
"Julian, sekarang aku sudah berada di Amerika. Aku baru saja mendarat dari pesawat. Dave kebetulan ada urusan di Amerika, dan aku sekalian ikut. Bisa berikan aku alamat rumah anak teman mu itu. Aku sengaja tidak memberitahu Elle jika aku akan datang. Karena aku ingin memberikan dia kejutan." ucap Vale lewat sambungan telepon pada Julian.
Julian kemudian memberikan alamat rumah Alden pada Andrea.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Tok.....Tok....
Valerie saat itu datang sendirian ke alamat rumah yang sudah Julian berikan.
Ia berdiri dengan sedikit gugup di depan pintu rumah yang bercat putih tersebut untuk bertemu dengan Elenor.
Vale sengaja tidak memberitahukan kedatangannya ke Amerika pada Elenor karena ia ingin memberikan kejutan pada putrinya.
Sesaat setelah ia mengetuk pintu beberapa kali. Pintu itu kini dibukakan oleh seseorang.
Tetapi yang membuka pintu itu bukanlah Elenor. Melainkan seorang pria dengan hanya mengenakan celana pendek dan juga tanpa mengenakan baju. Alias dia tengah bertelanjang dada.
Pandangan Valerie seketika membelalak kaget.
Alden berdiri di tengah tengah pintu dengan keadaan tubuh yang berpeluh dengan berkeringat.
Valerie menatap tajam ke arah Alden dengan pandangan tak bersahabat serta penuh dengan rasa curiga.
Tidak berhenti sampai di sana. Vale juga memperhatikan penampilan Alden dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Dan kini pikiran Valerie sudah bercabang ke mana mana.
"Selamat pagi, ingin bertemu dengan siapa?" Tanya Alden dengan nada sedikit ketus.
Alden merasa asing dengan seseorang yang mendatangi rumahnya.
"Apa ada elenor di dalam rumah ini?" tanya Vale ragu-ragu.
"Maaf anda ini siapa ya?" Tanya lagi Alden.
"Aku Valerie, Ibunya Elenor Valencia Alexander?" ucap Vale sengaja menyebutkan nama lengkap Elenor.
"Oh," ucap Alden yang kemudian ia langsung berubah sikap.
"Maaf tante, saya tidak tau kalau Tante ibunya Elle. Silahkan masuk Tante, Elle ada di dalam." ucap Alden kini bersikap ramah.
Valerie kemudian masuk ke dalam rumah dan menunggu di ruang tamu.
"Sebentar ya Tante. Aku akan panggilkan Elenor dulu." ucap Alden yang kemudian ia berlalu dari hadapan Valerie.
"Ada apa kak?" Tanya Elle, ketika ia membukakan pintu kamarnya yang tadi di ketuk oleh Alden.
"Di bawah ada seseorang yang ingin menemui mu. Kau pasti akan sangat terkejut." ujar Alden.
"Siapakah?" tanya Elenor penasaran.
"Turun dan lihat saja sendiri." jawab Alden yang kemudian ia berlalu dari hadapan Elenor.
__ADS_1
Elenor yang saat itu sudah bersiap untuk pergi kuliah pun kemudian menuruni anak tangga.
Ketika Elle baru saja menuruni anak tangga beberapa langkah. Pandangan mata Elenor kini membelalak kanget.
"Mommy!" pekik Elenor, ia merasa begitu surprise dengan kehadiran Mommy nya kala itu tidak ia duga.
Ibu dan anak itu pun kemudian saling berpelukan.
"Kenapa datang ke Amerika tidak bilang-bilang Mommy." protes Elle.
"Mommy sengaja tidak bilang-bilang terlebih dahulu. Mommy ingin buat kejutan untuk mu Elle."
"Mommy datang dengan siapa?"
"Mommy kesini dengan Uncle Dave. Kebetulan Uncle Dave sedang ada urusan di Amerika. Jadi Mommy sekalian ikut."
"Apa Mommy bawa Audrey?"
"Iya, tadinya aku pikir akan meningalkan Audrey. Tapi karena dia masih ASI Mommy jadi tidak tega. Jadi Mommy bawa dia.. Sekarang dia ada di hotel bersama Dave."
"Apa kau akan berangkat ke kampus?"
"Iya, tapi masih ada waktu untuk kita bisa mengobrol Mom."
Vale dan Elenor pun kemudian berbincang bincang ringan.
Mereka nampak saling melepaskan rasa rindu yang selama ini saling rasakan.
Valerie juga menanyakan tentang Pria yang tadi tidak mengenakan pakaian atasan. Elle kemudian menjelaskan pada Vale tentang Alden.
"Mommy jadi tidak tenang Elle kamu hanya berdua saja dengan dia. Mommy tidak kenal dengan kedua orang tua Alden dan Isabella. Meski Daddy mu kayanya begitu mengenal nya. Mommy khawatir Elle."
"Jangan kawatir Mommy. Elle bisa jaga diri, lagi pula tidak perlu kawatir dengan Alden. Dia tidak akan macam-macam."
"Semoga Bibik Ratih bisa cepat kembali ke Amerika dan bisa menemanimu."
"Iya, Elle Juga bisa lebih nyaman di rumah Elle sendiri Mommy."
