Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
6-6. Lagi-lagi Dengan Truk


__ADS_3

"Terus... tadi aku lihat Firza nolong Eko, apa kalian nggak kenapa-kenapa?" tanya Lora khawatir pada kami.


Eko seketika langsung menoleh ke arahku yang diam mematung, seperti ingin bertanya tentang keadaan atau apa ada luka di tubuhku.


Kalau aku melihatnya sendiri, dilihat dari sudut mana pun aku tidak terluka, demikian dengan Eko. Aku pun lalu menggeleng pada Eko yang langsung tersenyum bersyukur menanggapinya.


"Kami tidak terluka kok, tapi..." Eko mengatakannya, perlahan ia menoleh ke arah sepeda bobroknya. "Tapi tidak apa-apa, yang penting nyawaku selamat!"


Tanpa peringatan atau apa pun itu, tiba-tiba Eko merangkulku layaknya seorang sahabat yang sudah lama saling mengenal. Mungkin dia ingin memberitahu kalau aku berjasa baginya, karena telah menyelamatkannya.


"Kalau begitu... mending sepedamu ditinggal di sini, dan... ayo kita pulang! Soalnya sudah mulai menjelang malam nih!" Ajak Lora sambil tersenyum tipis.


"Iya yuk, sekalian pulang bareng-bareng, kalau pulang sendiri-sendiri takutnya bakal terjadi apa-apa." Tambah Pita setengah terdengar merayu.


Dan akhirnya kami pun mulai pulang bareng, berjalan berempat, menghiraukan sepeda Eko yang tergeletak di tanah pinggir jalan. Sepeda yang sudah tidak bisa dipakai lagi, alias benar-benar sudah ringsek.


Hari ini aku sangat senang, aku merasa memiliki teman, aku merasa tidak sendirian lagi. Hari yang melelahkan tapi aku bahagia.


Hari yang begitu panjang untuk bersosial dengan orang yang sebaya denganku, sekaligus mengetahui hal aneh di sekitarku.


Lisa, Eko, Lora, Pita, perempuan berkebaya putih, dan laki-laki misterius berjas hitam.


Singkat cerita. Keesokan harinya di sekolah, Eko, Lora, dan Pita pun menjadi teman akrabku, yang selalu menemaniku di sekolah, dan aku sangat bahagia. Namun di sisi lain, di sore harinya, aku tidak bertemu dengan Lisa lagi di seberang sungai, dan memang tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.


◐Keluar dari Masa Lalu◐


"Aduuuhh..." Jerihku kesakitan di kepala.


"Firza! Firzaaa!!!" Teriak Lora di dekat telingaku, dia terdengar seperti ingin membangunkanku.


"GILA! BERISIK WOY!" Ketusku kesal ketika itu terjadi.


Seketika seluruh teman-temanku terdiam, membuatku ikut terkejut karena entah kenapa mereka tiba-tiba diam seperti ini.


Apa aku terlalu kasar pada mereka? Entahlah, tapi aku mengenal mereka, seharusnya hati mereka tidak terlalu lembut sampai seperti ini.


"Tunggu, tapi kenapa aku tiduran? Dan... apa ini bantal? Oh iya, ini bantal." Ucapku sambil meraba bantal di bawah kepalaku.


Teman-temanku hanya diam dan tampak bingung. Tunggu... apa? Apa maksud kalian... aku baru saja pingsan? Sepertinya tidak deh, aku tidak ingat kalau aku tadi pingsan.


Terus, kenapa teman-temanku juga jadi kaku dan bingung seperti ini? Bahkan Eko yang suka bercanda sekaligus orang yang bodo amat, dia juga terlihat bingung, benar-benar bingung.


"Aku nggak habis pikir, memang..." Pita benar-benar kebingungan.


"Tadi kamu kenapa, Fir?" tanya Eko sama-sama bingung seperti Pita.


"Enggak tau, memangnya aku tadi kenapa? Tadi kepalaku sakit, tapi cuma beberapa detik doang. Terus kenapa kalian sebingung ini?" Aku setengah sewot.


"Apa?! Beberapa detik doang?! Heh! Kamu itu tadi ngeluh sakit kepala sampai 5 menitann!!!" Tambah sewot Lora, ia terlihat khawatir.

