
"Lis, besok kamu-" Ucapku dipotong secara tidak sengaja.
Sebuah suara gagak muncul di tepi sungai ini, alias di hutan seberang sungai. Suara sekumpulan gagak yang terkejut, mungkin jika diibaratkan dengan film, suara-suara itu datang ketika seseorang terbunuh.
Apa ada yang terjadi di hutan itu? Antara aku dan Lisa dengan hutan itu, hanya sungai besar yang memisahkan kami.
Aku merinding ketakutan, sementara sekumpulan gagak pun akhirnya terlihat melesat ke udara, keluar dari rimbunnya pepohonan. Aku berpikir bahwa di hutan itu benar-benar ada sesuatu yang terjadi, mungkin jika di film tengah malam, ini adalah pertanda yang buruk.
"Fir, kayaknya... kita nggak bisa bertemu lagi. Aku harap kamu mengerti!" Lisa berbicara sambil mulai berdiri.
"Mengerti apa?" tanyaku polos dan lugu.
Aku terus melihat ke arah Lisa, menunggu jawaban darinya. Namun yang aku dapat hanyalah petunjuk, sebuah petunjuk.
Lisa hanya diam menatap ke depan dan berdiri di depanku, jari telunjuknya perlahan mulai menunjuk ke arah depan seolah menginginkanku untuk melihat ke depan juga. Walau aku sedikit sedih, kupaksakan untuk tidak penasaran dengan jawaban Lisa terlebih dahulu, lalu memilih untuk menoleh ke tempat yang ia tunjuk.
Kring... seorang laki-laki berjas hitam terlihat keluar dari pepohonan, dia hanya diam di pinggir sungai di seberang kami. Tangan kirinya yang membawa lonceng sambil mengangkatnya ke atas, sedangkan di tangan kanannya membawa sebilah tongkat hitam sepanjang 30 Cm dengan ujung rancing.
"Dia ingin meminta korban setelah dia menghilang di balik hutan. Lebih baik kita tidak usah ke sini lagi, dan sekarang waktu yang pas untuk perpisahan kita," ucap Lisa tampak sangat serius, membuatku mengurungkan niat membercandakannya. "Oh iya, terima kasih ya karena telah menemaniku, perasaanku lebih lega sekarang."
"T-tunggu, tapi kita beneran nggak akan bertemu lagi?!" tanyaku tergesa dan lebih memilih tidak merespon ucapan Lisa barusan.
Lisa hanya mengangkat pundaknya dan kemudian, "Mungkin cuma takdir yang bisa mempertemukan kita? Entahlah, tapi tidak ada waktu untuk membahas ini, Firza!! Cepetan pergi sekarang!!"
"I-iya, iya!" Jawabku ikutan tambah tergesa.
__ADS_1
Tergesa-gesa lalu pergi dari sini dengan arah yang saling berlawanan, itulah yang kami lakukan.
Berlari sambil menoleh ke belakang, ternyata Lisa juga melakukan hal yang sama untuk melihat ke arahku, lalu dia tersenyum dengan sorot mata sedih.
Perpisahan? Aku harap Lisa juga berharap hal yang sama padaku, semoga kita bisa bertemu kembali.
Setelah cukup jauh, kucoba untuk melihat seorang laki-laki berjas yang muncul dari balik hutan tadi, tapi... kenapa dia masih tetap terlihat? Tidak seperti yang dikatakan Lisa bahwa dia nanti akan menghilang di balik hutan itu lagi. Kalau dipikir-pikir, apakah laki-laki itu adalah iblis?
Aku memutuskan untuk berhenti berlari, sifat penasaranku muncul, dan aku sedikit ragu pada Lisa.
Namun, keraguan itu seketika hilang dengan mataku yang terbelalak, ternyata benar bahwa laki-laki itu perlahan berbalik badan, kemudian berjalan dan menghilang di balik hutan.
Kring... suara bel lagi-lagi terdengar setelah dia menghilang di balik hutan, seperti sebuah pertanda kemunculan dan kepergiannya.
