
Pagi itu Dave dan Valerie sedang menikmati sarapan bersama di ruang makan.
Semenjak ada Vale di Mansion. Ruang makan di Mansion itu seperti telah berfungsi kembali sebagai mana mestinya.
Pasalnya, selama ini Dave jarang sekali sarapan pagi di rumah. Ia biasanya bersarapan di kantor atau di restoran restoran yang menyajikan menu sarapan.
"Dave, hari ini setelah pulang bekerja. Aku berniat untuk menjemput Elle di Mansion Julian. Jadi aku minta izin untuk menjemput putri ku." ucap Valerie pada suaminya yang tengah menikmati sarapannya.
"Kapan Elenor pulang liburan dari Itali." tanya Dave.
"Dia pulang kemarin. Julian mengirimkan pesan untuk ku tadi pagi. Jika Elle ingin bersama ku, aku juga sudah sangat rindu dengannya."
"Kalau begitu aku akan menjemputmu nanti sore. Dan kita jemput Elenor bersama-sama."
"Aku tidak ingin merepotkan mu Dave. Aku akan jemput Elle bersama sopir."
"Aku yang akan jadi sopir mu kalau begitu." ucap Dave lagi, sambil mengembangkan senyumnya.
Jika suaminya itu sudah membuat suatu keputusan. Valerie rasanya tidak bisa lagi untuk mengubahnya.
"Terserah kamu Dave." pungkas Valerie, kemudian ia kembali menyelesaikan sarapannya.
Dave yang saat itu sedang menikmati sarapannya. Sesekali mencuri pandang ke arah Valerie. Meskipun Vale telah menjadi istrinya.Pesona Valerie sungguh membuat Dave terkesima.
Bayangan bayangan penyatuan yang sering ia lakukan bersama Valerie terkadang masih berputar putar di otaknya.
Mungkin orang akan menyebutnya gila karena mencintai Valerie.
Perasaan mencintai pada perempuan satu anak itu begitu besar di miliki oleh Dave.
Selama berada di kantor pun, Dave selalu terbayang-bayang wajah sang istri. Apa lagi saat ia melihat tubuh polos mulus berisi Vale. Sungguh membuat Dave tidak bisa melupakan semua moment yang sudah ia lalui bersama dengan wanita seksi itu.
Valerie sungguh membuat Dave selalu ingin berada di dekatnya.
"Kau sungguh cantik Valerie." puji Dave dengan suara lirik dan terdengar mengoda.
Mendengar itu, Vale kemudian menoleh ke arah Dave dan tersenyum.
"Thanks My husband, kau juga tampan." balas Vale.
__ADS_1
Merasa sangat gemas dengan istrinya. Dave berinsut dari tempat duduknya dan kemudian melabuhkan ciuman ke bibir ranum Valerie.
"Dave, aku masih makan." ptotes Vale.
"Aku tidak peduli, aku akan mencium mu kapanpun aku mau." ujar Dave yang kini telah kembali duduk di kursinya dengan tersenyum puas.
Valerie hanya bisa menggelengkan kepalanya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Mommy!" seru Elenor memangil Valerie sesaat setelah ia turun dari tangga rumahnya bersama Daddy-nya Julian.
Saat itu Vale dan Dave duduk di sebuah sofa pajang di ruang tamu di Mansion.
"Elle," sapa Valerie, yang kemudian ia berdiri sambil membuka kedua tangannya lebar lebar, menyambut kedatangan Elenor yang hendak memeluknya.
"I Miss You Mom." seru Elenor sambil memeluk Vale dengan begitu erat.
Ibu dan anak itu terpisah kurang lebih tiga minggu lamanya. Elenor saat itu sedang menikmati liburan bersama dengan Julian serta Jenna ke Italia.
"Mommy juga merindukan mu Elle. Sudah siap untuk tinggal bersama Mommy."
"Apa kabar Valerie, Dave." Sapa Julian pada pasangan suami-istri yang ada di depannya. Julian menatap wajah Vale dan Dave bergantian.
"Baik Julian." jawab Vale.
"Sangat baik Julian." Dave pun ikut menyahut.
"Syukurlah."
"Bagaimana kabar Jenna dan Louis." tanya Vale.
"Louis sedang sedikit tidak enak badan. Jenna menitipkan salah untuk mu." ucap Julian menatap wajah Vale dengan senyum yang merekah.
"Salam untuk Jenna, dan salam juga untuk Louis. Semoga cepat sembuh." ucap Valerie tulus.
"Terimakasih Valerie."
"Kalau begitu, kami pamit Julian." ucap Dave pamitan, ia tidak ingin berlama-lama berada Mansion Julian.
__ADS_1
Melihat istri dan mantan suaminya berhadap hadapan membuat Dave tidak suka.
Setelah mereka pamitan, Julian kemudian mengantarkan mereka sampai ke teras rumahnya.
"Bye Daddy." sapa Elle ketika ia sudah berada di dalam mobil, yang akan di kendarai oleh Dave.
"Bye Elenor, Be Happy With Your Mom." sahut Julian pada putrinya, sambil melambaikan tangannya.
Tidak ingin berlama-lama, Dave langsung mengemudikan mobilnya untuk segera meninggalkan Mansion Julian.
"Bagaimana liburan nya ke Itali Elle, menyenangkan?" tanya Vale yang ketika itu duduk bersama Elenor di kursi bagian belakang.
"Menyenangkan Mommy, Elle, Daddy, Mama Jenna dan Louis pergi ke sebuah pedesaan kuno di Itali. Elle suka dengan tempat-tempat seperti itu."
"Lain kali Uncle juga akan mengajak Elenor liburan. Kita bertiga bisa jalan-jalan bersama. Elle yang tentukan mau kemana." sahut Dave yang saat itu sedang menyetir.
"Iya Uncle, ide yang bagus." sahut Elle.
Sejauh ini, Elle masih memangil Dave dengan sebutan Uncle.
Baik Vale dan Dave sebenarnya sudah menyarankan pada Elle untuk memanggil Dave dengan sebutan Daddy.
Tapi sepertinya, Elle belum nyaman memangil Dave Daddy.
Hal itu pun di maklumi oleh Dave. Ia tidak ingin memaksa Elenor untuk memangilnya Daddy.
Meskipun sebenarnya, ia sangat ingin di pangil Daddy oleh Elenor.
Melihat Julian telah memiliki seorang putra dan putri membuat Dave cemburu. Ia juga ingin memiliki keturunan. Tapi apakah ia bisa memiliki keturunan dengan Vale.
Perceraiannya dengan sang istri dulu juga karena ia dan sang istri tidak kunjung di berikan momongan.
Hal itu membuat hubungan Dave dan sangat istri sering cekcok dan akhirnya mereka memiliki untuk berpisah.
Dan kini bagi Dave, kehadiran seorang anak sepertinya memberikan persepsi berbeda daripada sebelumnya. Jika sebelumnya Ia berpikir tidak punya anak adalah suatu hal yang tidak perlu di masalahkan.
Kini, ketika ia melihat Julian terlihat akrab dengan kedua anaknya. Membuat Dave memiliki persepsi lain tentang seorang anak.
Dan hal itu cukup membuat Dave, sedikit merasa dilema.
__ADS_1
Meski ia tahu, Valerie sangat berbeda dengan mantan istrinya. Dari segi pola pikir.