__ADS_1


Aku diam sejenak, aku tidak percaya pada yang dikatakan Lora, tapi tadi aku merasa seperti bermimpi. Seperti memimpikan sesuatu yang benar-benar nyata, tapi sepertinya itu bukan masa depan, tapi masa lalu.


Apa aku tadi bermimpi di masa lalu? Kalau aku benar-benar pingsan, sepertinya emang benar kalau saat itu juga aku sedang bermimpi.


Sambil menggaruk-garuk kepala setelah mencoba bangun dari posisi tidurku, aku memutar balikkan mataku, menatap teman-teman di sekitarku yang masih bingung.


Entah kenapa mereka membuatku canggung dengan menatapku secara langsung dan bersamaan. Apa mereka sedang berpura-pura?


"Kalian kenapa? Kalian ngeprank?" tanyaku lugu dan hampir tertawa.


"Udah gila! Malah kita yang dibilang ngeprank!" Jawab sewot Eko si tukang nyolot.


"Huufftt... tadi tiba-tiba kamu ngeluh kepalamu sakit, terus semua pada kaget, tapi Eko bilang kalau kamu lagi bercanda. Tapi wajahmu kayak kesakitan banget, terus Lora ambilin bantal sebelum kamu tiba-tiba jatuh ke bantal. Kamu tadi kayaknya pingsan, tapi beberapa menit kemudian kamu bangun langsung ngeluh sakit lagi, terus Lora teriak deh di kupingmu. Dan tiba-tiba kamu sadar, tapi juga sadarnya sambil sewot! Gitu ceritanya!" Jelas panjang dan lebar dari Vita si pemilik rumah.


Aku menatap ke arah Eko sebentar dengan tatapan tajam, dia jadi terlihat salah tingkah karena merasa bersalah.


Apa dia biang keroknya untuk membuat orang lain kalau aku sedang bercanda? Tadi aku benar-benar sakit kepala!!


Tapi anehnya aku tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Oiya berarti mungkin benar kalau aku pingsan tadi.


Dan juga tadi aku bermimpi sesuatu, seperti masa lalu, tapi aku lupa aku bermimpi tentang apa tadi.


"Fir, memang apa yang kamu rasain tadi? Yang kamu inget apa?" tanya Flora secara tiba-tiba.


"Hah? Aku... tiba-tiba kepalaku sakit, setelah itu aku kayak mimpi sesuatu tadi, tapi aku nggak inget, malah aku bingung itu tadi aku lagi mimpi atau enggak. Yang aku inget tiba-tiba Lora teriak di telingaku. Jadi tambah sakit rasanya!" Jelasku sambil mengingat-ingat.


Kalau diingat-ingat... memang aku tidak ingat apa-apa selain sakit kepala. Jadi, aku cuma menggelengkan kepala menjawab Lora.


Benar-benar peristiwa yang janggal. Aku tiba-tiba sakit kepala begini, dan aku juga seperti merasa bermimpi saat sedang pingsan. Dan anehnya lagi, kejadian yang aku kira ini cuma 5 detik, ternyata aslinya 5 menit menurut kata teman-temanku.


Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Ada apa denganku? Aku baru ingat kalau aku suka mengeluarkan darah dari mulutku setiap pagi. Apa semua ini karena aku terkena santet?


"Kenapa?" tanyaku bingung, karena teman-temanku menatapku bengong.


"Kamu serius nggak inget apa-apa? Kok aneh ya," ucap Lora menjawabku.


Aku diam saja. Aku benar-benar serius. Apa wajahku yang terbiasa untuk tertawa ini terlihat tidak meyakinkan?


◐◐◐


Pada akhirnya kami semua sama-sama lupa, kapan pertama kali kami mulai menjadi sahabat. Entah kenapa kami semua bisa lupa secara bersamaan, itu aneh, termasuk padaku yang suka untuk mengingat kenangan yang menyenangkan, tapi nyatanya lupa dengan kenangan yang satu ini.


Terlepas dari kenangan dan semua ini, aku baru saja pulang dari menjenguk Pita di rumahnya. Teman-teman yang lain juga sudah pulang tentunya.


Perjalanan yang sangat membosankan sekali.


Yang bisa kulakukan hanyalah memikirkan Lisa. Entah kenapa tiba-tiba aku memikirkannya, apa aku benar-benar menyukainya?


