Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
9-2. Penampakan Ceroboh


__ADS_3

Aku senang Lisa bisa mempercayaiku, membuatku kembali bersemangat dari rasa malasku barusan. Bahkan Lisa sampai menjawabku dengan jawaban yang lumayan panjang, yang mungkin jawaban itu tidak akan didapat oleh orang lain ketika mereka ingin meminjam ponsel Lisa.


Memang buat apa orang lain ingin meminjam ponsel milik Lisa? Jelas kalau Lisa tidak akan mengijinkan orang lain meminjam ponselnya.


Tapi aku berbeda, aku hanya meminjam ponsel untuk menyalakan senter saja, dan lagipula ini adalah pertama kalinya aku meminjam ponsel milik Lisa.


Kembali ke cerita. Di sini Lisa memberikan ponselnya padaku dengan syarat yang mudah saja. Aku terpaksa meminjam ponselnya karena... aku malas meraba isi tasku untuk mencari ponselku yang terselip di antara buku, jadi lebih mudahnya aku meminjam ponsel Lisa untuk menyalakan senter. Tanpa senter, aku juga tidak akan bisa melihat tempat gelap di sudut lemari.


Dexter mengikutiku persis di belakangku setelah aku mendapatkan ponselnya Lisa. Mungkin dia juga ingin mengecek lemari itu bersamaku.


Area belakang di kelas begitu sepi, teman-teman kelas juga nampak sedang mengobrol di meja guru ataupun ada juga yang mengobrol di teras kelas.


Karena area belakang sepi, tidak ada yang menghalangi jalanku dan Dexter untuk menuju ke lemari kelas yang terletak di sudut belakang kelas.


Sambil menyalakan senter terlebih dahulu, barulah aku membuka pintu kayu lemari yang kuyakini aku menaruh peniti milik Dexter di sana.


Aku mencarinya, mengarahkan senterku ke ujung dan sudut demi sudut dalam lemari itu.


"Mana?" tanya Dexter dengan polosnya.


"Bentar, harusnya aku taruh di sini..." Aku berujar dan kebingungan, sambil masih menyorotkan senter ke dalam lemari, hingga aku menemukannya. "Ahaa!!! Itu dia, Dex!"


"Hah? Memang penitinya pindah tempat ya? Dia bisa bergerak?!" Dexter berbicara dengan nada tinggi, tapi tidak jelas apa maksud dari perkataannya, apakah dia bertanya atau hanya sekedar sewot saja.


Aku menggelengkan kepala menjawab Dexter, sementara dia hanya mengkerutkan dahi di sebelahku. Dan setelah penitinya ketemu, aku bosan, alhasil aku menyorotkan senter ke sudut-sudut lemari karena kurang kerjaan. Tapi entah kenapa, Dexter masih belum beranjak pergi dan malah ikut-ikutan mengamati dalam lemari yang aku sorot dengan senter ponsel.

__ADS_1


Tidak ada apa-apa di sini, lemari ini hanyalah lemari besar yang tidak ada isinya.


Bayangkan saja ada lemari besar dan setinggi diriku, hanya berisi satu peniti sebelumnya, itupun sekarang penitinya sudah kembali pada pemiliknya.


Mungkin agak konyol jika aku dan Dexter dilihat dari sudut pandang orang lain, karena pasalnya kepala kami berdua sedang menjorok masuk ke dalam lemari besar.


Masuk kembali di realita. Tidak ada yang aku temukan di lemari ini. Setelah aku berniat untuk selesai dan mengakhiri ini, aku mulai mencari tombol untuk mematikan senter di ponsel Lisa.


Aku mencarinya sambil dengan kepalaku masih menjorok ke dalam lemari.


Saat aku sudah menemukannya, aku ingin memencet tombolnya untuk mematikan senter ponsel milik Lisa. Namun... entah kenapa agak susah dipejet, atau mungkin karena tanganku yang agak basah ya?


Maka, aku pun mematikan layar hp Lisa, lalu mengelap sebentar layarnya dengan sikuku, kemudian baru menyalakan layarnya lagi untuk memencet tombol off. Namun, entah kenapa aku tidak sengaja memencet tombol "kamera" di ponselnya, yang membuat kamera ponsel Lisa terbuka.


