lihat ya? Nggak papa kalau kamu nggak mau ceritain dulu sih," Aku pasrah untuk mencoba memendam penasaranku.
Sebenarnya aku kepo sekali dengan Lisa. Memang di mana dia pernah melihat kucingku? Apa di rumahku? Atau kucingku pernah main ke kosannya? Pikiranku terlalu pendek untuk memikirkan semua opiniku.
Tidak ada opiniku yang masuk akal, bahkan aku saja tidak tau kosan Lisa jauh dari rumahku atau tidak. Aku terlalu bego untuk memikirkan jawaban dari pertanyaanku sendiri.
Sedangkan anak PMR yang juga ada di dekat kami, dia terlihat penasaran dengan apa yang kami obrolkan.
Dasar anak kepo! Bisa-bisanya wajahnya mendekat ke arahku, kemudian sesekali ke Lisa, seperti ingin mendengar cerita dari Lisa tentang kapan Lisa pernah melihat kucingku.
"Eh-eh, tadi namamu Lisa, 'kan?" tanya anak PMR itu mendekat ke arah Lisa, membuat Lisa sedikit melirik ke arahnya. "Kamu kenapa ingin berteman dengan laki-laki yang suka membuang kucing?"
"Anak ini...!!!" Aku geram sekali dengan anak PMR ini, kalimatnya selalu menyudutkanku.
Wajahnya yang sok polos, membuatku kesal sekali! Argghh... aku harap aku menjadi orang yang sabar.
Lisa kembali melihat ke arah kucingku, lalu bermain lagi sambil mengatakan hal yang membuat emosiku reda. "Aku yakin kalau Firza tidak sengaja membuang kucingnya. Dia laki-laki yang baik, walau sikapnya aneh, tapi aku menyukainya."
Kekesalanku seketika mereda, bahkan aku hampir tertawa kelepasan untuk mengejek si anak PMR sewot ini.
Tunggu, tidak usah diejek, dengan perkataan Lisa saja sudah mampu membuat anak PMR itu terkejut lalu mundur beberapa langkah. Tentu saja aku jadi bangga karena Lisa bisa berkata demikian di depanku, seolah sedang membanggakanku.
"Ya udah, Lis, kita pulang!" Ajakku, kemudian mengeluarkan kucingku dari kandang.
"P-pulang? E-eh, kandangnya jangan dibawa juga loh ya!" Gugup anak PMR itu, tapi bisa-bisanya dia masih bisa sewot.
__ADS_1
"Siapa juga yang bawa pulang kandangnya?!" Aku tak kalah sewot.
Sambil menggertakan giginya karena kesal, anak PMR itu melihat ke arah kepergianku dan Lisa. Kami meninggalkannya sendirian di dalam ruang UKS, karena aku sudah tidak tahan akan kesewotannya.
Saat ini, akulah yang membawa kucingku, sementara Lisa sesekali menoleh ke arah kucingku dan sesekali juga mengulurkan jarinya untuk bermain dengan si kucing.
Lisa terlihat lucu kalau sedang gemas dengan kucing, apalagi kucingnya sedang aku bawa, seakan kami terlihat seperti pasangan harmonis.
Aku dan Lisa terhenti di lobi sekolah.
Mungkin aneh juga membawa kucing di sekolah, membuatku terdesak di gerombolan siswa karena gemas dengan kucingku.
Yup! Saat ini, banyak orang-orang sedang menghampiriku untuk bermain dengan kucing yang aku pangku. Dan itu membuatku tidak bisa berjalan pulang karena orang-orang yang gemas dengan kucingku menghalangi jalanku. Walaupun kebanyakan dari mereka adalah perempuan yang cantik, tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin lewat lalu pulang!
"Sudah ya, sudah-sudah... aku mau lewat," ucapku cukup sopan dan lembut.
"Mau bawa kucing ini ke mana?" tanya salah satu perempuan yang menghadang.