Di jalan raya yang lebar, melihat sepanjang jalan beserta toko-toko dan penjualnya adalah hal yang aku sukai ketika berkendara. Mungkin tidak patut dicontoh, dan lebih baik biar aku saja. Melihat aktivitas orang-orang di pinggir jalan, itu mengobati bosanku ketika di atas motor.

__ADS_1


Siang menjelang sore, matahari masih terasa sangat terik di tangan, aku akan tetap kuat memegang setir motorku.


Apa tanganku akan menjadi belang karena terus terpapar sinar matahari? Hehehe... entahlah. Aku juga tidak akan mampir ke toko minuman, karena kalau diingat-ingat lagi, aku hanyalah orang yang super hemat.


"Hey..." Sebuah suara tiba-tiba terdengar di gendang telingaku.


Seketika aku merasa bumi tiba-tiba berputar perlahan. Apa seseorang di sekitar sini memiliki jam yang bisa memperlambat waktu?! Tidak mungkin, ini cuma perasaanku saja, perasaan ketakutanku.


Kenapa tiba-tiba aku merasa takut begini? Memangnya ada apa ini? Dan kenapa tiba-tiba mataku berkunang-kunang tidak jelas seperti ini? Sebenarnya apa sih yang terjadi pada diriku?


Tadi di rumah Vita, kepalaku tiba-tiba terasa sakit, setiap pagi aku juga sering mengeluarkan darah dari mulut, dan sekarang... apalagi?!


Kejanggalan dalam tubuhku! Seharusnya aku sehat-sehat saja, tidak sakit atau apa, karena aku sudah pernah ke dokter. Atau... apa aku terkena santet? Aku tidak percaya, lagipula aku orang yang alim.


"Firza!" Panggil lagi, sebuah suara tiba-tiba masuk ke telingaku.


Aku, 'kan pakai helm! Kenapa suara ini terdengar begitu jelas diantara suara-suara yang lainnya?!


Keluar dari kesewotanku.


Seseorang seolah-olah menarik pandanganku ke pinggir jalan sebelah kanan, dan mataku juga langsung tertuju ke orang itu. Seorang perempuan dengan kemeja hitam terlihat menatapku dari pinggir jalan, tatapannya setajam silet dan menusuk seperti pedang.


Entah kenapa mataku tiba-tiba melihat ke arahnya, dan kenapa juga perempuan yang terlihat seperti tante-tante itu terus berdiri menatapku?


"Aku menebak, ah... kau memanggilku, Tante?" tanya seseorang yang suaranya masuk ke telingaku.


Apa?! Siapa?! Siapa yang bilang tadi?!


Sepertinya suara itu berasal dari tante-tante berkemeja hitam yang berdiri di pinggir jalan raya itu, tapi... mulutnya terlihat tidak bergerak untuk berbicara. Bahkan aku juga agak jauh darinya, aku juga menggunakan helm. Apa tante-tante itu menggunakan telepati? Kok bisa??


"Sialann!! Pengikut-pengikutku mengatakan bahwa kamu masih memanggilku 'tante'!" Seru kesal tante itu yang sepertinya melalui telepati, tapi terasa masuk melalui gendang telingaku.


*Deg! Tiba-tiba jantungku berdetak kencang seolah membuat tanganku bergetar ketakutan, telingaku berdenging pelan membuatku kehilangan fokus, dan waktu yang memudar di pikiranku terasa seperti aku akan masuk ke dunia lain.


Sebenarnya apa ini...? Kenapa denganku...?


Kilas balik ingatan tiba-tiba muncul di atas kepalaku, ketika aku hampir kehilangan fokus, dan aku ingat sesuatu untuk kukatakan lewat mulut kecilku. "Bu Dewi?!"


"Hah?!" Bu Dewi, alias tante-tante itu terlihat langsung terkejut.


*Tin-tin-tiinnn..., seketika aku langsung fokus seperti sedang melaksanakan Ujian Nasional.


Tiba-tiba dunia kembali berjalan seperti normal, setelah suara klakson terdengar.


Aku terkejut ketika ternyata motorku sudah keluar jalur dan mulai melawan arah, dan terlihat di depanku sudah ada truk yang 2 detik kemudian akan menabrakku.


Bagaimana aku akan menjelaskan ini ke orang tuaku jika aku tidak selamat...


"Selamat tinggal..., Firza..." Suara Bu Dewi lagi-lagi terdengar, diakhiri tawa jahatnya sebagai penutup.

__ADS_1


__ADS_2