
"Elenor sudah mendapatkan banyak dari kekayaan Daddy-nya. Dia sudah kaya dari awal dia di rencanakan keberadaannya." ujar Julian dengan tersenyum puas.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk putri ku. Dan aku tidak ingin terlalu mengandalkan mu meskipun kau adalah Daddy-nya. Meski tidak banyak, aku juga punya harta dari jeri payah ku sendiri. Dan semua itu juga akan jadi milik Elle."ucap Vale juga berbangga diri.
Mendengar penuturan Valerie yang selalu gigih dalam setiap ambisi nya. Membuat Julian terpaku memandang ke arah mantan istri kontraknya itu.
Karena terus di pandangi oleh Julian dengan tatapan aneh serta intens. Membuat Vale kemudian mengalihkan pandangannya.
"Aku harus pulang." ucap Valerie, kemudian ia langsung berdiri.
"Tunggu Valerie." Tahan Julian sambil memegang tangan kiri Vale.
"Tidak bisakah kita bersantai dulu sebentar di sini. Selain karena Elenor, kita jarang bisa bersantai seperti ini. Jangan salah paham dulu. Maksudku, kita bisa menjadi teman. Nanti aku akan mengantarkan mu pulang." ucap Julian yang dengan masih memegang tangan kiri Vale.
Karena Julian tidak melepaskan genggamannya pada tangan Vale. Valerie kemudian menarik pelan tangannya.
"Terimakasih, tapi maaf, aku tidak bisa lama lama di sini. Aku sudah ada sopir yang menunggu." ujar Valerie yang kemudian ia ingin segera berlalu dari hadapan Julian.
"Selamat untuk kehamilan ke dua mu." imbuh Julian lagi.
"Dari mana kau tau aku hamil?" ucap Vale, kemudian ia menoleh lagi ke belakang ke arah Julian. Dan ia heran, dari mana Julian bisa tau kalau dirinya sedang hamil.
"Elle bercerita jika dia akan punya adik. Dia sangat antusias sekali. Selamat sekali lagi untuk mu dan Dave. Aku bahagia melihat mu bahagia Valerie." ucap Julian terlihat tulus.
"Terimakasih sekali lagi, aku juga berdoa untuk kebahagiaan mu. Aku pulang dulu, soal aset aset itu tolong di urus. Dan terimakasih untuk bantuan mu."
"Sama sama my kangguru." jawab Julian, sengaja menyebutkan lagi panggilan itu untuk Vale. Tapi Valerie tidak menghiraukannya.
Ia kemudian pamit pada Naina dan setelah itu ia pergi meninggalkan Penthouse.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Kenapa baru sekarang kamu bersikap seolah-olah kamu takut kehilangan ku Julian.
Kenapa hal itu tidak kamu lakukan dari dulu.
Aku tidak menyesali dengan apa yang sudah aku lakukan sekarang.
Keputusanku menikah lagi dan membina rumah tangga baru bersama Dave kini membuat ku bisa menikmati hidup dengan penuh kebahagiaan.
Meskipun aku tetap merasa bersalah pada Elenor.
Tapi ya sudahlah. Ini semua mungkin sudah menjadi permainan takdir kita.
Hanya saja, terkadang aku bigung dengan sikap mu.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Dave." pangil Vale pada sang suami. Yang baru saja pulang dari kantor pada malam hari itu di kamar.
"Sayang." sapa balik Dave pada Valerie, yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi.
Vale kemudian langsung bergegas kearah Dave. Dan membantu melepaskan kancing baju sang suami yang masih ada beberapa yang belum terlepas.
Setelah semua kancing baju Dave sudah terlepas. Valerie kemudian malah memeluk dan mendekap tubuh Dave dengan erat dan penuh rasa sayang.
Dave pun hanya bisa diam tak berkutik jika sudah di kuasai oleh Vale seperti itu.
"Aku mencintaimu Dave. I Love You." ucap Vale sambil lebih mengeratkan pelukannya ke tubuh pria tampan itu.
"I Love You More Valerie." jawab Dave sambil membalas pelukan Vale dengan melingkarkan kedua tangannya ke tubuh mungil Vale.
"Jangan erat erat sayang, aku tidak bisa napas." proses Dave. Karena Vale begitu erat memeluk dirinya.
__ADS_1
Valerie kemudian terkekeh, lalu ia mengendurkan pelukannya.
"Aku merasa gemas dengan mu Dave. Selama hamil kamu terlihat begitu mengemaskan di mata ku." tutur Vale sambil menengadahkan wajahnya ke arah Dave.
Sambil menangkup wajah Valerie, Dave mencoba untuk menganalisa sikap sang istri yang terlihat begitu manja saat itu.
"Ya, aku bisa liat itu. Setiap malam bahkan kamu selalu nempel pada ku. Apa ada sesuatu di balik ke posesif an mu saat ini? tanya Dave ragu ragu.
"Kenapa kau malah tanyakan hal itu? tanya balik Valerie.
"Ya tidak ada apa apa sih. Aku hanya takut kamu sedang memendam sesuatu dan entahlah. Jika kamu sedang manja seperti ini. Aku merasa kamu sedang merasakan sesuatu."
"Aku mencintaimu Dave Enderson. Kau masih saja tidak percaya dengan ku." ucap Valerie yang kemudian ia melepaskan pelukannya yang tadi masih membelit pinggang Dave. Kemudian ia kini malah membelakangi Dave.
"Jangan marah sayang. Maaf kalau begitu, aku minta maaf. Aku yang salah." sergah Dave mengalah. Memiinta maaf pada sang istri yang rupanya kini sedang berubah ubah moodnya.
"Valerie, aku senang setiap kali kau bersikap manja dengan ku. Bahkan aku ingin kamu selalu manja dengan ku. Aku hanya takut kamu tidak bahagia."
"Kenapa kau selalu ketakutan jika aku tidak bahagia Dave."
"Karena kebahagiaan mu adalah tangung jawab ku. Aku hanya ingin kau bahagia bersama ku. Selama aku masih bernafas aku hanya ingin melihat mu bahagia. Aku tidak mau melihat mu sedih."
"Tentang umur, kita tidak akan tau kapan kita akan pergi. Entah itu kamu atau aku dulu an aku tidak tau. Tapi jika boleh meminta. Lebih baik aku pergi terlebih dahulu dari pada kamu pergi terlebih dahulu."
"Suttttttt." seketika jari jemari Valerie menyentuh bibir Dave yang ketika itu membahas tentang kematian.
"Kau ini bicara apa Dave. Kita akan hidup bersama sampai kita berdua menua. Jangan berkata-kata seperti itu. Itu hanya membuat aku takut. Kau tau sendirikan aku baru saja memulai hidup penuh kebahagiaan bersama mu. Tapi kau malah berkata-kata yang menakutkan seperti itu. Jika tidak bersama mu, pada siapa lagi aku akan bersandar. Hanya ada diri mu seorang pria yang benar-benar mencintai ku dengan tulus." ungkap Vale yang kemudian entah kenapa ia meneteskan air matanya.
"Loh, ko malah kamu menangis. Sudahlah, lupakan saja semua perkataan ku tadi. Anggap saja aku tidak berkata apapun. Maafkan aku sayang." Dave kemudian mendekap tubuh Valerie dengan erat kedalam pelukannya.
Dan Vale menyandarkan kepalanya ke dada telanjang sang suami yang bidang itu. Dengan perasan hati sedikit sedih. Karena mendengar kata kata Dave menyebutkan tentang perpisahan.
__ADS_1