Posesif Love Sang Billionaire

Posesif Love Sang Billionaire
Merindukan dia


__ADS_3

"Bagaimana hari hari mu sama Mommy." tanya Julian menyelidik pada putrinya.


"Baik, seperti biasa." ucap Elle.


"Tapi ada satu dua hal yang membuat Elle senang."


"Apa?" tanya Julian sambil menyetir.


"Elle sekarang punya kebun bunga matahari di pekarangan rumah Uncle Dave. Uncle yang buatkan kebun bunga itu untuk khusus untuk Elle. Dan yang kedua yang paling buat Elle senang adalah. Elenor akan punya adik lagi dari Mommy."


"Maksud Elle?"


"Mommy sekarang lagi hamil Dad. Elle akan punya adik lagi." jawab Elenor polos. Dan berita itu cukup mengejutkan Julian.


"Oya, apa Elle yakin. Dari mana Elle bisa tau jika Mommy mu sedang hamil sekarang?" tanya Julian penasaran.


"Mommy sendiri yang bercerita pada Elle. Bahkan Elle adalah orang pertama yang tau jika Mommy hamil." jelas Elenor polos.


"Oh, Mommy mu pasti terlihat bahagia."


"Tentu saja Mommy bahagia, Mommy terlihat bahagia bersama Uncle Dave juga. Uncle Dave orang yang baik. Dia terlihat sangat menyayangi Mommy. Dan Elle cukup senang melihat Mommy bahagia bersama Uncle." Ucap Elle dengan nada sedikit menyimpan rasa kesedihan yang terpendam. Tapi ia berusaha untuk menutupinya dan terlihat bahagia.


Julian nampak sedikit merasa tidak suka jika Elle memuji kebaikan Dave.


"Apa Daddy senang melihat Mommy bahagia sekarang?"


"Tentu saja Daddy ikut bahagia sayang. Kita semua bahagia. Daddy, Mommy, dan Elle. Kita semua bahagia." ucap Julian sambil mengusap kepala Elenor yang duduk di sampingnya.


Ya, memang terlihat bahagia Dad. Tapi jauh di lubuk hati Elenor yang paling dalam. Elle merasa sedih, dan Elle merasa sendirian.


Louis bahagia ada di tengah tengah Daddy dan Mama Jenna. Calon adik Elle dari Mommy Valerie juga akan bahagia hidup bersama diantara Mommy dan Uncle Dave. Kalian semua bahagia dengan keluarga lengkap kalian.


Sedangkan aku, aku hanya ada di antara kalian berdua. Aku hidup di antara Mommy dan Daddy yang punya keluarga sempurna.


"Elle, kau tidak apa-apa?" tanya Julian yang melihat sang putri berubah murung.


"Tidak apa apa Daddy." jawab Elle, kemudian ia menoleh ke Daddy nya sambil tersenyum tipis.


"Jangan bahas masalah tadi. Bagaimana jika kita mampir dulu ke restoran yang tempo hari kita makan di sana. Apa Elle mau?" tawar Julian pada sang putri.

__ADS_1


"Tidak usah Dad. Langsung pulang saja, aku sudah kangen dengan Louis." ucap Elle menolak ajakan Daddy nya dan memilih untuk cepat sampai di rumah.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sejak mendengar jika Valerie telah hamil benih Dave dan dia bahagia. Julian sebenarnya juga turut berbahagia atas kebahagiaan Valerie.


Namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam. Ada sekelumit rasa rindu dan perasaan perasaan aneh yang masih Julian rasakan pada wanita yang telah memberikan ia putri dan yang pernah menjadi kangguru nya itu.


Malam itu Julian tengah berada di ruang kerjanya. Dan di sana ia sedang memandangi foto Valerie yang masih ia simpan di laptopnya.


Julian memandangi gambar Vale tanpa kedip.


"I Miss You Valerie." desis Julian.


Flashback on


"Aktivitas ini memang harus kita jalani Vale. Agar supaya kau cepat hamil. Aku akan menaburkan benih ku ke rahim mu. Dan aku berharap akan ada mahluk kecil yang hidup di rahim mu secepatnya. Aku tidak ingin lama lama menunggu. Kau harus memberikan aku anak."


"Aku paham Julian, aku sudah siap untuk itu." ucap Valerie sambil meletakkan satu tangannya ke pundak Julian yang kekar. Dan satu tangannya yang lain ia susupkan ke sela sela rambut Julian yang sudah sedikit acak acakan.


Kini Valerie benar benar sudah polos ketika ia masih duduk di pangkuan Julian yang juga sudah polos. Dengan saling menatap dengan intens, siratan kedua mata mereka seolah-olah sedang mengantarkan gelombang hasrat yang memang harus segera mereka rengkuh bersama sampai mendapat *******.


