Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
6-1. Telepon Minggu


__ADS_3

Hore! Hari ini adalah hari libur, aku melihatnya di kalender kemarin, bahwa hari ini tanggal merah.


Walau aku akan rindu pada Lisa di sekolah, tapi tidak apa-apa, aku juga butuh refreshing.


Sekarang masih pukul 06.28 pagi. Sebagai seorang pemalas, tumben aku bangun pagi-pagi seperti ini, biasanya aku bangun lebih siang dari hari ini. Dan bagaimana dengan mimpiku tadi? Entahlah, aku lupa tadi bermimpi apa, atau... aku tidak bermimpi? Ah lupakan saja! Pembahasan ini tidak berguna.


Pagi di hari libur, aku bingung akan melakukan apa. Jadi, aku hanya keluar kamar, lalu pergi ke dapur.


Aku hanya ingin menyapa kedua orang tuaku saja, tapi saat aku mencarinya di dapur, ternyata mereka berdua tidak ada. Mungkin Ayah dan Ibu sedang pergi ke pasar untuk belanja.


Tiba-tiba aku merasa mulutku penuh darah, membuatku harus mengunjungi wastafel di dapurku untuk meludah. Dan seperti biasanya juga, aku mengeluarkan darah dari dalam mulutku, tapi aku tidak terkejut karena hal ini sudah biasa. Sekaligus juga sudah terbiasa untuk menyembunyikan sakitku ini dari kedua orang tuaku.


Setiap hari harus memuntahkan darah dari mulut, sebenarnya seberapa banyak darah di dalam tubuhku?


Entahlah. Kemudian aku meminum air putih di kulkas agar mulutku lebih lega dan terbebas dari rasa darah. Setelah lega, lalu apa yang harus aku lakukan lagi selain menengok dapur?


Krrrrrrriiiiiiinnggg... krrrrrrriiiiiiinnggg... krrrrrrriiiiiiinnggg


Di langit yang biru. Amat banyak menghias angkasa.


Aku ingin terbang dan menari.


Jauh tinggi ke tempat kau berada.


Tiba-tiba ponselku berdering dari dalam kamarku ketika aku sedang menengok dapur, seseorang meneleponku.


Aku langsung berlari ke kamarku, bergegas untuk mengangkat teleponnya. Aku berharap kalau yang meneleponku adalah Lisa yang sedang rindu denganku, walaupun sepertinya itu tidak mungkin dan mustahil terjadi.


Aku harus mencamkan pada diriku, bahwa tidak baik menghayal terlalu tinggi.

__ADS_1


Terlihat yang meneleponku adalah Lora, sahabatku dari SD sampai sekarang, dan bukannya Lisa.


"Iya, halo, Lor! Tumben telepon pagi-pagi," ucapku setelah sambungan telepon terhubung.


"Fir, nanti kamu bisa jenguk Pita, nggak? Eko bisa nih, aku juga bisa, nanti kalau kamu bisa, 'kan sekalian kita kumpul-kumpul di rumah Pita!" Ajak Lora terdengar senang.


Aduuhh... bukannya Lisa yang mengajakku, tapi malah Lora. Harusnya hari libur itu enaknya tidur di rumah, atau bermalas-malasan di kamar. Tapi mau bagaimana lagi ya?


Lora terdengar sedikit berharap, lagipula aku akan tidak enak jika menolak ajakannya untuk menjenguk Pita yang sedang sakit.


"Pita... tangannya patah tulang ya kemarin? Memangnya mau ke rumah Pita jam berapa, Lor?" tanyaku untuk memastikan.


"Nanti siang aja ya, Eko juga bisanya siang nih!" Jawab Lora dari ujung seberang.


"Y-yaudah iya, aku bisa." Balasku terpaksa.


Mau tidak mau aku harus ikut, agar tidak mengecewakan mereka, walau sekarang ini tingkat kemalasanku sudah diujung batas, membuatku malas sekali untuk bergerak, tapi ya sudahlah. Lagipula, apa susahnya menjenguk orang yang sakit?


"Udah lama ya kita nggak kumpul lagi," ujar Lora mengutarakan kerinduannya.


"Kita jarang kumpul semenjak Firza jomblo," tambah Eko, sekaligus mengejekku.


"Bukannya Firza dari lahir udah jomblo ya?" tanya Pita ikutan memojokkanku, tapi wajahnya terlihat sok polos.