Tak lama kemudian, karena Elenor harus pergi ke kampus. Vale kemudian pamit pada Alden.
"Terimakasih sudah mau menampung Elenor." ucap Vale pada Alden.
"Tidak masalah Tante."
"Untuk beberapa hari mungkin Elle akan tingal bersama ku di hotel. Jadi Elle tidak akan pulang ke kemari untuk beberapa hari."
"O, Oke" jawab Alden paham.
"Selamat berbahagia dengan Mommy mu Elle." ucap Alden.
"Thanks Kak. Mom, tempat kuliah Elle dekat dari sini. Bagaimana kalau kita jalan kaki saja untuk ke sana. Biar Mommy tau tempat kuliah ku." ucap Elle.
"Ide yang bagus. Ayo kita jalan kaki. Mommy akan ceritakan pengalaman Mommy dulu saat Mommy kuliah di Jerman." ujar Valerie.
__ADS_1
Mereka pun kemudian jalan kaki untuk menuju tempat kuliah Elle.
"So, ceritakan pada Elle. Bagaimana dulu Mommy kuliah di Jerman."
Valerie kemudian bercerita tentang pengalamannya berkuliah di Jerman.
Vale juga bercerita tentang bagaimana dirinya saat itu berkuliah dengan menahan rasa rindu pada Elle, yang saat itu masih bayi.
Flashback on :
Munich adalah ibu kota negara bagian Bavaria yang merupakan salah satu kota terbesar ke tiga di Jerman setelah Berlin dan Hamburg.
Bavaria sendiri merupakan salah satu wilayah yang mencakup 16 negara bagian yang terletak di Jerman tenggara.
Kota Munich berbatasan langsung dengan negara Austria, Swiss dan juga republik Ceko. Dan sebagian kota Bavaria di kelilingi oleh pegunungan Alpen.
Technical university of Munich adalah universitas yang kini menjadi tempat Valerie melanjutkan studi pendidikan kuliahnya untuk mendapatkan gelar S1 lewat beasiswa yang ia dapat.
Tidak hanya sekedar berkuliah di Jerman, tapi Valerie juga bekerja paruh waktu di sebuah toko minuman yang tak jauh dari tempat nya ia berkuliah.
Pernah bekerja di sebuah clup sebagai bartender. Memudahkan Vale untuk melamar pekerjaan. Sebuah pekerjaan sampingan yang sangat berarti untuk dirinya. Sebagai tambahan biaya hidup selama ia berada di Jerman.
Membagi waktu antara bekerja dan belajar sudah menjadi hal yang biasa bagi Valerie.
Sebelum ini, Vale juga sudah membagi waktu antara kuliah dan juga bekerja saat masih berada di Indonesia.
Vale tinggal di sebuah rumah kost yang tak jauh dari tempat ia berkuliah.
Di rumah itulah, Vale menghabiskan waktunya untuk belajar dan juga beristirahat dari segala aktivitasnya sebagai seorang mahasiswi dan juga sebagai pelayan toko minuman.
Kebiasaan yang di lakukan Vale, di saat ia merindukan baby Elenor adalah dengan menulis.
Vale mempunyai satu buah buku khusus yang diperuntukkan untuk ia bisa mencurahkan segala isi hatinya lewat tulisan di saat dia merasakan kerinduan yang teramat dalam kepada baby Elenor.
Di buku itu, Vale biasanya menuliskan tentang berbagai rasa dan perasaan yang ia rasakan kepada putrinya.
Dan malam itu, Vale yang tengah berada di kamarnya sedang dilanda rasa rindu berat terhadap baby Elenor.
Vale pun kemudian menuliskan sebuah kata-kata sebagai pelipur lara untuk mengobati kerinduannya terhadap baby Elenor.
Sambil menulis kata-kata yang ingin ia tuang ke dalam sebuah buku.
Valerie melihat gambar-gambar baby Elenor yang tersimpan di memory ponselnya. Yang kala itu dia banyak memotret Elenor saat masih bersamanya.
"Hai Elenor, Mommy sangat merindukanmu. Mommy selalu berdoa untukmu, agar kau selalu sehat dan menjadi seorang anak yang selalu ceria dan juga bahagia. Mommy sangat merindukanmu, Mommy berharap kau baik-baik disana. Setiap malam, bibir Mommy, tidak pernah lupa untuk mendoakan kamu sayang. Mommy masih berjuang saat ini. Berjuang untuk membuat hidup Mommy bisa lebih baik kedepannya. Saat Mommy sudah mapan nanti, Mommy akan datang di hadapan mu dan kau pasti akan paham, kenapa Mommy harus menitipkan mu pada Daddy mu. Salam hangat dan pelukan cium untuk mu sayang, selamat malam." salam sayang dari Mommy Vale.
Flashback off :
"Dan, Mommy masih menyimpan buku diary khusus untuk menuliskan rasa rindu Mommy pada mu dulu."
"Oya."
"Buku nya ada di rumah kecil Mommy. Nanti Mommy kan tunjukkan pada mu."
__ADS_1
"Terimakasih sudah begitu mencintai ku Mom." ucap Elenor sambil tersenyum manis pada ibunya itu.