Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
6-2. Ingatan yang Terbuang


__ADS_3

"Iya ingat! Mungkin gara-gara SMP dia ganteng, ditambah tingkahnya yang konyol, apalagi dia juga suka nyapa orang lain. Absurd banget pokoknya!" Cetus Pita menambahkan.


Telingaku sakit mendengar ucapan mereka, entah aku tidak tau niat mereka itu memujiku atau bukan. Benar-benar membuatku malas mendengarnya.


Karena sekarang aku adalah seorang penyendiri, lalu buat apa dipuji karena hal yang sudah berubah dariku?


Masa SMP ya? Sekarang aku sudah sedikit melupakannya, walau kadang aku merasa bahwa masa SMP memang masa yang paling indah yang pernah aku miliki, selain berpergian bersama keluarga.


Soal masa-masa indah seperti itu, kadang menyakitiku, kadang juga membuatku lunak.


Tidak semua masa indah itu memang indah, kadang juga menyakitkan ketika semuanya sudah berlalu.


Waktu SD aku adalah seorang introvert yang benar-benar malu kalau berbicara dengan lawan jenis. Waktu SMP aku adalah ekstrovert yang seperti dikatakan teman-temanku, absurd, dan terkenal di angkatan. Waktu SMA... aku mencoba untuk introvert kembali, aku sudah lelah untuk mencari teman lagi, kini waktunya menyendiri.


Menyedihkan, tapi ya sudahlah. Sambil mendengarkan kenangan-kenangan yang disajikan oleh teman-temanku, aku hanya duduk diam di sini, sambil menopang kepalaku menggunakan tangan karena lelah.


"Malah sekarang, Lora yang bakal jadi terkenal. Dilihat-lihat dari penampilannya, sekarang dia jadi anak OSIS yang sibuk!" Sewot Eko mengalihkan gosip ke Lora.


"Berarti, bakal ada kandidat baru nih! Kamu bakal jadi ketua OSIS selanjutnya ya, Lor?" tanya Pita sambil merayu Lora untuk menjawabnya.


"Hehh!! Siapa bilang?! Kakak-kakak OSIS belum ada yang ngomong!" Cerca Lora yang kaget, langsung sewot.


Aku hanya memperhatikan mereka yang terus mengobrol, aku... aku tidak tau harus mengatakan apa untuk ikut dalam obrolan, sementara otakku kosong di sini. Tatapanku kosong, menatap mereka semua yang sedang penuh emosi kesal maupun terkejut, atau bahkan senang di sana.


Begitu ya? Sepertinya Lora akan maju untuk kandidat baru menjadi ketua OSIS ataupun wakilnya. Memang dia akan menjadi kandidat ke berapa? Entahlah, aku akan mendukung penuh untuk Lora. Padahal dulu dia sama sekali tidak ikut ekstrakurikuler ataupun organisasi, tapi aku terkejut kalau SMA dia menjadi orang penting sekarang, sepertiku waktu di SMP.


Setelah lelah mengoceh, Pita pun menawarkan minuman yang sudah disediakan di atas meja untuk kami.


Mengoceh itu membuat haus, mungkin itulah yang dirasakan Lora dan Eko karena terus mengoceh tadi.

__ADS_1


"Eh, kalian inget nggak sih, sejak kapan kita mulai jadi sahabat?" tanya Lora memulai obrolan kembali, mencoba mengingat-ingat bersama.


"Sejak... sejak kapan ya?" Pita ikut mencoba mengingatnya.


"Eh, bukannya waktu itu... saat kita masih kelas 2 SD? Kejadian di sungai itu, 'kan? Setelahnya, kita coba untuk kerja kelompok bareng. Bener, 'kan?" Aku mencoba menjawab walau masih ragu.


"Kayaknya... bener, Fir. Tapi aku udah lupa!" Tanggap Eko sambil tertawa malu.


"Sama, Ko!!" Tambah Lora mendukung Eko dengan semangat.


Kenapa jadi semangat '45 begini?! Bukan ini yang diharapkan dari semangatnya, dia salah tempat!


Mana ada seseorang jadi semangat dan bangga karena dia lupa?!


Atau Lora pikir ini sedang mengadakan pemilihan ketua OSIS dengan visi misinya? Entahlah, aku tidak habis pikir dengannya. Ada-ada saja tanggapannya.


