
Aku meraih kedua barang berhargaku, lalu memasukkan ponselku ke dalam tas punggungku berwarna merah. Aku sudah selesai, waktunya pergi dari sini. Apa aku tidak ingin menolong kakak-kakak kelas yang terjebak di sekolah? Entah, mungkin aku tidak ingin.
Tiba-tiba suara aneh terdengar di area kantin ini, tepatnya di ujung kantin sebelah kiriku. Karena penasaran, aku mencoba memberanikan diri untuk mengeceknya sebentar.
Dan ternyata, suara itu berasal dari kakak kelas tadi yang kesurupan. Dia keluar dari salah satu bilik kantin di kegelapan, berjalan tidak tegap seperti zombie, dan terus menggeram kesal.
Horor sekali ketika dia melangkah keluar dari kegelapan.
"Aku membencimu... AKU MEMBENCIMU!!" Teriak kakak kelas perempuan yang sedang kesurupan itu, dia berdiri tepat di depanku.
Tidak ada yang kami lakukan selama setengah menit ini, kami berhadap-hadapan, dan hingga akhirnya dia mulai berlari ke arahku seperti orang sekarat.
Auranya semakin kental untuk menyakitiku, membuatku cukup takut kemudian mencoba kabur dari perempuan yang larinya seperti orang sekarat itu.
Kucing yang awalnya mengelus-elus kakiku dengan tubuhnya ketika aku sedang diam menghadap ke perempuan kesurupan, kali ini ikut berlari bersamaku di sampingku.
Aku menyukai kucing ini.
Tunggu, aku belum mengecek ponselku tentang apa yang ada di dalamnya. Apa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengecek ponselku?
Sepertinya tidak, tidak sama sekali! Karena keadaannya saat ini, aku sedang berlari kabur dari kakak kelas gila yang sedang kerasukan.
Aku jadi ingat ketika kakak-kakak kelas tadi siang mengajakku, dan sepertinya berniat ingin mengerjaiku, tapi akhir yang tragis bagi mereka karena hantu tiba-tiba mengacaukan niat buruk mereka.
__ADS_1
Kejadian yang tidak pernah diduga seperti itu, tentu saja aku juga terkena imbas seperti sekarang ini. Aku dikejar-kejar orang yang sedang kesurupan. Aku tidak tau apakah kakak kelas itu yang tidak menyukaiku, atau hantunyalah yang tidak menyukaiku, karena diantara mereka selalu mengatakan, "Aku membencimu." yang tertuju ke arahku.
Kucing yang semula berlari di sampingku, kini mengambil jalan mendahuluiku, seolah ingin memberikan menunjukkan jalan padaku. Aku akan mengikutinya.
Tapi entah kenapa, setelah aku mengikutinya, aku merasa jalan yang dia ambil selalu berkelok-kelok keluar masuk lorong yang berbeda. Mungkin jika aku kucing yang gesit, aku dengan mudah bisa mengikutinya, tapi ini tidak! Karena aku adalah manusia.
Setelah mengikuti kucing gesit ini, aku merasa semakin jauh dari kakak kelas yang kesurupan itu. Semakin lama aku berlari, akhirnya aku bisa lepas darinya.
"Terima kasih, Pus!" Ucapku sambil mengelus kepala kucing itu, ketika kami sudah berhenti berlari. "Sepertinya kita sudah kabur darinya!"
Kami akhirnya berhenti di tengah-tengah lapangan sekolah yang terbuka, dan di sini jauh lebih aman dari lorong-lorong di sekolah yang angker kalau di malah hari ini.
Karena keadaan yang sudah aman, aku memutuskan untuk mengecek ponselku di tas.
Tidak ada yang berubah pada ponselku, selain... baterai ponselku yang bertuliskan 100% di ujung atasnya. Tunggu, bukankah daya baterainya tadi hanya 32%? Aku ingat karena aku sudah menggunakan ponselku seharian ini dari pagi, tapi kenapa tiba-tiba baterainya naik menjadi 100%? Apa hanya ini yang berubah dengan ponselku? Atau ada yang lain tapi aku tidak mengetahuinya?
