Posesif Love Sang Billionaire

Posesif Love Sang Billionaire
Tidak ingin berbagi masalah


__ADS_3

"Apa aku harus kesana? Tidak bisakah aku wakilkan pada sekertaris ku?" ucap Dave menjawab telepon dari seseorang.


"Jika bisa di wakilkan oleh sekertaris ku. Sekertaris ku saja yang pergi ke Dubai. Aku sedang tidak bisa keluar Negeri sekarang ini. Istri ku sedang hamil besar." imbuh Dave lagi pada seseorang yang di ajak bicara lewat sambungan telepon.


"Kalau begitu nanti aku hubungi lagi." ucap Dave mengakhiri percakapannya dengan seseorang.


Setelah selesai berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon. Dave kemudian meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya di kantor.


Ia kemudian menyadarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.


Sambil memijat pelipisnya, Dave merasa sedikit pening dan bingung.


Ada sedikit masalah tentang pekerjaannya yang saat ini berkantor di Dubai.


Seseorang yang ditugaskan untuk menangani perusahaannya yang berada di Dubai menelpon. Dan mengharuskan Dave untuk terbang ke Dubai Minggu ini.


Karena perusahaannya yang ada di sana sedang ada beberapa masalah yang mengharuskan Dave untuk terbang ke Dubai.


Tetapi karena Valerie saat ini tengah hamil besar. Membuat Dave tidak ingin meninggalkan sang istri.


Valerie saat ini menjadi prioritasnya.


Masalah serius perusahaan yang ada di Dubai membuatnya begitu dilema antara meninggalkan Valerie atau tetap berada di Indonesia.


Kelahiran anak pertamanya hanya tinggal menunggu beberapa minggu ke depan lagi.


Dave tidak ingin melewatkan pengalaman pertamanya untuk menemani Valerie melahirkan.


Bahkan Dave sudah berjanji kepada Valerie untuk tetap berada di sampingnya ketika ia hendak melahirkan nanti.


Pikiran Dave bener-bener sangat bingung. Antara pergi ke Dubai atau tetap berada di sisi Valerie.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


Dengan langkah sedikit lesu, Dave yang baru saja sampai di Mansion nya menaiki anak tangga dengan perasaan tidak begitu bersemangat.


Pikirannya saat ini benar-benar terbagi.


Sesampainya di kamar, Dave langsung membuka pintu. Dan seperti biasa, saat ia membuka pintu. Valerie selalu sudah berada di atas tempat tidur sambil mengarahkan pandangannya kepada dirinya.


Seperti biasa Valerie tersenyum kearahnya. Dan senyuman Valerie seolah-olah melambangkan sebuah sambutan hangat kepada sang suami yang baru saja pulang bekerja.


Senyum manis Valerie sudah membuat mood Dave berubah seketika.


Yang tadinya begitu sangat tidak bersemangat, kini menjadi berubah menjadi hangat.


"Selamat Malam Valerie ku." ucap Dave. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya dan mengecup kening Valerie.


"Malam juga Dave. Tumben, pulang sedikit larut. Apa banyak pekerjaan di kantor?" tanya Valerie lembut.


"Ya begitulah, belakangan ini pekerjaanku sedikit lebih banyak. Tapi tenang saja, semua bisa aku atasi." ucap Dave sambil mengendurkan dasi yang seharian melekat pada lehernya.


"Aku sudah makan malam tadi di kantor. Aku mandi dulu ya agar badanku bersih. Aku sudah tidak sabar untuk mengelus elus perut mu dan menyapa anak ku. Aku juga ingin beristirahat, badanku rasanya sangat capek sekali." ucap Dave.


Dan perkataan Dave membuat Valerie sedikit berpikir.


Tidak biasanya suaminya itu mengeluhkan tentang kondisi badannya yang capek.


Dan Vale pikir, mungkin Dave sedang ada masalah di perusahaannya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Setelah beberapa saat kemudian, Dave sudah keluar dari kamar mandi dengan badan yang jauh lebih segar dari sebelumnya.


Dia pun kemudian langsung menghampiri Valerie yang saat itu sudah berada di atas tempat tidur.


"Kamu sedang apa?" tanya Dave pada Valerie. Yang kala itu Valerie sedang memegang sesuatu di tangannya.

__ADS_1


"Perutku rasanya amat gatal. Krem ini bisa membantu menetralisir rasa gatal yang ada di perutku. Aku akan mengoleskan nya pada perutku." ucapan Vale.


"Sini biar aku yang oleskan." ucap Dave, kemudian ia meraih krem yang ada di tangan Valerie.


"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri." sergah Valerie.


"Jangan sungkan padaku. Aku tahu caranya. Aku sudah pernah melihat mu melakukan ini. Hanya perlu di balurkan ke bagian perut mu yang terasa gatal kan." ucap Dave, yang kini telah membuka tutup krem tersebut.


"Ayo buka baju mu." perintah Dave.


Valerie pun kemudian menyingkap bajunya. Dan memperlihatkan perutnya yang buncit.


Dave kemudian mulai mengambil krem yang ada di tangannya dan mengoleskan secara perlahan dan lembut ke perut Valerie yang dirasa gatal.


"Bagaimana sekarang? Apa masih terasa gatal?


"Sudah lebih baik." jawab Vale, dan Dave pun tersenyum.


Kemudian Dave melanjutkan melakukannya dengan penuh ketelatenan.


"Kamu terlihat begitu sangat letih tadi. Apa ada masalah serius di kantor?" tanya Valerie pada sang suami.


"Tidak ada sayang, masalah di kantor kamu tidak perlu tau. Semua baik-baik saja." ucap Dave yang tidak mau Vale tau masalah yang ia hadapi di kantor.


"Berbagilah denganku Dave. Kamu bisa berbagi tentang apa yang menjadi beban pikiranmu pada ku. Siapa tau aku ada ide untuk membantu. Aku kan istri mu. Aku juga pernah bekerja sebelumnya di kantor. Jadi aku kurang lebih paham soal masalah pekerjaan." ucap Vale mencoba melobi sang suami untuk mau berbagi masalah dengannya.


"Jika itu masalah pekerjaan. Aku tidak akan berbagi denganmu sayang. Pekerjaanku adalah tanggung jawab ku. Jika pun ada masalah. Kamu tidak perlu tahu. Bukannya aku tidak menghargai sikap empati mu terhadapku. Justru aku sangat berterima kasih dan mengapresiasi sikapmu. Tapi maaf, aku tidak bisa berbagi denganmu jika masalah pekerjaan. Mungkin jika bukan masalah pekerjaan aku akan berbagi dengan mu." jawab Dave sambil masih mengoleskan krem ke perut Vale.


"Bagaimana sekarang masih gatal?" tanya Dave.


"Sudah tidak lagi. Kuasa sudah cukup. Terimakasih Dave."


"Sama sama sayang. Sudah malam, ayo kita tidur." ajak Dave, yang kemudian bersiap memasang badannya untuk di jadikan bantal untuk Valerie.

__ADS_1


__ADS_2