Aku merasa tertekan, kenapa di sini tiba-tiba terasa panas?
"Firza!" Suara perempuan terdengar dari sebelah hutan, membuatku penasaran dan reflek menoleh ke arah hutan yang tepat berada di sebelah kananku, tepatnya ada di seberang sungai.
Seorang... entah dia itu ibu-ibu atau kakak perempuan yang cantik, intinya dia hanya sendirian, menatapku diam keluar dari hutan. Dia berdiri tegap dengan tangan yang disatukan di depan perut bagian bawahnya, seolah seperti sedang menyambut tamu sambil mengatakan, "Silahkan masuk!". Tapi tidak, sepertinya bukan itu yang dia maksud. Perempuan itu hanya diam menatapku dari jauh sana.
Dengan pakaian kebaya, atasan putih dan bawahan batik berwarna coklat, berambut pendek di atas bahu, dan wajahnya terlihat cantik namun dengan tatapan datar. Apa dia adalah teman dari makhluk halus yang tadi? Aku benar-benar tidak mengerti sekarang, beda manusia yang hidup dan yang sudah jadi makhluk halus.
Namun tiba-tiba perempuan itu menunjuk ke arah kiriku, arah yang tadi di mana aku mulai berlari memisah dengan Lisa. Aku bisa melihat jari telunjuknya yang putih sawo matang walau dari kejauhan sini.
Tidak peduli dia manusia atau bukan, aku tetap ingin menoleh.
__ADS_1
Namun tiba-tiba, suara teriakan lebih cepat dari tolehanku dan langsung menyita perhatianku. Tunggu, arah teriakan itu berasal dari tempat yang ditunjuk oleh perempuan berkebaya tadi.
"Aduuhhh!! Sakiit..."
Seorang anak laki-laki seumuranku, dia terlihat baru saja jatuh dari sepeda di jalan, dan tepat di belakangnya ada sebuah truk yang terlihat kaget, kesulitan untuk berhenti.
Tunggu, apa?! Tidak ada waktu untuk berpikir, karena aku berada cukup dekat dengan anak laki-laki itu, aku pun berlari ke arahnya untuk mencoba menyelamatkannya.
Aku terngiang suatu film yang ada adegan ketika seseorang menyelamatkan temannya yang hampir tertabrak truk dengan cara mendorongnya, tapi sebagai gantinya, si penyelamat tadi harus tertabrak oleh truk itu dan akhirnya meregang nyawa di sana.
Ya tentu saja aku tidak mau hal seperti adegan di film itu terjadi! Jadi, aku pun berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan anak laki-laki itu. Wajahnya terlihat tidak begitu asing setelah aku hampir mendekatinya.
Tapi... tidak peduli dengan wajahnya! Tanpa pandang bulu, aku langsung menarik anak laki-laki itu secepat mungkin ketika aku sudah berada di dekatnya.
Sedetik kemudian, truk tadi langsung menerjang tempat yang sebelumnya menjadi tempat terjatuhnya anak laki-laki yang baru saja aku selamatkan.
Tampak sepeda kecilnya yang tidak ikut aku tarik, mau tidak mau harus tertindas ban truk sebelum akhirnya truk itu berhenti.
"Huaaa... sepedaku..." Tangis anak kecil yang baru aku selamatkan, tanpa kusadari aku masih mengelus pundaknya.
"A-apa kalian tidak apa-apa?!" Sang Sopir bertanya setelah mengeluarkan kepalanya dari jendela truk.
Aku hanya menggeleng polos, sementara anak kecil yang baru saja aku selamatkan tadi mulai berhenti menangis sambil menoleh ke arah Sang Sopir. Dan setelah Sang Sopir bertanya, entah kenapa dia turun dari truk lalu berjalan menghampiri kami, membuatku sedikit takut.
"Kalian tidak apa-apa, 'kan? Kalau ada yang lecet atau luka, saya bisa antar kalian pulang ke rumah. Atau... jika kalian mau, saya bisa mengantarkan kalian pulang walau tidak terluka," ucap si sopir truk setelah menghampiri kami.
__ADS_1