Waktu sudah menunjuk pukul 22.11 di ponselku. Tumben tidak ada yang membisikiku tentang pukul berapa sekarang ini, mungkin karena aku sedang takut.
Aku membuka seluruh aplikasi yang ada di ponselku, termasuk galeri, whatsapp, playstore, instagram, masa bodoh. Tidak ada yang berubah.
Kupikir Ibu akan menghubungiku dari media sosial, karena entah bagaimana teman-temanku juga pernah meneleponku dari dunia lain.
Tidak, Ibu dan teman-teman, semuanya sudah berlalu. Aku tidak akan berharap bahwa mereka akan kembali, semoga kalian tenang di sana.
__ADS_1
Tunggu, aku belum mengecek aplikasi foto di ponselku. Saat aku mencobanya, ternyata kameranya lebih terang dari yang aku duga. Kukira ponselku termasuk yang butut untuk urusan kamera, tapi kali ini... kamera bisa digunakan di tempat gelap sekalipun.
Karena takjub dengan kameraku yang tiba-tiba berubah menjadi lebih bagus, aku pun memutar-mutarnya, mengarahkannya ke tempat gelap yang tidak bisa dijangkau oleh mataku. Entah kenapa kameraku lebih bisa melihat tempat gelap ketimbang mataku sendiri, seolah mirip kamera inframerah yang bisa melihat benda di tempat gelap.
Tapi apa hanya ini? Maksudku, apa yang berubah cuma kamera hanya lebih terang dan bisa untuk melihat di tempat gelap?
Namun saat aku mengarahkan kameraku di gedung lantai 2 yang gelap, aku terkejut, karena aku bisa melihat sebuah penampakan dari kameraku, sedangkan aku tidak bisa melihat penampakan itu dengan mata kepalaku sendiri maupun mata batinku.
Aneh. Kenapa tiba-tiba bisa begini? Apa ini yang dimaksud Ibu? Kameraku bisa melihat hantu yang tidak bisa aku lihat? Dan kamera ini juga lebih bisa melihat tempat gelap dari yang aku tidak bisa?
"Pus, aku mendapat kamera bagus. Bagaimana menurutmu?" tanyaku pada kucing, mungkin senang karena mendapat sesuatu yang baru membuatku sedikit gila. "Yaah, aku senang mendapat semua ini."
Aku mulai berdiri dengan berani seperti apa yang ada di film-film aksi yang tokohnya bangkit dari keterpurukan.
Aku tersenyum sebentar karena masih senang telah mendapatkan barang-barang yang menurutku menjadi baru. Aku benar-benar senang dengan pemberian Ibu.
Tiba-tiba kucing mulai berlari setelah tau bahwa aku baru saja berdiri, seakan dia menginginkanku untuk mengikutinya lagi.
Aku pikir kucing ini... antara benar-benar pintar, atau kucing ini sebenarnya memiliki kekuatan khusus? Mungkin ada sesuatu yang ingin kucing ini tunjukkan padaku. Jadi, aku pun akan mengikutinya kemana pun dia pergi saat ini.
Dia berlari lincah seperti tadi. Kupikir olahraga di malam hari dan di luar rumah tidak terlalu baik untuk kesehatan, apalagi untuk mengetes kelincahan, tapi saat aku terus mengikutinya, entah kenapa dia akhirnya berhenti menghadap ke arah pojok sekolah. Ekornya terus bergoyang ke kanan dan kiri, tatapan kucing itu terfokus ke satu arah, mengarah ke sebuah pohon.
"Hai, a-aku..." Sapaku, ternyata ada seseorang yang bersembunyi ketakutan di bawah pohon.
__ADS_1
"Li-Lisa?! Syukurlah kamu masih ada! A-aku takut. Aku m-minta maaf karena telah melibatkanmu pada kejadian horor ini. Maaf ya!" Ucap kakak kelas laki-laki, dia benar-benar ketakutan, duduk di bawah pohon sambil memegang kedua telinganya seperti sedang ketakutan dan depresi.