
Indonesia
"Tolong luangkan waktu untuk Elenor dulu. Kini sudah waktunya dia masuk universitas." ucap Valerie pada Julian.
"Aku sudah mengobrol dengan nya beberapa hari lalu lewat telepon. Dia sudah ada dua pilihan university yang akan dia tuju. Karena dia belum melihat secara langsung universitas nya. Dan hanya melihat informasi universitas itu dari internet. Kata Elle, dia ingin meninjau langsung tempat kuliahnya. Dan dengan begitu, ia akan menentukan pilihannya." ucap lagi Valerie pada Julian, yang pada saat itu mereka bertemu untuk membahas tentang anak mereka Elenor. Yang sedang mencari tempat kuliah yang pas untuk putri mereka.
"Kau tenang saja Vale, aku adalah Daddy-nya. Aku akan selalu ada untuk Elle. Aku akan menemaninya untuk meninjau universitas yang ingin dia tuju. Kuliah adalah masa masa yang penting untuk Elle. Bagaimana pun, ini adalah babak baru untuk Elenor dalam menempuh pendidikan. Yang kedepannya akan sangat berpengaruh untuk dirinya sendiri. Kau tenang saja, aku pasti akan luangkan waktu untuk putri ku." jelas Julian pada Vale.
"Terimakasih Julian."
"Kau tidak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi tugas ku dan tanggung jawab ku."
"Aku kan juga Mommy nya. Aku juga peduli dengan Elle. Apalagi, ini adalah pengalaman pertama ku jauh darinya. Aku akan sangat merindukannya. Biasanya dia selalu ada di sisi ku. Dan kini aku akan jauh dari putri ku." ucap Vale dengan nada sedih.
"Kau pikir aku tidak merasakan hal yang sama seperti apa yang kau rasakan. Aku juga pasti akan merindukan Elenor ku. Dia anak yang luar biasa dan kuat."
"Jangan membuat ku sedih Julian." ujar Valerie yang kini kedua mata telah memerah.
__ADS_1
Melihat Vale nampak sedih dan sepertinya hendak menitikan air mata. Membuat Julian langsung memberikan tissue untuk Vale.
"Kita harus relakan Elenor jauh dari kita. Dia sudah dewasa, sudah 17 tahun. Dan bukan anak kecil lagi. Sudah saatnya dia belajar mandiri. Jauh dari kita berdua tujuannya kan untuk sekolah. Kita harus mendukungnya."
"Ya , kau benar. Tapi tetap saja, aku terkadang selalu merasa bersalah pada Elle. Entah kenapa perasaan bersalah itu selalu aku rasakan terhadap nya." ucap Vale dengan menundukkan kepalanya.
"Sudah Vale, jangan bersedih. Elenor anak yang luar biasa. Jangan buat dirimu terlalu memikirkan Elenor. Dia hanya pergi untuk menempuh pendidikan. Kita juga bisa sesering mungkin mengunjunginya. Tapi karena kau saat ini sedang hamil. Mungkin butuh beberapa bulan lagi untuk bisa kau mengunjungi Elenor di Amerika. Jadi, fokus lah untuk kelahiran anak ke tiga mu. Soal Elenor aku akan urus dengan baik. Dan aku akan selalu berkomunikasi dengan mu soal Elenor." jelas Julian. Mencoba untuk menenangkan Vale yang sedih ketika Elenor akan berada di Amerika untuk kuliah.
"Terima kasih sebelumnya, dan pastikan Elle mendapatkan tempat tinggal yang tidak jauh dari lokasi tempatnya berkuliah. Karena aku tidak ingin dia tingal di lokasi yang jauh dari tempat dia bersekolah. Dia juga kan belum begitu lihai mengendarai mobil. Aku khawatir jika kita memberikan dia mobil di sana. Justru malah akan membuat dia bisa terjadi sesuatu dengannya. Apa lagi kita berada jauh darinya." ujar Valerie khawatir.
"Tenang saja Valerie, aku sudah memikirkan semuanya itu. Aku tidak akan membiarkan Elenor ku kenapa kenapa. Tenang saja, aku sudah mengatur semuanya." ucap Julian, mencoba untuk memberi tau Vale jika ia yang akan mengurus urusan kuliah putri mereka.
Setelah pertemuannya dengan Julian membicarakan tentang Elenor. Valerie kembali ke Mansion dengan perasaan hati yang sedikit tenang.
Sesampainya dia di Mansion, ketika ia melewati kamar Elenor.
Valerie kemudian membuka kamar Elenor. Kamar itu kini kosong di tingalkan penghuninya.
__ADS_1
Valerie kemudian masuk dan mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan kamar.
Dan Vale kemudian melirik ke arah meja belajar Elenor yang ada di sudut kamar.
Elenor yang suka menggambar selalu menghabiskan waktunya di meja itu.
Flashback on :
"Menggambar apa?" tanya Vale sambil meraih bahu sang putri.
"Aku suka menggambar langit biru yang gelap di malam hari."
"Kenapa kau suka menggambar langit biru yang gelap." tanya Vale penasaran.
"Tidak kenapa kenapa Mom. Aku hanya suka saja." ucap Elle yang kemudian ia menutup buku gambarnya.
(Tidak hanya teringat bagaimana Elenor suka duduk dan menggambar di meja belajarnya. Tapi Vale juga teringat bagaimana Elenor yang suka berdiri di dekat jendela kamar sambil memandangi taman bunga miliknya.
__ADS_1
Flashback off
"Elle, Mommy kangen dengan mu."