
"Jangan melihat ke arah ku. Kau duduk saja di sana. Aku tidak ingin kamu melihat aku sedang menyusuinya." ucap Vale dengan nada ketus sambil menunjuk ke arah sofa.
Lagi lagi hal itu membuat Dave terperanjat kaget.
Tetapi Dave adalah seseorang yang sangat cerdas. Ia tau saat ini Vale sedang merajuk terhadapnya.
Dave tau Valerie pasti kesal terhadapnya gara gara membuatnya kepikiran.
Dave pun menuruti keinginan sang istri.
Tanpa ingin membantah dan berdebat, Dave kemudian berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu.
Ia pun duduk di sana dengan wajah yang tersenyum senyum. Sambil melihat dan memperhatikan wanita yang begitu ia cintai itu sedang menyusui.
"Kau terlihat semakin cantik jika kau sedang marah sayang. Jika kamu cemberut seperti itu, kamu makin terlihat menggemaskan." ucap Dave, yang saat itu ia duduk di sofa sambil memandangi sang istri yang tengah menyusui putranya.
Vale tidak menyahut dan juga tidak menoleh ke arah Dave.
"Saat aku datang kemarin, kau langsung memelukku. Kau mencium ku dan bersikap manja. Tapi kenapa sekarang kamu begitu. Jual mahal terhadapku, apa salahku. Seharusnya kamu senang kan aku telah kembali dengan selamat." ucap Dave, sebenarnya ia hanya sedang menggoda sang istri. Agar Vale kembali bersikap normal.
"Jangan ajak aku mengobrol. Aku masih kesal terhadapmu. Kau membuat perasaanku begitu menderita. Dan sekarang, kau dengan mudahnya senyum-senyum seperti itu terhadapku. Kamu sudah menyiksaku dan hampir membuat aku patah hati Dave." ujar Valerie dengan nada kesal, yang akhirnya bersuara.
Dave kemudian terkekeh. Meski perasaan sang istri saat ini sedang kesal padanya. Tapi sesungguhnya, Vale begitu mencintainya. Dan jelas bisa di liat bahwa wanita itu takut kehilangan dirinya.
"Cerita bagaimana diri ku bisa selamat juga penuh perjuangan sayang. Kamu pikir aku siap meningalkan mu. Pada saat kejadian itu terjadi, aku juga sedang bertaruh nyawa di dalam helikopter yang aku tumpangi saat itu. Pilihannya hanya satu. Menceburkan diri ke lautan dengan bermodalkan pelampung. Jika tidak, aku sudah ikut meledak bersamaan dengan helikopter yang meledak saat itu." jelas Dave.
"Bagaimana bisa helikopter itu meledak? tanya Vale yang kini menoleh ke arah Dave.
"Namanya juga sedang dalam nasib naas. Siapa yang tau sayang. Padahal pilotnya juga bukan pilot sembarangan. Helikopternya juga selalu di rawat. Tapi ya sudahlah. Yang penting aku selamat kan."
"Kenapa kau tak menghubungi ku segera setelah kau selamat?" tanya Vale lagi.
"Saat aku terjun ke laut. Aku tidak membawa apapun. Aku hanya membawa diri ku sendiri. Semua barang barang ku dan juga ponsel tertingal di helikopter. Jadi aku tidak kepikiran soal ponsel. Yang ku pikirkan hanyalah terjun ke laut menyelamatkan diri. Untungnya kami langsung di selamat kan oleh seorang nelayan. Dan dalam waktu dua hari itu kami semua di rawat. Karena kejadian itu membuat kami semua syok. Setelah aku sehat. Aku mendatangi Jeff. Dan dia ternyata sudah memberikan kabar tentang diriku. Aku juga tidak tau jika kejadian yang menimpaku menjadi pemberitaan di luar sana."
"Kau membuat aku takut Dave." ucap Vale dengan nada suara sedih.
__ADS_1
Melihat sang istri yang kini nampak sedih. Dave kemudian berdiri dan ia melangkahkan kakinya menghampiri Valerie yang masih menyusui putranya.
Dave kemudian duduk tepat di sisi Vale.
Dan ia melingkarkan satu tangannya ke belakang pundak Vale.
"Aku pasti akan berjuang untuk tetap hidup sayang. Demi kamu dan dia." ucap Dave, yang kemudian memberikan kecupan sayang ke pipi putih Valerie. Serta menyentuh pipi gembul putranya dengan tangannya.
"Mana mungkin aku membiarkan mu membesarkan putraku sendirian."
