Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone
6-5. Masa Lalu : Eko, Lora, dan Pita


__ADS_3

"Tidak usah, Pak, terima kasih. Kami bisa pulang sendiri." Jawabku sambil mencoba membantu anak laki-laki yang aku selamatkan tadi untuk berdiri.


"B-baiklah, saya tinggal dulu," balas si sopir truk merasa bersalah.


Terpaksa aku menolaknya, aku takut jika dia ternyata juga suka menyulik anak kecil seperti kami. Itu berbahaya sekali, karena Ayah dan Ibu selalu memperingatiku akan hal seperti ini. Dan saat ini, yang bisa aku lakukan hanyalah mengamati kepergian si sopir truk itu, berjaga-jaga jika dia memang tidak ingin menculik kami.


"K-kamu..." Ucap anak laki-laki yang berhasil aku selamatkan, membuatku terkejut lalu menoleh ke arahnya. "Kamu teman satu kelasku, 'kan? Kamu yang suka menyendiri itu, 'kan?"


Aku mengangguk pelan setengah bingung harus menjawab apa, karena sebenarnya aku dibully dan tidak memiliki teman, jadi aku pun hanya bisa menyendiri bersama teman-teman benda mati.


Tapi tunggu, wajahnya yang tidak asing itu... jadi sungguh kalau dia memang teman sekelasku? Aku pikir dia siapa tadi, pantas wajahnya tidak asing lagi.


"N-namaku Eko, kalau namamu siapa?" Laki-laki itu bernama Eko, dia memperkenalkan diri lalu bertanya tentang namaku.


Aku diam sejenak, bingung harus mengatakan apa, sampai sekitar 10 detik baru menjawabnya. "Namaku... Firza, panggilannya tetap Firza."


Sisa air mata masih terlihat di ujung mata Eko, tidak begitu lama hingga aku menyuruhnya mengusap air matanya.


Dia juga sudah tidak sesegukan lagi. Kali ini aku mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, karena setelah kejadian barusan, mungkin kakinya langsung lemas.


Setelah dia berdiri dengan kaki kopongnya yang gemetaran, entah kenapa aku jadi teringat seorang perempuan dengan kebaya yang muncul di depan hutan tadi. Dialah yang memperingatiku untuk menolong Eko. Tapi saat aku menoleh dan mencoba mencarinya di tempat dia berdiri sebelumnya, dia sudah tidak ada lagi, menghilang seolah di telan bumi.


"T-terima kasih banyak karena kamu telah menolongku tadi," ucap Eko dengan wajah melas dan sedikit takut, semoga dia tidak trauma.


Aku mengangguk sebentar, kemudian kembali menghadap pepohonan hutan di seberang sungai, mencoba untuk mencari perempuan berkebaya tadi.


Berharap saja dia kembali memperlihatkan diri. Tapi nyatanya masih tetap tidak ada. Apa dia benar-benar hilang ditelan bumi? Atau sebenarnya dia bukanlah manusia?


"Kalian kenapa?!" tanya seseorang yang baru saja datang, dia terdengar seperti seorang perempuan.

__ADS_1


Terdengar asal suara itu dari belakangku, ketika aku sedang menoleh ke arah hutan.


"Tunggu-tunggu... kalian... aku kayak pernah lihat kalian!" Kata seseorang lagi yang baru saja datang dan dia juga terdengar seperti perempuan.


"Memangnya mereka siapa, Lor?" salah satu dari mereka bertanya pada temannya.


"Lupa, Pit, tapi mereka kelihatan nggak asing!" Jawab salah satu dari mereka lagi.


Terdengar seperti percakapan 2 orang perempuan, dan mereka berdiri tepat di sampingku dan Eko.


Aku yang tadinya memfokuskan pandangan ke arah hutan, kini dibuat penasaran oleh kedua perempuan yang baru saja datang itu.


Apa susahnya menoleh? Dan saat aku menoleh ke arah mereka, ternyata mereka hanyalah 2 perempuan cantik yang terlihat seumuran dengan kami. Yang satunya terlihat cukup kurus sepertiku, sementara satunya lagi terlihat lebih berisi, bahkan bisa dibilang gemuk.


"Kalian siapa?" tanya Eko ikut penasaran.