"Aku... tunggu-tunggu, aku coba ingat-ingat. Waktu itu, 'kan di sungai... awalnya aku sedang..." Aku mencoba mengingatnya, namun tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalaku. "Adududuh... sakit..."


◐Masa Lalu yang Sulit Diingat◐


Pada suatu ketika, waktu kelas aku menginjak kelas 2 Sekolah Dasar.


Aku malas bersekolah, rasanya aku ingin cepat-cepat besar, lalu masuk SMP untuk meninggalkan semua teman-teman SD yang selalu mengejekku.


Tiada hari tanpa ejekan yang terus tertuju padaku, ditambah perlakuan mereka yang kasar kepadaku, seperti memukul, menendang, dan lain sebagainya, membuatku tidak tahan bersekolah.


Di sekolah, bahkan satu teman pun aku tidak punya. Aku tidak tau, kenapa aku selalu dijauhi. Yang menemaniku di kelas hanyalah meja dan bangku, mereka sangat setia padaku.


Sementara temanku di kala jam istirahat, hanyalah batu dan pasir yang terdapat di sebelah bangunan kelasku.

__ADS_1


Aku ingat, Ibu Guru sering menyuruhku untuk tidak bermain pasir di sana, karena katamya di sana ada kotoran kucing. Tapi aku tidak peduli dengan perkataannya, alasan satu-satunya adalah karena mereka teman-temanku. Walau aku selalu iri melihat orang-orang bisa bermain kejar-kejaran, petak umpet, atau lain sebagainya, tidak bermain dengan benda mati sepertiku.


Sedangkan aku di sini hanya bermain batu dan pasir sambil membayangkan mereka adalah mobil balap dan lintasannya.


Walau begitu, aku tidak pernah bosan-bosannya menyendiri, daripada bergabung dengan orang lain lalu mendapatkan perundungan. Aku menyendiri saja sudah dirundung dan dikucilkan, apalagi bergabung dengan mereka?


Suatu hari ketika...


Setelah pulang sekolah, aku berganti baju untuk main sampai sore, entah itu berjalan-jalan atau menyendiri.


Sebenarnya aku takut jika berjalan-jalan sendiri seperti ini, karena aku masih kelas 2 SD alias rawan penculikan. Aku takut jika sesuatu yang buruk terjadi padaku, mengingat aku tidak akan bisa melakukan apa-apa karena aku juga anak rumahan.


Di salah satu rumah yang aku lewati, tampak jam dinding yang bisa aku lihat dari luar. Saat ini sudah pukul 4 sore, sebentar lagi aku memutuskan untuk pulang ke rumah.


Perjalanan yang membosankan. Berjalan di jalanan yang sepi di samping sungai, aku ingin menyusurinya. Hingga aku tak sengaja melihat seorang anak kecil perempuan tepat di depan sungai, sedang duduk sambil memeluk dengkulnya menghadap ke sungai.


Apa dia orang yang bernasib sama denganku? Akan kucoba bertanya.


"Hei, sore-sore seperti ini, kamu kenapa ada di sini?" tanyaku setelah ikut duduk dengannya dan memgambil tempat di sebelahnya, sedangkan dia hanya bingung menatapku karena tingkahku.


"A-aku... hanya bersantai. Kalau kamu?" jawabnya lalu bertanya tanpa jaim-jaiman, karena kami hanyalah sepasang anak kecil.


"Aku juga sama." Balasku lalu tersenyum sebentar menghadapnya.


Percakapan sesuai umur kami. Sepertinya perempuan ini memiliki tipe apa adanya untuk berteman, jawabannya terlihat tulus sekali.


Mungkin jika aku berkenalan dengannya, kami sepertinya bisa menjadi teman, dan dia akan menjadi teman pertamaku selain benda mati.


Sore hari seperti ini, kenapa perempuan ini menyendiri di tepi sungai? Apa dia tidak punya teman sepertiku? Apa dia juga sendirian sepertiku saat ini? Tunggu, aku masih punya kedua orang tua. Mungkin dia menyendiri karena di sekolah tidak memiliki teman.

__ADS_1


"Kamu kenapa sendirian aja?" tanyaku setelah suasana di sini hening, tapi dia tidak menjawabku, bahkan menoleh pun tidak. Dia hanya menunduk setelah mendengarnya. "Aku juga nggak punya teman di sekolah sih, apalagi di rumah. Jadi, ayo kita temenan! Siapa namamu?"


__ADS_2