Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
3-1. Atma dan Anie


__ADS_3

Di suatu hari yang cerah...


Kenapa seminggu dalam hidupku harus bertemu dengan Pak Bambang sampai 3 kali? Akan berkurang jika Pak Bambang ada urusan lain dan membuat kelas ini jam kosong. Tapi saat ini, Pak Bambang sudah hampir 2 jam menerangkan Biologi di depan papan tulis, seolah dia tidak memiliki letih. Aku ingin memberi apresiasi, tapi aku ingat kalau pelajaran Biologi membuat otakku semakin padat akan materi, itu melelahkan.


Atma yang kemarin tidak berangkat sekolah, hari ini dia sudah ada di depanku, duduk di sebelah Dexter. Mereka berdua terlihat tenang mengamati Pak Bambang.


Dan Anie yang juga kemarin tidak berangkat sekolah? Sekarang dia sudah duduk di sebelah Febi, mereka berdua mengobrol saat diterangkan Pak Bambang.


"Ah, pagi-pagi begini malah langsung pusing," kesalku lalu menyelorohkan tangan ke depan, kemudian meletakkan kepalaku di atas meja untuk tidur.


Jangan ditiru ya adik-adik.


Pagi ini aku lelah sekali, karena terlalu banyak berpikir di pelajaran Biologi. Tidur beberapa menit tidak apa-apa, 'kan?


Di posisi ini, sesekali aku mencuri pandangan, melihat ke arah Lisa. Dia terus memperhatikan papan tulis, tapi sesekali terlihat super bosan sambil memainkan bulpennya yang ada di atas meja.


"Firza, jangan tidur di kelas ya!" Seru Pak Bambang mengejutkanku, diikuti seluruh pandangan di kelas langsung menoleh padaku sebentar.


"I-iya, Pak!" Jawabku gugup dan malu.


Setelah puas membangunkanku, Pak Bambang pun kembali menjelaskan apa yang ada di papan tulis.


Sial! Kali ini aku duduk tegap, mengamati dengan seksama apa yang diterangkan Pak Bambang di depan. Sementara, di sisi lain aku heran, kenapa Pak Bambang lebih memilih membangunkanku dari tidur, daripada memperingati Febi dan Anie yang terus mengobrol?


Krrrrrrriiiiiiinnggg... krrrrrrriiiiiiinnggg... krrrrrrriiiiiiinnggg...


Bel istirahat berbunyi dengan kencang dan terdengar membahagiakan, sorakan pelan dari Atma dan Dexter terdengar di gendang telingaku. Pak Bambang terkejut menyerah, seperti ingin pingsan dan menjatuhkan spidol ke lantai. Hanya bercanda.


Aku tau Pak Bambang orang yang lucu, tapi kenapa dia harus mengajar Biologi?!


Setelah bel istirahat itu berbunyi, seluruh siswa langsung memberikan salam pada Pak Bambang, dipimpin oleh Dexter. Barulah Pak Bambang pergi dari sini.

__ADS_1


"Hei, Dexter bilang kalau namamu Lisa, 'kan? Anak baru? Kenalin, aku Atma, kemarin aku nggak berangkat sekolah, jadi ya... kita kenalan hari ini!" Ujar Atma tersenyum sambil mengulurkan tangan, mencari kesempatan di jam istirahat ini, dia benar-benar menyita perhatianku.


"Iya, namaku Lisa. Salam kenal," jawab Lisa, perlahan tangannya terulur, kemudian mereka berjabat tangan sebentar hingga Dexter akhirnya menarik kerah Atma dari belakang untuk mengajaknya pergi ke kantin.


"Fir, laki-laki satu ini juga nyebelin!" Kesal Dexter yang merujuk ke Atma.


Terpaksa Atma berjalan mundur, berpisah dengan Lisa karena Dexter menariknya dengan kencang.


Dia terus tertawa melihat ke arah Lisa, padahal Dexter masih cemberut di sana. Apa Dexter juga cemburu sama sepertiku?


Wooaahh!! Atmaaa!!! Aku membencimu!! Katamu Febi cantik, katamu Anie cantik, semua orang kamu dekati! Tapi kali ini aku nggak bakal membiarkan Atma mendekati Lisa, kasihan Lisa karena didekati oleh buaya darat yang mulutnya bau. Dasar Atma menyebalkan! Untung ada Dexter yang berperan sebagai penyelamat di sini.


"Eh, Lis, mau pergi ke kantin bareng aku, nggak?" tawarku setelah ada kesempatan.


"Umm... aku di sini aja," jawab Lisa menolakku.