Suguhan yang sudah lama sekali ia tak melahap itu. Dengan tanpa bisa di kendalikan lagi. Julian benar-benar memimpin permainan. Valerie hanya bisa pasrah dan menyerah dengan setiap aksi yang Julian lancarkan kepadanya.


"Mendesah lah Vale, jangan kau tahan. Suarakan saja apa yang ingin kau suarakan, berteriak lah." ucap Julian di sela sela ia sedang menikmati buah dada milik Valerie yang benar-benar sangat original itu bagi Julian.


Serangan demi serangan terus Julian lancarkan. Membuat tubuh Valerie mengeliat kesana-kemari.


"Julian, aku...aku.." entah dia harus bicara apa, Valerie juga nampak masih bigung. Tapi Julian paham, gadis itu sepertinya sudah tidak bisa menahan lagi untuk di puaskan.


"Tahan Vale." bisik Julian. Yang kini sedang bersiap untuk melakukan penyatuannya. Valerie yang sudah siap pun seolah-olah sedang menunggu kedatangan itu.


Begitu Julian berusaha untuk masuk, sepertinya Vale merasa kesakitan. Terlihat jelas dari wajah Valerie yang nampak sedang menahan sesuatu yang menyakiti dirinya.


"Sakit Mr, please pelan pelan." ujar Valerie yang kondisinya sudah berkeringat. Julian pun mencoba beberapa kali, ia tidak ingin memaksakan miliknya masuk dengan kasar. Karena bagaimanapun, ia juga merasa kasian pada Valerie.


"Vale, apa kau masih bisa tahan?"


"Ternyata rasanya sakit." keluh Valerie.

__ADS_1


"Sakit untuk pertama kalinya saja. Setelah ini kau tak akan merasakan kesakitan lagi." ucap Julian. Yang kemudian mengecup dahi Valerie dan juga bibir nya untuk memberikan sentuhan sayang. Setelah merasa Valerie kembali rilex. Julian kembali mengulangi penyatuannya yang belum berhasil tadi.


Setelah beberapa saat berusaha dan melakukannya dengan pelan, lembut dan pasti. Akhirnya Julian berhasil melakukan penyatuan itu pada Valerie.


Ketika pertama kali merasakan sesuatu memasuki miliknya. Valerie tak melepaskan tatapan matanya yang sayu itu ke arah mata Julian yang sejak tadi memang sudah memperhatikan dirinya.


"Bagaimana Valerie," tanya Julian sembari ia melakukan gerakan demi gerakan yang lembut.


Tapi sepertinya Valerie sudah tidak bisa menjawab pertanyaan Julian. Ia sibuk dan kualahan menerima sensasi kenikmatan yang pertama kali ia rasakan itu.


Si bawah hamparan selimut yang hangat, di dalam kamar yang ber AC, di temani lampu yang temaram. Dua insan itu nampak larut dalam kenikmatan percintaan dan penyatuan mereka.


Keringat yang membuat mereka lengket seolah malah membuat candu. Kini berbagai gaya Julian ajarkan pada Valerie. Dan Valerie menurut saja dengan apa yang Julian perintah dan pasrah dengan apa yang Julian lakukan terhadap dirinya.


Hingga pada satu titik, Julian menyemburkan cairan kental miliknya ke dalam rahim Valerie. Untuk beberapa saat, Julian menahannya.


"Vale, tidak ada kata yang mampu aku ucapkan terhadap mu, kecuali terimakasih. Kau tidak hanya menjadi calon ibu untuk anak ku. Tapi kau juga berhasil memuaskan aku. Apa yang aku berikan untuk mu, tidak ada apa apanya dengan apa yang sudah kau berikan padaku. Terimakasih Vale."


"Sama sama Mr." hanya itu yang bisa Valerie ucapkan dengan napas yang masih terengah. Dan masih mengalungkan tangannya ke leher Julian.


"Beristirahat lah, tidurlah." ucap Julian yang kemudian melepaskan dengan perlahan penyatuan mereka yang sejak tadi masih bersatu.


Setelah Julian melepas nya, lengkuhan tanda puas dan terpuaskan meski lirih bisa Julian dengar dari mulut Valerie.


Valerie pun setelah itu memiringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


"Good night my kanguru."


Julian kemudian menaikkan selimut sampai ke leher Valerie yang sepertinya sudah tertidur.


Sedangkan Julian sendiri merasa bangga dan juga puas dengan apa yang baru saja ia jalanin bersama Vale.


Kegiatan seksual yang sudah sangat lama ia tak melakukannya. Dan malam ini hasrat itu telah mencair.


Flashback off :


Julian tiba tiba merasa sangat gusar setelah ia kembali teringat bagaimana dia dan Vale pernah bercinta.


"Ini tidak boleh terjadi pada ku." ucap Julian frustasi.

__ADS_1


Julian kemudiaan menutup laptopnya dan segera pergi meninggalkan ruang kerja nya.


__ADS_2