
Obrolan ini semakin di luar apa yang aku duga, aku merasa shock mendengarnya, dan apalagi posisiku saat ini sedang terbaring di ranjang rumah sakit.
Aku merasa aku ingin mundur saja dari apa yang terjadi di masalah ini, karena aku tau kalau aku mungkin tidak bisa melakukan apa-apa.
Mungkin juga Lisa bukanlah tipeku, dia penuh dengan hal yang tidak aku mengerti dan ironisnya memiliki banyak ancaman dan masalah. Sedangkan aku hanyalah seseorang yang pecinta ketenangan, sesekali menantang rumah kosong tidak masalah, dan sangat berbanding terbalik dengan Lisa. Apa yang dikatakannya tentang kekuatan adalah memiliki mata batin yang lebih dari orang indigo biasa?
"Tapi tunggu, maksudnya kekuatan indigomu lebih tinggi daripada orang-orang di luar sana?" tanyaku untuk memastikannya lagi.
"Mungkin iya, atau mungkin juga tidak." Jawab Lisa membuatku penasaran. "Ibuku adalah orang yang bisa membuka portal antara dunia manusia dan dunia lain, sepertinya itu menurun padaku sekarang. Maka dari itu, Bu Dewi membutuhkanku."
Semuanya hampir semakin jelas sekarang. Lalu, apa yang ingin aku bingungkan lagi?
Entah kenapa aku jadi merasa dalam masalah ini, Lisa ingin menunjukkannya padaku, karena tumben dia menjawab semua pertanyaanku dengan cukup jelas.
Tunggu, biar aku perjelas. Jadi, selama ini Lisa telah mengenal Bu Dewi dengan hubungan sebagai sesama musuh. Lisa memiliki dendam sekaligus Lisa harus melindungi dirinya sendiri dari Bu Dewi, karena Bu Dewi menginginkan kekuatan yang dipunyai Lisa. Sementara aku tidak sengaja terlibat karena... karena apa? Aku seperti mengingat sesuatu, kalau aku pernah bertemu dengan Bu Dewi sebelumnya.
Mungkin pertemuan dengan Bu Dewi yang aku lupakan itulah titik masalahnya, alasan kenapa aku bisa terlibat ke dalam masalah ini. Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya.
"Aku pikir ini bukan urusanmu, mungkin lebih baik kamu jangan ikut camp-" Lisa berbicara, tapi aku lagi-lagi memotongnya.
"Berdua lebih baik dari sendirian, 'kan?" Aku menjawabnya, membuat Lisa terdiam.
Mendengar itu, entah kenapa tatapan Lisa yang penuh rasa bersalah, langsung berubah menjadi senyuman ke arahku. Senyuman tipisnya terlihat tulus sekali, membuatku jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Kenapa jadi senyum kayak gitu?" tanyaku setengah salah tingkah.
"E-enggak, enggak papa." Jawab Lisa yang gugup membuatku tertawa pelan karena melihat tanggapan lucunya.
Kenapa Lisa yang jadi gugup begitu? Tapi aku merasa lega sekarang, aku merasa akhirnya aku dan Lisa bisa sedekat ini. Siapa yang akan menyangka? Kalau semua waktu yang terus berlalu, menjadikanku lebih dekat dengan Lisa, hingga membuatku bisa berpikiran bahwa jika aku mengajak Lisa bepergian, Lisa pasti menerimanya. Sangat percaya diri sekali.
Tapi tunggu! Aku jangan terjatuh terlebih dahulu ke kubangan asmara, karena ada hal yang harus aku pikirkan setelah ini.
Yaitu, aku masih ragu dengan pilihanku untuk menjaga Lisa, walau ibunya sendiri yang memintaku melakukannya melalui perantaranya. Karena kalau kali ini, aku tidak percaya diri.
Jika semua hal mistis yang aku lalui merujuk pada masalah besar ini, apa aku bisa melewatinya sekaligus menjaga Lisa? Kupikir Lisa adalah anak yang mandiri, dan mungkin dia yang malah akan menjagaku dan bisa saja aku membebaninya dalam masalahnya. Aarrgghh!! Aku bingung, aku hanya bisa berharap tidak akan terjadi apa-apa padaku dan Lisa.