"Yaelah kena bully," pasrahku karena ujung-ujungnya diejek di sini.


Niat baikku menjenguk Pita hangus seperti undian lotre, benar-benar menyebalkan, mending liburan begini aku tidur di rumah aja.


Bahkan Pita yang sedang sakit, tapi bisa-bisanya dia ikutan mengejekku, sangat tidak ramah sekali. Pita bukanlah orang yang polos, sebaliknya, dia suka berpura-pura polos untuk menyindir orang lain, dan itu adalah sifat yang paling menyebalkan darinya.

__ADS_1


Sebenarnya mereka memiliki keburukan mereka masing-masing yang tidak aku suka jika sifat itu ditemukan pada orang lain. Paham? Yup, entah bagaimana aku bisa menerima setiap baik buruknya sifat mereka, seolah kata "Sahabat" membuatku tulus berteman dengan mereka.


"Oiya, Pit, aku bawa buah nih, bentar ya aku ambil dulu di motor!" Ucapku karena baru ingat.


"O-a, umm... m-makasi-" Entah Pita tersedak atau bagaimana, tapi aku langsung meninggalkannya untuk mengambil buahku yang masih tertinggal di motor.


Kupikir aku beruntung karena hari ini cuacanya berawan, buah yang tertinggal di motorku jadi sama sekali tidak kepanasan. Untunglah, biasanya buah yang kepanasan, teksturnya akan melembek. Mungkin itu yang dinamakan membusuk? Entahlah, nilai biologiku lumayan buruk, apalagi untuk diterapkan.


Keluar dari ruang tamu, kemudian menghampiri motor, aku bersyukur lagi karena tidak ada maling yang mengambil keranjang buahku. Biasanya maling lebih sering mengambil barang berharga, tapi bukannya buah juga termasuk berharga? Tunggu, mungkin maling kurang cukup pintar, sebab buah itu menyehatkan dan menguatkan badan, artinya dia bisa lebih cepat berlari dari kejaran warga setelah memakan buah-buahan. Apa aku salah konsep?


Keluar dari konsep konyolku saja. Dari sini, tampak teman-teman yang sedang tertawa sambil mengobrol tanpaku.


Dasar mereka! Aku sudah berteman cukup lama dengan mereka, tambah lama lagi jika mengenalnya sebelum menjadi teman.


"Ini, Pit! Buatmu yang lagi sakit, jagalah imunitas dari penyakit, agar kamu bisa terbang setinggi langit," ujarku sambil memberikan keranjang buah, dan berbicara seperti sedang berpuisi.


"A-apa?! Bagus sih kalimatmu..., tapi absurd banget, Fiirrr!!" Sewot Lora sambil tertawa kencang, tidak habis pikir denganku.


Diikuti tawa yang lainnya, membuatku malu dan hanya bisa menertawai diri sendiri.


Setelah aku memberikan keranjang buahnya, aku pun duduk di samping Eko yang masih tertawa melihatku. Mungkin memang aneh jika membuat kalimat keren tapi di depan sahabat.


"Kata temen-temen angkatan SMP kita, pada bilang kalau sekarang Firza jadi orang yang penyendiri loh! Itu beneran, Fir?" tanya Pita mulai menggosipku di depanku.


Aku hanya bergedek, menggelengkan kepalaku kemudian melirik ke atas seperti sedang mengingat-ingat. Tanpa mengatakan apapun selanjutnya, aku langsung mengangkat pundakku seolah mengatakan, "Entahlah". Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya saja, kalau itu "benar".


Eh, memang dari mana Pita dapat gosip itu?


"Kalau iya sih aku kaget, Fir, serius! Ingatkan ketika kita SMP dan kadang ke mana-mana bareng-bareng? Nah, Firza, 'kan selalu disapa sama temen-temen angkatan kita, entah itu ke mana aja, sampai kamar mandi! Malah kayaknya nggak ada yang nggak kenal Firza deh di angkatan SMP kita!" Jawab Lora setengah histeris.

__ADS_1


"Bener juga, waktu SMP, 'kan Firza terkenal banget. Kadang aku iri juga sih, anak-anak perempuan pada nyapa dia, bahkan pertama kali kita nginjak SMP, ada yang sampai teriak-teriak cuma buat manggil Firza. Mustahil sih kalau Firza sekarang pendiam di SMA!" Tambah Eko terdengar dengan nada iri.


__ADS_2