Kami berdiri dengan posisi seperti ingin duel 4 vs 4, walau jika itu terjadi, tidak akan adil karena mereka perempuan dan kami laki-laki.


Salah satu dari mereka, alias yang bertubuh ideal setengah kurus, alih-alih memandang Eko yang bertanya barusan, dia malah terus mengamatiku.


Aku sedikit tidak nyaman karena dia terus melihatku. Apa dia tidak tau kalau aku introvert?! Aku tidak tau alasan dia memperhatikanku, tapi jujur, aku tambah gugup saat dia mulai mengarahkan jari telunjuknya padaku.


"Kamu, 'kan yang pernah dibully di sekolah, 'kan?" tanyanya sambil menunjukku, membuatku sakit hati.


"Heh! Jangan bilang kayak gitu!" Perempuan yang satunya lagi langsung memukul pelan teman di sebelahnya. "... tapi apa itu beneran, Lor?"


Entah kenapa perkataan mereka sangat menusukku, tapi aku tidak tau bagian mana yang tertusuk di tubuhku.


Sementara mereka berbisik, entah kenapa nadanya masih cukup kencang dan aku masih bisa mendengarnya. Apa mereka agak gila? Membicarakan orang yang baru saja mereka kenal, dan tepat di depannya?

__ADS_1


"Aku bakal jadi temanmu," ujar Eko berbisik ke arahku sambil mengembangkan senyumnya, suasana hatiku langsung tenang seketika.


"Seriusan?" Aku mencoba menahan senyumku yang akan muncul berlebihan.


Apa sebegitu introvertnya aku? Mungkin saja, tapi entahlah.


Intinya adalah aku bahagia mendengarnya. Walau tidak lebih bahagia ketika bertemu dengan Lisa, tetap saja aku harus bersyukur atas hari yang panjang ini.


"Tunggu cewek-cewek! Firza ini enggak dibully kok! Cuma orang-orang jahat aja yang membullynya!" Seolah seperti pelindung, dengan perkataannya, Eko mencoba meyakinkan kedua perempuan di depan kami, dan sepertinya itu berhasil.


"Tuh kan! Dia enggak dibully, mungkin kamu salah orang, Lor!" Perempuan yang agak gemuk itu menyalahkan teman di sebelahnya.


"Ya maap, Pit!" Balas dia yang tersalahkan.


"Kalau mau minta maap tuh sama dia, bukan sama aku!" Perempuan gemuk itu menunjukku sambil masih menyalahkan temannya.


*Deg, jantungku seketika berdegup kencang, karena perempuan yang tadi mengamatiku akan menatapku sekali lagi, alias mata kami juga akan saling beradu lagi.


Ini membuatku malu sekaligus gugup. Aku harus menguatkan diri agar tidak salah tingkah di depan mereka.


Tidak tau kenapa, tapi aku merasa lebih gugup berada di depan orang-orang yang sepertinya satu sekolah denganku, ketimbang dengan Lisa. Mungkin alasannya karena mereka lebih banyak, ditambah mereka semua satu sekolah denganku, daripada Lisa yang... entah kenapa aku nyaman di dekatnya, karena aku merasa dia juga satu nasib denganku.


"Namamu Firza, 'kan? Aku minta maaf ya, kalau tadi perkataanku nggak enak ke kamu," ucap perempuan tadi, tanpa sengaja membangunkanku dari pikiran absurdku yang sedang menghayalkan Lisa.


Suasana di sini jadi canggung sejenak, setelah aku mengangguk dan tersenyum menjawab permintaan maaf yang tulus dari perempuan itu.


"Ummm... oh iya, kalian... nama kalian siapa?" tanya Eko memulai lagi.


"Namaku Pita, dan ini Lora. Lora juga sekelas sama kalian kok, aku juga!" Tanggap perempuan yang agak gemuk itu, dia bernama Pita.

__ADS_1


Dia juga memperkenalkan teman di sebelahnya, perempuan agak kurus yang daritadi mengamatiku, namanya Lora. Dan mereka satu kelas denganku dan Eko, kebetulan sekali.


"Kalau namaku Eko, dan ini temanku, Firza!" Eko berbicara, serta mewakiliku juga.


__ADS_2