"Terima kasih, Fir!" Ucap Lisa secara tiba-tiba, ditambah dia mengatakannya sambil menunduk.
Mungkin aku tertawa dalam waktu yang tidak tepat? Argh, aku menjadi malu sendiri dan agak menyesal ketika melihat Lisa ternyata sedang cukup serius dalam obrolannya kali ini.
"Terima kasih karena selama ini... kamu tidak pernah bosan untuk mengenalku, walaupun aku cuek kayak gini. Aku senang bisa mengenalmu!" Kata Lisa terdengar tulus hingga rasanya hatiku tercabik olehnya.
"A-eh-umm... e-emang... tunggu, tumben kamu bilang kayak gini. Ini bukan perpisahan, 'kan?? Aku mau masih kenal sama kamu loh!!" Jawabku balik mencoba mencairkan suasana.
"Memang waktu yang tepat untuk mengatakan ini hanya saat perpisahan saja ya?" tanya Lisa membuatku terpojok.
"I-iya... mungkin, tapi entahlah. Aku mungkin cuma kebanyakan nonton film perpisahan," balasku sambil menggaruk-garuk kepala karena bingung.
__ADS_1
"Kalau kamu suka menonton film tentang perpisahan... setidaknya aku sudah mengatakan terima kasihku yang sudah kupendam ini, kalaupun suatu saat kita akan berpisah karena hal yang tidak kuinginkan sekalipun, aku tidak akan terlambat." Jelas Lisa sambil tersenyum tipis.
"Jangan bilang kayak gitu, Lis! Walau aku sering nonton film perpisahan, tapi kenyataannya aku nggak suka! Apalagi kalau pemeran utamanya adalah aku sendiri!" Sewotku menjawabnya dengan nada candaan.
Lisa ikut tertawa bersamaku. Aku tidak pernah melihat dia tertawa bahagia seperti itu, tawa yang tulus sekali, sangat cerah di pandanganku hingga mengalihkan duniaku.
Yup! Tawa tulusnya mengalihkan duniaku, itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan hari yang bahagia ini. Selain bahagia karena telah siuman dari pingsan?
Larut dalam kebahagiaan kami. Entah kenapa suasana yang harusnya tegang dengan obrolan seram malam hari, berubah jadi penuh senyum dan tawa seperti ini. Hari ini yang membuatku lebih nyaman berada dekat dengan Lisa, seolah rasa canggungku ketika Lisa cuek, sekarang lenyap ditelan bumi dan hangus terbakar di dalam inti bumi yang panas.
"Kamu memang penuh dengan aura kebahagiaan, membuat orang-orang nyaman untuk berada di dekatimu. Walaupun tapi aura terangmu itu tidak disukai Bu Dewi yang sudah tersesat." Kata Lisa sambil melekatkan matanya.
"Masa sih? Terima kasih kalau begitu," balasku lalu tertawa malu.
"Jangan besar kepala! Inilah alasan kenapa aku enggak pernah memuji orang!" Sewot Lisa yang baru pertama kali aku dengar.
"A-apa?!" Aku terkejut karena tersindir olehnya, tapi aku masih tetap tertawa.
"Ahaha... aku cuma bercanda, maaf ya!" Jawab Lisa sambil tertawa, lalu memalingkan wajahnya.
Aku ikutan tertawa kalau begitu, karena nyatanya Lisa memang tidak pernah memuji seseorang selama aku mengenalnya, jadi alasan yang diucapkannya mungkin juga benar adanya. Tapi aku akan tetap senang karena Lisa meminta maaf setelah mengatakannya, aku tidak pernah lihat maafnya sambil tersenyum tulus seperti itu.
Kami lumayan sering bercanda di sini, hal yang tidak pernah aku temukan ketika di sekolah. Hingga akhirnya Lisa terlebih dahulu pergi meninggalkanku, untuk pulang.
__ADS_1