Terlihat Lisa hanya diam sambil menatap polos ke arah kucingku, sebenarnya apa yang dia pikirkan sekarang? Dengan tatapan polos seperti itu, jika aku jadi dia, pasti aku tidak memikirkan apa-apa di tengah kerumunan ini, entah aku bego atau bagaimana, tapi itulah faktanya. Mungkin Lisa berbeda.
Oke, keluar dari pikiranku sebentar. Tidak ada yang memberikan jalan padaku untuk pulang, karena kerumunan pecinta kucing ini terus menghadang.
Memangnya apa mereka jarang melihat kucing sebelumnya? Sampai terlihat gemasnya minta ampun setelah melihat kucingku. Mereka seenak jidat menghalangi jalanku, ditambah kucingku menyukai elusan dari tangan mereka.
Tanpa pikir panjang, aku memaksa menerobos saja daripada terus diam tidak diberikan jalan. Aku mendesak keluar, dan aku bisa melihat Lisa juga mengikutiku di belakangku. Terdengar suara, "Yah... pergi..." karena mereka semua sedih dengan kepergian kucingku pada tangan mereka yang masih ingin mengelusnya.
Akhirnya aku bisa keluar dari kerumunan pecinta kucing itu, dan akhirnya kami pun sampai di teras halaman sekolah.
__ADS_1
Arah kanan adalah parkiran motorku, dan arah kiri adalah gerbang sekolah kami. Aku dan Lisa diam di tempat ini, mata kami saling beradu sebentar. Apa ini perpisahan kami hari ini?
"Lis, aku nggak bisa bawa kucingku sendirian karna aku naik motor. Kamu mau ya ikut sama aku? Nanti kamu bonceng aku, terus kamu juga yang bawa kucingku," ajakku memohon walau Lisa hanya diam di sana.
Lisa menoleh ke sekitar tanpa mempedulikanku.
Apa yang dia ingin lakukan? Dia terlihat fokus memusatkan pandangannya, seolah ingin mencari sesuatu.
Saat dia menemukan sebuah kotak kardus mie instan di pojok halaman, dia pun segera menghampirinya, mengambilnya, kemudian memberikannya padaku.
"Aku bisa pulang sendiri. Oiya ini ada kardus! Masukkan kucingmu, kemudian tutup kardusnya dengan rapat, karena kamu bawa motor matic, jadi mudah untuk menaruh kardusnya di tempat kakimu." Jelas Lisa dengan nada datar.
Aku pasrah untuk mengajaknya, dia selalu menolak tanpa ada satu pun ajakanku yang dia terima. Kecuali ajakanku untuk mengambil kucingku, itu membuatku sedikit lebih senang.
"Y-yaa... b-bagus, ide bagus! Kalau begitu..." Aku memasukkan kucingku pada kardus yang masih Lisa bawa. "A-aku ambil kardusnya. Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Lis! Kamu hati-hati di jalan!"
Lisa hanya mengangguk tanpa beban di sana, dan aku hanya bisa pasrah lalu pulang tanpa dengannya.
Mungkin perempuan seperti dia memang sangat sulit untuk diajak pergi jalan-jalan, atau karena dia tidak menyukaiku? Entahlah.
Aku jadi ingat, suatu waktu dia pernah bilang kalau di setiap kalimat yang dia ucapkan, dia kadang mengatakan bahwa dia menyukai sifatku. Aku tidak tau apa dia sekedar tidak sengaja mengatakannya, ataukah jujur dari hati, atau hanya agar aku besar kepala saja?
Entahlah, lupakan saja. Setelah memberikan kardusnya padaku, Lisa pun pulang dengan berjalan kaki ke arah gerbang sekolah.
Di sini, aku cuma bisa memandanginya dengan tersenyum. Aku hanya berpikir kalau dia adalah perempuan yang selalu mewarnai hari-hariku.
Aku senang, aku bahagia.
__ADS_1
Ya sudahlah, walau dia sering menolak ajakanku, aku juga tetap bahagia bisa menemaninya di sekolah. Seperti mengajaknya mengobrol di kelas, atau duduk di depannya saat jam pelajaran.
Keluar dari pemikiranku. Kalau begitu, aku akan pulang sekolah sekarang.