Aku langsung melihat sebuah tengkorak kepala manusia dengan sangat-sangat jelas, tergeletak di dalam lemari, terlihat melalui kamera ponsel Lisa yang seketika membuatku sangat terkejut mendapatinya.


Sebuah tengkorak kepala manusia tergeletak di tengah-tengah dalam lemari. Entah kenapa tengkorak itu terlihat sangat jelas melalui kamera ponselnya Lisa, padahal lemari itu sangatlah gelap. Ditambah hal yang menyeramkannya lagi adalah bercak-bercak darah yang mencoraki tengkorak manusia itu.


Dan karena saking terkejutnya aku akan penampakan ini, hingga membuatku spontan melempar rendah ponsel milik Lisa ke belakangku, bersamaan diikuti denganku yang langsung jatuh tersungkur ke belakang karena terkejut.


"F-Firza! Kamu kenapa?!" tanya Dexter beberapa detik setelah pantatku sakit karena terjatuh.


Aku hanya diam dengan mulut menganga menghadap ke arah lemari, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat tadi. Benar-benar terlihat nyata, tidak mungkin itu tadi hanyalah hayalanku. Penampakan yang sangat menakutkan.


◐Flashback dari Lisa◐

__ADS_1


Tunggu, aku belum mengecek aplikasi foto di ponselku. Saat aku mencobanya, ternyata kameranya lebih terang dari yang aku duga. Kukira ponselku termasuk yang butut untuk urusan kamera, tapi kali ini... kamera bisa digunakan di tempat gelap sekalipun.


Karena takjub dengan kameraku yang tiba-tiba berubah menjadi lebih bagus, aku pun memutar-mutarnya, mengarahkannya ke tempat gelap yang tidak bisa dijangkau oleh mataku.


Entah kenapa kameraku lebih bisa melihat tempat gelap ketimbang mataku sendiri, seolah mirip kamera inframerah yang bisa melihat benda di tempat gelap.


Tapi apa hanya ini? Maksudku, apa yang berubah cuma kamera hanya lebih terang dan bisa untuk melihat di tempat gelap?


Namun saat aku mengarahkan kameraku di gedung lantai 2 yang gelap, aku terkejut, karena aku bisa melihat sebuah penampakan dari kameraku, sedangkan aku tidak bisa melihat penampakan itu dengan mata kepalaku sendiri maupun mata batinku. Aneh.


Kenapa tiba-tiba bisa begini? Apa ini yang dimaksud Ibu? Kameraku bisa melihat hantu yang tidak bisa aku lihat? Dan kamera ini juga lebih bisa melihat tempat gelap dari yang aku tidak bisa?


"Pus, aku mendapat kamera bagus. Bagaimana menurutmu?" tanyaku pada kucing, mungkin senang karena mendapat sesuatu yang baru membuatku sedikit gila. "Yaah, aku senang mendapat semua ini."


◐Keluar Flashback◐


Di sini, aku masih ketakutan. Sepertinya hanya aku yang melihat penampakan itu, tapi apa alasan Dexter tidak bisa melihat apa yang aku lihat? Apa karena dia tidak melihat melalui kamera ponselnya Lisa? Ataukah karena memang penampakan itu hanya memperlihatkan dirinya padaku saja?


"Firza! Ponselnya Lisa!!" Teriak Anie histeris.


Aku langsung gelagapan mendengar teriakan itu, karena aku baru ingat kalau tadi aku tidak sengaja melempar ponselnya Lisa. Aku... aku takut jika ponselnya rusak dan Lisa akan bete padaku.


Menoleh ke belakang, aku melihat Anie dan Lisa sedang jongkok di depan ponselnya Lisa, seolah sedang mengecek kerusakan yang terjadi pada ponselnya.


Aku jadi tambah berkeringat dingin melihat mereka berdua, pasalnya aku tidak punya uang lebih untuk bertanggung jawab. Tapi aku mencoba memberanikan diri untuk mendekat ke arah mereka, walau dengan pergerakan lamban menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2