"Oh ya sudah, aku pergi dulu ya!" Balasku sambil mengembangkan senyuman.


Aku sudah dewasa, waktunya menunjukkan jati diri.


Aku berjalan keluar dari kelas menuju ke kantin, namun saat aku mengusap air mataku di pipi, ternyata kurasa aku memang butuh kamar mandi. Hanya bercanda!


Aku hanya mengeluarkan sedikit air mata. Mungkin mataku terkena debu di perjalanan tadi, jadi sedikit berair, itu saja.


Berjalan ke arah kantin sambil menggaruk-garuk kepalaku. Aku bingung, berharap semoga saja Dexter tidak menaruh hati pada Lisa. Jika memang benar dia menaruh hati, bisa-bisa dia akan menjadi sainganku, saingan yang menyebalkan dengan sikapnya yang terlalu menghayati peran sebagai ketua kelas.


"Fir!" Sapa Febi di depan kantin. "Nggak bareng Lisa?"


"Eng-engg..., hmmmmm..., ngeng-ngeng!" Candaku untuk menutupi gugupku, tanganku berpantomim seperti sedang memegang kemudi mobil.


"Apaan sih kamu ini aneh! Bener ya, kadang aku suka gemes sama kamu, pengen nonjok!" Ucap Febi ikut bercanda.

__ADS_1


"Ehehe... oiya, Anie mana? Bukannya tadi bareng sama kamu?" tanyaku penasaran.


"Oh, Anie? Itu lihat, dia lagi... eh?! Anie digangguin Atma! Nggak bisa dibiarin nih!" Seru Febi setelah tau kalau Atma lagi mencoba PDKT dengan Anie.


Febi berlari ke arah Anie di sana, di depan ibu penjual kantin yang jadi kebingungan karena tingkah laku mereka. Entah kenapa, dari pandanganku, Febi tidak suka dengan Dexter dan Atma, mereka selalu dimarahi olehnya, dan dilarang mendekati Anie. Anie adalah teman dekat Febi, sekaligus dia perempuan yang mungkin paling polos di kelas.


"Eh, minggir ya! Awas kalau berani deketin Anie!" Lerai Febi, mengarahkan Anie untuk bersembunyi di belakangnya.


"Iya, nih, Atma... aduuhh... yang bener aja deh!" Dexter datang sambil menggaruk-garuk kepala atas keributan ini. "Feb, bagus deh kamu menjaga Anie dengan aman!"


"Oiya jelas dong! Aku trauma lihat buaya berkeliaran kayak gini!" Balas Febi bangga.


Tiba-tiba pandanganku terhadap mereka... mulai memutih, suara-suara selain mereka mulai memudar, menyisakan Dexter dan Febi yang lagi mengobrol dengan ekspresi senang. Seperti di film-film ketika seseorang bertemu dengan si pujaan hati, dan tampak dari jauh si pujaan hatinya bersinar di mata tokohnya.


Apa ini takdir? Ah, mungkin perasaanku saja. Febi dan Dexter, biasanya mereka tampak tidak akur, tapi kali ini... seperti ada yang disembunyikan dari mereka. Mungkin juga mereka cocok untuk menjadi satu pasangan.


◐◐◐


"EH, LIHAT TUH LIHAT!" Teriak seseorang dengan nada panik.


"CEPETAN KITA LAPORIN KE GURUU!!" Teriak teman lainnya.


Suara teriakan itu berasal dari luar kamar mandi dan menarik perhatianku, lalu teriakan tadi tidak terdengar lagi dan tambah membuatku penasaran. Apa mereka berdua sudah meninggalkan lokasi kejadian? Seribu pertanyaan terus bermunculan di benakku, hingga berpikir bahwa mereka ketakutan karena mungkin ada ular raksasa.


Aku penasaran sekali.


Setelah aku selesai buang air kecil dengan lega, tidak lupa mengguyurnya agar bersih, dengan secepat kilat aku keluar dari kamar mandi. Aku akan menantang hal yang membuat kedua siswa tadi ketakutan.


Namun saat aku melihat ke lorong di depan kamar mandi yang gelap ini, aku hanya melihat seorang siswa yang berdiri dengan tangan dan kaki seperti hewan berkaki empat. Siswa itu membelakangiku, memamerkan pantatnya dan aku tidak tertarik sama sekali karena dia laki-laki.


"Atma!" Aku terkejut ketika siswa itu berbalik badan, yang ternyata dia adalah Atma, lalu di mana Dexter? Dan kenapa Atma berdiri dengan tangan dan kaki seperti anjing?

__ADS_1


__ADS_2