
Setelah suara kesakitannya yang terakhir, akhirnya laki-laki kesurupan itu pun tidak lagi menggeliat karena senter kamera ponselku.
Sepertinya hantu jahat sudah berhasil keluar dari tubuhnya, karena terbakar oleh senter kameraku. Tapi saat ini dia pingsan setelah itu terjadi.
"Kak! Kamu sudah aman!" Aku setengah berteriak memanggil kakak kelas perempuan tadi.
Sesaat kemudian, dia pun datang dengan berlari, aku merasa seperti sedang memanggil kucing untuk makan siang. Tapi saat ini aku benar-benar merasa lega, aku merasa mentalku mulai membentuk ketika bisa mengalahkan hantu yang sedang merasuki tubuh laki-laki ini.
"L-Lisa, k-kamu yang... melakukan s-semua ini?!" tanya kakak kelas perempuan itu, dia sangat terkejut tidak percaya.
Sambil mengarahkan senterku ke kakak kelas laki-laki yang sedang tergeletak diam itu, aku langsung mengangguk. Kupikir aku juga tidak percaya bisa melakukan hal seperti ini. Ini benar-benar seperti mimpi saja, ketika aku bisa melakukan hal yang berani seperti ini.
Dan berbicara tentang kakak kelas laki-laki ini... dia sepertinya akan aman di sini, dia tidak akan kerasukan lagi hari ini setelah pingsan seperti ini.
"Dia sudah baik-baik saja. Ayo kita pulang, kebetulan aku juga membawa kunci lobinya!" Ucapku mencoba untuk tersenyum, agar kakak kelas perempuan itu merasa aman bersamaku.
Huuufftt... hari ini begitu panjang dan menyeramkan, aku ingin mengakhirinya secepatnya.
Dan kakak kelas perempuan yang sekarang ada bersamaku... mulutnya terkunci dengan rapat karena ketakutan. Apa dia tidak percaya bahwa kami bisa pulang sekarang? Entahlah, aku tidak peduli dengan apa yang dia pikirkan.
Sementara ini, aku tidak mempedulikannya walau dia terus memegang erat lenganku. Saat ini aku terus fokus berjalan, melihat dengan menggunakan kamera ponselku untuk menentukan jalan, sekaligus berjaga-jaga kalau saja tiba-tiba makhluk halus menyerang.
"K-kameramu bagus, bisa melihat tempat yang gelap! Tunggu, bukannya ponselmu keluaran lama ya? Bukannya harusnya ponselmu nggak punya kamera seterang dan sebagus ini?!" tanya kakak kelas itu di sampingku, wajahnya mendekat ke arah kamera ponselku hanya untuk mengamati gambar yang dihasilkannya. "Bahkan bisa liat tempat gelap sampai lumayan jauh?!"
Kakak kelas itu terus memuji kameraku dengan mengatakan, "Keren!" atau lain sebagainya.
Karena risih, aku pun menarik tanganku ke atas untuk menjauhkan ponselku darinya. Lagipula aku juga nggak ingin dia tau kalau kamera ini juga bisa melihat hantu, selain bisa melihat di tempat gelap.
__ADS_1
"Oiya btw, Lis, a-aku minta maaf ya! Sebenarnya niat kami ikut mengajakmu itu cuma buat mengerjaimu karena kamu anak baru di sekolah ini, ditambah k-kami juga baru tau kalau kamu terlibat dalam insiden hilangnya 4 siswa dan 1 guru di hutan. Kami cuma ingin mengerjaimu, tapi nggak tau kalau hasilnya bakal begini. Maaf ya!" Jelas kakak kelas perempuan itu di sampingku sembari perjalanan menuju lobi.
"Nggak masalah." Jawabku sambil melengos dari tatapannya.
"K-kamu marah ya?" tanya kakak kelas perempuan itu untuk memastikan.
Aku menggelengkan kepala tanpa berbicara sepatah kata pun. Mungkin tidak masalah jika dia hanya ingin mengerjaiku, tapi jika dia memainkan perasaanku juga dengan menunjukkan fotoku bersama dengan teman-teman dekatku dulu? Itu sangat menyakitkan bagiku.
Dilanjut dengan perjalanan yang hening, kakak kelas di sampingku pun mulai canggung padaku. Aku tidak peduli.
Sesampainya di lobi sekolah, aku membuka kuncinya, kemudian kami pun bisa keluar dari sini. Kami melihat tukang bersih-bersih sekolah di depan gerbang sekolah, dan kami pun menghampirinya.