Dan sepertinya, perasaan Valerie kini sudah tidak lagi sebal dengan sang suami. Buktinya, Vale kini meletakkan kepalanya ke pundak Dave.
"Aku takut kehilanganmu Dave. Dan aku juga belum siap menjadi janda lagi."
"Suttttttt, apa sih janda." tutur Dave yang selalu tidak suka jika mendengar kata itu.
"Kita akan hidup bersama sampai tua. Kita akan melihat anak anak kita tumbuh dewasa. Bahkan kita akan di kelilingi cucu pada pada suatu saat nanti." ucap Dave.
"I Love You Dave."
Vale dan Dave kini saling berhadapan. Dan tak bisa di hindari, Dave langsung melabuhkan ciuman bibir basah yang dalam ke bibir Valerie.
"Dave!" protes Vale sambil menarik bibirnya.
"Kenapa di tarik? Aku belum selesai mencium mu."
"Kau lupa ya. Sekarang ada anak kita."
"Dia masih kecil. Dia tidak akan tau dengan apa yang kita lakukan barusan." ujar Dave.
"No....no, aku tidak setuju." ujar Valerie.
"Kenapa?" tanya Dave tetap ngotot.
"Dave, kita harus membiasakan diri untuk tidak bermesraan dan berlaku intim jika di depan anak anak. Meskipun dia masih bayi nanti kamu kebiasaan. So, jadi sekarang kamu harus bisa membiasakan diri dan juga menahan diri jika ingin mencium ku atau apa. Kita harus berada di tempat yang anak anak tidak melihat." ujar Valerie.
__ADS_1
"Hemmmmmmmm, apa itu berlalu mulai sekarang!"
"Tentu saja, berlalu mulai detik ini." ujar Valerie dengan tatapan mata tajam.
"Sejak jadi ibu dari dua anak kamu sekarang tambah galak." sindir Dave.
"Karena aku harus menjaga anak anak ku. Aku harus protektif."
Dave hany bisa pasrah jika Valerie sudah membuat suatu aturan.
"Jadi, akan dinamai siapa anak kita?" tanya Dave sambil berfikir.
"Apa kau punya ide nama yang bagus?" tanya balik Vale.
"Bagaimana kalau George. George Mattew Enderson."
"No, jangan George. Bagaimana kalau Kendrick. Kendrick Liam Enderson. Kita kan pangil dia Ken atau Liam."
"Oke, kamu menang. Kendrick Liam Enderson. Hai Baby Ken." ujar Dave yang langsung memangil putra nya dengan nama yang sudah mereka saling setujui bersama.
Dave dan Vale terlihat begitu bahagia. Mereka bersamaan sama terlihat mengangumi anak mereka. Mengagumi Baby Kendrick Liam Enderson.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Beberapa hari setelah Valerie melahirkan putranya. Vale yang sudah lama tidak mengunjugi makam kedua orang tuanya. Pada hari itu ia kembali menyambangi makan orang tuanya.
"Ibu, selamat, ibu telah jadi nenek dari dua anak yang sudah aku lahirkan. Sekarang hidup Valerie lebih bahagia. Aku telah hidup bahagia bersama suami ku Dave. Vale hidup bahagia bersama anak anak Valerie. Elenor tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, pintar dan sedikit pemalu. Maafkan Valerie jarang berkunjung ke makam ibu dan ayah. Semoga kalian mendapatkan tempat yang mulia di sisi Tuhan. Aku hanya ingin memberi tau pada kalian. Bahwa hidup ku bersama putri, anak dan suami ku begitu bahagia. Aku tidak merasa menderita saat hidup susah dulu bersama ayah dan ibu. Tapi Vale menderita saat Vale kehilangan kalian. Kehadiran kalian begitu berarti untuk Vale. Setelah kepergian kalian yang tanpa pamit pada Vale dulu. Setiap detik, menit dan hari Vale dulu berharap ada keajaiban yang bisa menghadirkan ayah dan ibu bisa berdiri di hadapan ku. Tapi itu mustahil. Paman dan Bibik merawat ku dengan baik. Setelah aku bisa hidup mandiri. Aku sudah tidak tingal lagi di rumah Paman dan Bibik. Aku berjuang dan bersemangat seperti kalian dulu. Sekarang ku juga sudah lebih baik, aku tidak hidup kekurangan lagi. Beristirahatlah dengan tenang Ibu, ayah. Valerie mencintai kalian." Valerie merasa lega saat ia sudah mengunjungi makan kedua orang tuanya.
Dave
Vale
__ADS_1