"E-eh! B-bagaimana kalian bisa masih ada di sini di jam larut malam begini?! Sudah, cepat pulang sana!" Seru tukang bersih-bersih itu sedikit agak kesal.
Ini menutup kisah perjalanan panjangku hari ini.
◐◐◐
Hari ini aku juga tidak berjualan untuk pemasukanku, sementara aku ijin tidak berjualan hanya untuk dikerjai di sekolah. Benar-benar menyedihkan.
Perjalanan sepanjang malam hari ini benar-benar melelahkan bagiku.
Kulihat banyak motor dan mobil yang terus lalu lalang di larut malam ini, aku tidak peduli. Pandanganku kosong karena lelah dan kesal, tidak ada yang bisa aku lakukan selain berjalan pulang.
Sesampainya di kosan, aku pun membuka pintu yang belum terkunci.
Ibu kosan sepertinya sedang tidur, besok aku akan minta maaf padanya karena telah pulang larut malam. Teman-teman satu kosku mungkin juga sudah pada tidur di kamarnya masing-masing, karena kosan begitu sepi saat ini.
__ADS_1
Aku mengunci pintu kos, kemudian masuk ke kamarku. Melihat ke kalender, oh ternyata besok hari minggu? Hari ini aku benar-benar lelah, untunglah kalau besok libur.
Hari ini penuh emosional. Aku duduk di atas ranjangku tanpa berganti pakaian karena sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melakukannya. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
Ketika aku menoleh ke sebelah kiri, melihat ke arah sebuah figura foto yang berisikan fotoku bersama teman-teman dekatku dulu, tiba-tiba dadaku terasa sesak, lalu air mata pun mengalir begitu saja.
Aku tidak bisa membendung kesedihan ini. Aku benar-benar merasa bersalah, aku juga merindukan mereka.
Semua itu sudah berlalu, tapi aku tidak bisa bangkit dari kesedihan yang terus menghantuiku, karena mereka adalah orang terbaik bagiku. Rere, Sheila, Rian, Rendi, semuanya... aku rindu dengan kalian.
Aku mulai menangis, suara isak tangisku pecah, perlahan mulai terdengar lebih keras setiap detiknya. Aku tidak bisa menahan tangisanku ini. Aku benar-benar tidak berdaya sekarang. Semoga tidak ada orang di kos-kosan yang mendengarkan tangisan kerasku ini.
Waktu terus berlalu, tapi emosiku masih terus berlarut. Aku menangis tiada henti, kesal dengan hidup yang tidak adil ini. Aku ingin memukul sesuatu, menyakiti seseorang, atau membunuh makhluk hidup. Tapi tidak, aku bukanlah tipikal orang yang seperti itu. Aku lebih memilih untuk tetap diam di sini, menahan kesedihan ini sendirian.
Mungkin menangis beberapa jam saja cukup bagiku untuk bangkit kembali dari kerapuhan. Walau aku sedih sekali saat ini, tapi sebagai seorang perempuan, aku juga harus kuat.
Setelah berjam-jam berlalu, akhirnya aku pun berhenti menangis karena air mataku sudah mengering. Kucoba mengatur napasku kembali, sekalian mengatur emosiku yang terus bergejolak tidak tentu arah, entah marah, sedih, senang, dan takut. Aku merasa sedikit lebih lega, walau aku merasa hidupku jadi sedikit lebih hambar.
Ring... ring...
Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di atas ranjang di sebelahku berdering sebentar, layarnya terlihat menyala.
Saat aku mengeceknya, ternyata ada pesan yang muncul dari whatsapp-ku.
Siapa yang mengirimkan pesan padaku selarut malam ini?
"Lisa, tadi siang kamu, 'kan dipaksa ikut kakak kelas buat uji nyali malam-malam? Kamu nggak papa, 'kan? Soalnya mereka keliatan pengen jahilin kamu," chat Firza pukul 01.49 pagi, lalu dia melanjutkan kalimatnya di chat. "Mending agak hati-hati sama kakak kelas kayak gitu, apalagi kamu murid baru, 'kan? Oiya, maaf chat kamu malem-malem!"
__ADS_1
Diiringi emot tawa di belakangnya. Entah kenapa senyumku sedikit mengembang melihat pesan yang Firza kirimkan, tapi aku akan menjawab pesannya besok pagi saja, hari ini aku sudah lelah.
Dan terima kasih, Fir, telah menutup hariku dengan lebih baik.